Demi Hiu

???????????????????????????????

Entah, hasrat apa yang mendorong manusia-manusia ini menyeburkan diri ke dalam kolam penangkaran hiu. Menantang adrenalin? Membuktikan bahwa tak semua hiu itu ganas? Ingin gagah berani laiknya di film? Demi seuntai foto untuk ditunjukkan ke khalayak bahwa penaklukan ketakutan pada hiu usai sudah? Demi apa? Demi hiu, mungkin? Ah, benarkah?

 

Di buku Travelicious Lombok, saya ungkapkan ketakutan saya pada anjing liar di Sembalun Lawang. Anjing yang gampang menggonggong dengan sorot mata tajam. Ini terkait pengalaman masa kecil yang kurang menyenangkan terkait anjing. Saya menjinjing buah kelapa dari sawah menuju jalan kampung, untuk diangkut dengan cikar ke rumah. Beberapa rumah di kampung itu dihuni oleh warga Hindu yang memelihara banyak anjing. Walhasil, bolak-balik di depan rumah mereka, saya mengeratkan genggaman pada tangkai buah kelapa dan jalan melipir pelan-pelan. Biar para anjing itu tidak merasa terancam lantas menyalak membuyarkan segenggam keberanian di hati saya yang masih hijau.

Memori galaknya anjing pada masa kecil sama menakutkannya dengan ganasnya hiu di film Deep Blue Sea garapan Renny Harlinyang saya tonton sewaktu menginjak remaja. Belum lagi visualisasi kartun berupa sirip hiu yang menyembul di permukaan air laut dan bergerak mengitari perahu kayu. Bikin deg-degan!

Dan, itu terekam kuat di benak hingga saya berhadapan langsung dengan sekumpulan hiu di Pulau Menjangan Besar, Karimunjawa pada sore 19 Mei 2013. Hiu-hiu tersebut ditangkarkan di kolam berukuran sekitar 10×15 meter. Penangkarnya seorang warga peranakan Tionghoa bernama Cunmin.

Pengunjung ramai. Mereka berdiri di tepi kolam yang terbuat dari bilah-bilah papan. Ada yang memotret kawannya yang sedang menceburkan diri ke kolam hiu. Ada pula yang cuma duduk-duduk menyaksikan hiu-hiu jenis sirip putih dan sirip hitam yang berotasi dengan tenang. Beragam ekspresi tampak di muka mereka. Antara deg-degan, senang, juga bergidik ngeri. Padahal, 29 ekor hiu yang ada di penangkaran tersebut jinak.

???????????????????????????????

Saya dan empat teman. Tak ada seorang pun yang berani turun ke kolam berkedalaman sekitar 1,5 meter itu. Masing-masing tentu menyimpan memori atas citra keganasan hiu selama ini. Melihat beberapa orang yang berani turun, bahkan sengaja snorkeling di situ, ada perasaan iri yang menyelinap. Namun, tarik-ulur rasa itu berlangsung sampai kami benar-benar tidak turun. Padahal petugas penangkar di situ bolak-balik menantang pengunjung untuk ikut menyeburkan diri. Main bersama hiu dengan modal tenang, tak panik, tak banyak bikin gerakan dalam air. Tapi, hanya beberapa saja yang menyambut tantangan itu. Tantangan yang harus ditebus Rp10.000,00 per orang. Biaya yang tentu dipakai untuk membeli pakan hiu-hiu itu.

Bagi saya, petualangan hari itu terasa ada yang kurang. Adrenalin ini tidak terpompa secara maksimal. Saya merutuki diri. Keberanian saya kembang kempis. Imaji hiu yang ganas masih melekat kuat. Kendati hiu-hiu di depan saya tersebut dibilang jinak. Kian bergidiklah saya kala mengunggah foto di Facebook dan mendapat komentar dari seorang teman, “Kak, 1 bulan yang lalu ada bule swedish ilang 3 jari loh dimakan hiu!” Di mana? Konteks foto dan komentar masih di Karimun Jawa. Ya, hiu-hiu di depan saya ini!

428085_10151608292044304_1373350380_n

 

Pengetahuan mematahkan mitos

Pengetahuan salah satunya memang untuk mematahkan mitos. Mitos yang diturunkan secara turun-temurun melalui lisan atau direproduksi secara visual. Dan, tak ada penjelasan memadai tentang itu kecuali Anda menelusurinya melalui Google saat ini atau menyaksikan tayangan ilmiah nan mendidik di saluran tv kabel, seperti Discovery Channel atau National Geographic. Keganasan hiu, salah satunya. Padahal tidak semua jenis hiu begitu. Dari 200 lebih spesies ikan hiu, 10-15 jenis yang dinilai agresif dan berpotensi menyerang manusia, seperti: hiu putih besar, hiu harimau, dan hiu banteng. Jadi, bisa disimpulkan kalau selama ini telah terjadi  generalisasi yang menyesatkan.

Selain itu, kala membaca harian Surya beberapa waktu lalu tentang praktek penangkapan hiu oleh para nelayan di Banyuwangi, saya antara takjub, geram, bergidik, juga meringis. Mereka menangkap hiu untuk diambil siripnya. Sirip hiu dimakan dengan landasan percaya bahwa ia bisa membikin awet muda karena protein dan kolagennya tinggi. Padahal menurut Erikar Lebang, praktisi kesehatan yang juga dikenal sebagai pakar food combining, sebagaimana dikutip dari Antara, cara memasak sirip dan daging ikan hiu itu dengan panas yang tinggi dan waktu yang lama maka kemungkinan besar proteinnya sudah hilang. Bahkan, ia mengungkapkan, untuk membuat tampilannya lebih menarik, sirip hiu sering ditambahkan Hidrogen Peroksida yang dapat meningkatkan radikal bebas dan berbahaya bagi tubuh manusia.

Di laman yang sama, Direktur WWF Indonesia, Enfarnsjah, mengatakan, “Sup sirip hiu dianggap sangat menyehatkan itu ternyata mitos dari zaman Dinasti Ming karena para kaisar atau raja sering memakan itu sehingga dianggap sebagai “Chinese Delicacy Luxurious Item” (makanan Cina yang lezat dan mewah).” Mitos tentang kekayaan, kekuasaan, dan gengsi turut melumuri kesalahkaprahan masyarakat modern mengenai produk makanan dari hiu.

Dan, data yang dirilis oleh TRAFFIC, aliansi antara WWF dan International Union for Conservation of Nature (IUCN), menyebutkan bahwa Indonesia dan India berada di urutan teratas negara-negara yang menyuplai perdagangan daging atau bagian-bagian tubuh hiu.

Ya. Ketika di benak kanak-kanak saya tertanam keganasan hiu, ternyata manusia Indonesia jauh lebih ganas dari hiu.

???????????????????????????????

Jauh di lubuk hati saya, saya bisa refleksikan perasaan orang-orang yang menyeburkan diri ke kolam hiu itu. Bisa jadi mereka sedang berusaha melumat rasa takut pada hiu dengan cara itu. Bisa pula mereka sedang mencoba mematahkan mitos keganasan hiu. Bisa pula terselip rasa kebanggaan karena berhasil melakukan penaklukan, entah menaklukkan diri, entah menaklukkan hiu.

Penaklukan. Salah satu sifat dasar manusia. Ketika itu diejawantahkan melalui penjelajahan yang tidak dilumuri kesadaran konservasi lingkungan, maka penjelajahan itu pun akan berujung pada penjajahan.

Sisipan ‘el’ dibuang!

 

Iklan

6 thoughts on “Demi Hiu

  1. apa arti jinak pada seekor hiu? Apakah ia cuek saja dengan keberadaan manusia seperti halnya ikan2 lain? Atau kalau manusia itu mengganggu maka ia bakal menggigit? Atau kalau bau darah ia akan mencari sumber darahnya – seperti yang kita ketahui selama ini? Di tulisan dikatakan kolam berkedalaman 2 meter, tetapi di foto tampak orang nyemplung dengan santainya – tampaknya ia tidak sedang berenang.

  2. Mau gimana juga masih agak ngeri itu, berenang sama hiu 😀 Kelihatannya sih jinak ya, tapi namanya hewan instingya yang di pakai bukan akal. Yang penting tetep waspada aja kalau renang sama hiu. Aku sih pikir – pikir dulu hehee 😀

    • Hehehe… iya, mas. Perlu pembiasaan dan mengenali speaiesnya dulu. Asal nyebur tanpa bekal info yang cukup dan keberanian serta perhitungan matang, ya… siapa yang tahu akan terjadi apa.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

WPExplorer.

%d blogger menyukai ini: