Pejuang Literasi dari Prawira

Semua Orang Adalah Guru, Alam Raya Adalah Sekolah

Tulisan dari cat merah itu terkuaskan di dinding luar kamar mandi. Tepat di belakang Sekolah Alam Anak Negeri yang didirikan oleh Nursyda Syam bersama suaminya, Lalu Badrul. Saya tertegun membacanya. Menghayatinya pelan-pelan.

Saya ingat, kalimat itulah yang meluncur dari bibirnya saat diliput Kick Andy! On Location. Kalimat yang kemudian dikutip oleh beberapa teman saya dan dijadikan status di media sosial.

Ketika ditayangkan pada Jumat, 7 Februari 2014, itulah kali pertama saya ‘melihat’ Kak Ida – panggilan saya padanya – dalam visual bergerak. Saya kian memantapkan hati, saya harus bertemu dengannya suatu saat. Bertemu untuk meraup limpahan inspirasi darinya.

Kesempatan itu datang saat saya pulang ke Lombok jelang akhir Februari lalu. Pada Kamis pagi, 27 Februari 2014, saya diantar kakak dari Mataram menuju kediaman Kak Ida. Terletak di Dusun Prawira, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, kami butuh waktu sekitar setengah jam lebih. Melewati kelokan jalan di hutan Pusuk dengan monyet di kiri kanannya.

Kami tiba di depan bangunan setengah terbuka. Dindingnya setengah disemen dan setengahnya lagi terbuat dari susunan bilah bambu. Lantainya masih kasar. Sebuah karpet plastik warna merah muda dengan motif kotak kuning serta dua buah tikar plastik dominan hijau tergelar. Di pojok kiri ada rak kayu dengan buku dan majalah terpampang. Di sampingnya ada meja rotan dengan tumpukan meja belajar kayu. Papan putih tergantung di tengah dengan wastafel biru tak jauh darinya.

“Bu Nursyda ada?” tanya saya pada seorang ibu muda yang menjaga binatudi samping sekolah alam.

Perempuan itu pun segera ke belakang. Sembari menunggu, saya melihat-lihat kondisi sekolah alam. Tak berapa lama, muncullah sosok perempuan berjilbab hijau toska. Wajahnya ramah. Senyumnya lebar. Sapannya hangat. Kak Ida yang acap menulis status-status yang mengademkan hati itu pun kini berdiri di hadapan saya.

“Akhirnya kita ketemu, Kak.”

Saya yang justru merasa senang bisa berjumpa dengan kakak perempuan yang mengilhami ini. Saya yakin akan dapat banyak agihan (sharing) ilmu dan pengalaman bermanfaat darinya. Itulah motor penggerak saya untuk mengunjunginya di kala padatnya jadwal saya di Lombok.

???????????????????????????????

Obrolan yang diselingi makan siang dengan hidangan sederhana nan lezat. (Foto: dok. pribadi)

Ia pun memanggil suaminya, Lalu Badrul Islam, untuk menemani saya berbincang karena ia ada urusan di belakang. Kak Badrul, demikian saya akrabkan diri padanya, pun menuturkan sepak terjang Kak Ida dalam merintis Klub Baca Perempuan dan Sekolah Alam Anak Negeri.

Kak Ida memulai kiprahnya dengan mendirikan Klub Baca Perempuan pada pertengahan 2006 di Selong, Lombok Timur. Dengan modal koleksi bukunya, ia mengajak para ibu rumah tangga untuk bergiat membaca. Ketika kembali ke kampung halamannya di Desa Sokong, Lombok Utara, pada 2007, ia pun memboyong buku-bukunya. Ia tergerak untuk pulang ‘sebentar’ karena ingin berkontribusi pada masyarakat desanya melalui pendidikan anak dan gerakan kampanye membaca. Suaminya pun mendukung.

Kak Ida merintis kampanye gemar membaca dengan meletakkan rak buku di depan kios binatu yang sekaligus rumah kontrakannya. Siapa pun boleh membacanya. Bahkan, ia kerap mendatangi para ibu dari rumah ke rumah untuk memilih bacaan sesuai selera masing-masing. Tak jarang pula Kak Ida merekomendasikan buku pilihannya pada mereka. Sebab, Kak Ida ingin agar buku-buku yang telah ia dan ibu-ibu itu baca, bisa didiskusikan, saling tukar pendapat.

Namun, niat baik memang tidak selalu berjalan mulus. Onak dan duri pun ia temui pada masa awal kampanye gemar membaca ini. Ia dapat omongan miring, dicurigai memiliki maksud politis. Tapi, hal itu tak membuat Kak Ida padam semangat. Ia malah kian terpacu untuk mematahkan pandangan yang tak benar itu.

Ia terus aktif bergerak. Tak bosan mengajak kaum perempuan doyan membaca. Sebab, ia meyakini bahwa generasi cerdas dilahirkan oleh para ibu yang juga cerdas.

“Bagaimana mungkin anak-anak mendapat jawaban yang memuaskan dari tiap pertanyaan mereka kalau ibunya tidak memiliki pengetahuan yang luas dan pemahaman yang dalam?” ungkap perempuan kelahiran 17 Agustus 1979 itu setelah kembali gabung mengobrol.

Pada tahun 2012, ia mulai membangun sekolah luar ruangan, tak jauh dari taman bacaan. Sekolah ini ditujukan bagi anak-anak di desanya. Awalnya anggotanya 13 anak. Mereka belajar di bale-bale belakang rumah yang berukuran 2×3 meter.

???????????????????????????????

Sekolah alam dari tampak belakang. (Foto: dok. pribadi)

Di sekolah luar ruangan itu, mereka belajar untuk mencintai lingkungan, sejarah, juga tanggap bencana alam. Pembelajaran selalu disesuaikan dengan konteks lokal. Mereka belajar menanam cabe, membuat kue, membikin kamera lubang jarum, menari, memainkan alat musik tradisional, belajar di museum desa, juga tanggap bencana alam.

Khusus poin terakhir, Lombok Utara memang rentan bencana alam. Hampir tiap musim hujan terjadi tanah longsor. Selain itu, beberapa kali juga terjadi gempa bumi. Anak-anak pun diajarkan untuk responsif terhadap bencana itu. Jiwa sosial mereka pun diasah dengan ajakan menyumbang pada korban.

Ada pula kelas layar tancap. Anak-anak menonton bareng film-film yang memiliki daya gugah untuk terus maju, semisal Laskar Pelangi.

Mereka belajar pada sore hari. Kadang, jika cuaca bagus, mereka mulai belajar pada pukul 2 atau 3 siang.

Anak-anak itu pun memiliki latar belakang agama dan profesi orangtua yang beragam. Ada anak nelayan, anak PNS, anak anggota DPR, anak buruh migran, dan sebagainya. Mereka dari keluarga Muslim, Hindu, juga Buddha. Keberagaman itu dijadikan wadah untuk belajar bertoleransi. Menanamkan saling sayang satu sama lain. Sebab, Desa Sokong, sepenuturan Kak Ida, memang riskan konflik sosial dan sektarian.

Dari semua itu, Kak Ida ingin menanamkan keyakinan pada anak-anak bahwa semua orang adalah guru dan alam raya adalah sekolah. Bahkan, ia menolak menyebut relawan pendamping di Sekolah Alam Anak Negeri sebagai guru. Sebab, ia percaya bahwa anak-anak pun sejatinya adalah guru. Ada banyak hal yang bisa digali dari anak-anak dan orang tua bisa belajar dari situ.

Upaya meyakinkan masyarakat lewat klub baca dan sekolah alam itu pun membuahkan hasil. Kini, telah berdiri 12 taman bacaan dengan koleksi buku mencapai 7.000 serta 3 sekolah alam dengan ratusan anggota dan murid. Anggota dan muridnya tidak hanya perempuan, tapi juga laki-laki, mulai dari anak-anak, remaja, hingga kalangan bapak. Mereka ada yang berprofesi sebagai pedagang sayur, satpam, karyawan toko dan hotel, juga aparat desa.

Bahkan, saat kami asyik berbincang, satpam sebuah bank bernama Ketut Widiantara, bolak-balik meminjam dan mengembalikan buku dari rak. Ia bergabung sebagai anggota klub baca sejak Desember 2012. Dua bulan pertama sebagai anggota saja, ia telah menamatkan setidaknya 50 judul buku.

Selain itu, ada tujuh kawan pendamping bagi hampir seratus sahabat cilik, sebutan bagi anak-anak yang bergabung di sekolah alam. Mereka tersebar di tiga dusun, yakni Lendang Galuh, Jambianom, dan Prawira. Dusun-dusun lain pun sedang mengantre untuk dibuatkan sekolah alam.

???????????????????????????????

Kak Ida bertutur banyak terkait Klub Baca Perempuan dan Sekolah Alam Anak Negeri. (Foto: dok. pribadi)

“Kawan-kawan pendamping datang sendiri. Mereka ada yang jadi penyiar radio, istri kepala desa, juga pengajar. Tidak ada imbalan materi. Kak Ida hanya menjanjikan bahwa ini langkah yang baik, harus dimulai dari diri sendiri dan bisa dilakukan bersama-sama.”

Kak Ida juga merangkul ibu-ibu rumah tangga dalam tiap kegiatan, demi perbaikan ekonomi keluarga. Misalnya, bikin kerajinan dari kain flanel atau usaha pisang sale.

Kesabaran dan keikhlasan adalah modal Kak Ida dalam menjalani kegiatan sosial ini. Ia pun tak segan melibatkan para pelanggan binatunya untuk peduli taman bacaan. Caranya dengan memberi jaminan bahwa dari 10 kg binatu, 1 kg bayarannya disumbangkan untuk taman bacaan. Para pelanggan itu pun senang.

“Ketika kita membantu orang lain, Tuhan akan membantu kita. Dan Kak Ida berkali-kali membuktikan, janji Tuhan tidak pernah ingkar,” ucap ibu dari Baiq Keisha Tiana Rosalba dan Lalu Arai Lintang Hirata itu.

Salah satu bukti itu adalah ruang sekolah alam tempat kami asyik duduk berbincang ini. Ruangan ini adalah pinjaman dari sahabat Kak Ida saat sekolah yang lama diambil alih oleh pemiliknya. Kak Ida sempat bersedih, tapi lekas berganti bahagia oleh aliran kebaikan dari sang sahabat.

???????????????????????????????

Kami meninjau lokasi sekolah alam Dusun Prawira yang pada Februari lalu masih dalam proses pembangunan. (Foto: dok. pribadi)

10317734_552281758225111_4436934089450667019_o

Para sahabat cilik berpose di sekolah alam Anak Negeri, Dusun Prawira, yang telah kelar dibangun akhir April ini. (Foto: Nursyda Syam)

Bukti lain, sebuah keluarga penerbang dari Jakarta bersedia meminjamkan tanahnya untuk dibangun sekolah alam Dusun Prawira. Saya sempat melihat dari dekat sekolah alam yang sedang dalam proses pembangunan itu. Dana pembangunan sanggar diperoleh dari berbagai pihak, termasuk donatur dari Singapura. Bahkan, seorang manajer sebuah hotel bintang lima di Lombok Utara yang berkunjung bersama kami saat itu pun bersedia membantu pembangunan jalan semen, dari jalan raya menuju sanggar. Ia pun menggagas agar hasil kerajinan anak-anak Sekolah Alam Anak Negeri dipamerkan sekaligus dititip jual di lobi hotel.

???????????????????????????????

Kak Ida dan Kak Badrul di lokasi sekolah alam Dusun Prawira. (Foto: dok. pribadi)

Berkali-kali saya saksikan wajah sumringah dan ucapan syukur terlontar dari bibir Kak Ida. Energi positif dari mantan wartawati ini saya rasakan betul menulari saya.

Meski ia mengaku apa yang dilakukannya masih sedikit, namun semangat dan tekadnya yang sekuat baja telah banyak berbuah apresiasi. Dua tahun berturut-turut ini ia mendapatkan anugerah, antara lain nominator SK Trimurti Award (2013), Anugrah Jasadarma Pustaloka (2013), Perempuan She Can! (2013), nominator penerima nobel perdamaian di Jejaring Asia (2013), nominator Kick Andy! Heroes (2014), Penghargaan Kabupaten Lombok Utara bidang pengabdian masyarakat “Bintang Gendurasa Paerdaya” (2014), dan Indihome Woman Educator Awards (2014).

10255050_552255228227764_6986373018643384634_o

Kak Ida berpose dengan Christine Hakim di malam penganugerahan Indihome Women Awards 2014 di Jakarta. (Foto: Nursyda Syam)

Apa yang diperbuat Kak Ida memang telah mendapat banyak publikasi. Namun, ia tak mau terlena dengan itu semua. Refleksi itu pun ia tuliskan di status Facebook-nya pada 15 April lalu.

“Bekerjalah dalam sunyi. Tak perlu dielu-elukan karena sejatinya itu melenakan. Jangan pernah menyertakan harapan akan imbal balasan. Cukup percayakan pada Allah dan biarkan IA yang mengkalkulasikan. Tuhan tak pernah salah dalam berhitung. Balasannya sungguh adil dan IA tak sedikit pun ingkar atas apa yang IA janjikan. Allah besertamu selalu, asal kau tak bergeser dari niat baik itu. Yakin! Dan bawalah nama Allah SWT selalu!”

???????????????????????????????

Saya dan sang perempuan penyemai aksara, Nursyda Syam. (Foto: dok. pribadi)

 

Iklan

11 thoughts on “Pejuang Literasi dari Prawira

  1. alhamdulillah..kami akhirnya bisa mengunjungi mbak Ida dengan menyumbangkan 500 buku dari Alumni STAN-IKANAS STAN. dan kami juga sempat bermain sambil belajar bersama anak-anak di sana…seneng melihat keceriaan mereka…. suatu keberuntungan bagi saya bisa bertemu mbak IDA yang penuh inspirasi….

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s