Merawat Kenangan di Perjalanan

61546_441564239303_5796931_n

Perjalanan ke Tete Batu tahun 2010 dengan membawa notes dan menyicil ingatan

Membaca buku Flying Traveler karya Junanto Herdiawan, saya tergelitik cara para penulis kisah perjalanan merawat kenangan mereka selama di jalanan. Apakah dengan rajin mencatat di notes, obrolan dengan orang direkam dengan alat perekam, cukup memotret kemudian riset, atau modal ingatan saja untuk kemudian rekonstruksi adegan lewat tulisan? Saya simpan rasa ingin tahu itu untuk disampaikan pada acara bedah buku hari Minggu lusa di Oost Cafe.

Saya pun bertanya pada Trinity, penulis serial The Naked Traveler. Lewat Direct Message, ia membalas, “Mostly modal ingatan, karena nggak semua tempat bisa ditulis karena gue kan nulis tentang journey bukan destination. Tapi untuk ingat-ingat pakai foto asal jepret.”

Lain lagi Agustinus Wibowo. Melalui penelusuran di jagad maya, saya temukan informasi kalau penulis Selimut Debu, Garis Batas, dan Titik Nol ini tidak mau membawa laptop saat dalam perjalanan. Tapi, ia selalu membawa kamera, kamera video, perekam suara, dan buku harian ke mana pun ia pergi.

Ia berucap, “Setiap hari saya menulis, bisa sampai lima dan enam halaman. Kadang, seharian saya sibuk motret dan tidak menulis, jadi tergantung kondisi juga.”

Kamera dan perekam suara jadi senjata andalan Agustinus untuk memecah kebekuan dengan orang yang baru ia kenal. Biasanya, dia memotret orang lokal atau merekam suara mereka untuk diperlihatkan kembali. Sebab, umumnya semua orang senang difoto atau direkam suaranya.

Begitu pula Gol A Gong. Sepanjang membaca TE-WE (Travel Writer), saya mengetahui kalau Gol A Gong selalu mencatat detail yang ia temui di perjalanan. Apalagi ia seorang jurnalis yang bekerja untuk majalah. Mencatat informasi tentu sebuah keharusan.

Tidak itu saja, petikan kalimat bertenaga yang tiba-tiba melintas di kepala ia abadikan lewat tulisan tangan. Buahnya bisa berwujud puisi, kutipan, atau mungkin adagium.
Ia bahkan gemar menulis catatan harian dan mengirimkannya ke rumah. Setelah ia kumpulkan, ternyata jumlah buku hariannya berkarung-karung. Itulah modalnya menulis novel serialnya yang terkenal di masanya, Balada Si Roy.

Paul Salopek punya peralatan yang lebih beragam dalam misi Out of Eden Walk. Jurnalis yang dua kali memenangkan Pulitzer Prize ini membawa bloknot, pulpen, kamera, perekam suara, alat GPS, telepon satelit, dan Macbook Air dalam misi jalan kaki sepanjang 33.796 km dari Ethiopia di Benua Afrika hingga Patagonia di Amerika Selatan. Katanya, “Everything else can be lost in a river with a tolerable degree of anguish. But not the tools.” Semua bisa saja lenyap di sungai meski ia masih bisa menoleransinya, tapi tidak demikian kalau ia kehilangan benda-benda itu.

Dengan semua peralatan itu, ia berkeinginan untuk berhenti sejenak tiap 161 km dan merekam enam hal: suara atmosfer, foto bumi, foto langit, panorama sekitar, semenit dua menit video, dan wawancara. Memang terlihat seperti pendekatan seorang ilmuwan dalam riset.

Saya jadi ingat pesan seorang editor di penerbit yang meminta saya menulis buku tentang Lombok. Saya benar-benar dituntun dari nol. Saya diminta untuk membawa notes dan kamera dalam perjalanan. Dan, petuahnya pun saya jalankan. Sepanjang jalan, saya mencatat di hp Nokia 6020 saya. Apa pun itu. Bau-bauan yang mampir di hidung, detail infomasi, ucapan orang, suara-suara, dan seterusnya. Selebihnya saya memakai kamera untuk mengekalkan ingatan. Lantas, ketika di penginapan pada malam harinya, saya mencatat ulang di notes kecil.

 

Di penginapan, menyicil catatan perjalanan keliling Lombok tahun 2010

Di penginapan, menyicil catatan perjalanan keliling Lombok tahun 2010

Saya tak bawa laptop karena berat. Khawatir dengan ratusan foto yang telah terjepret, saya pun mampir di sebuah warnet di Tete Batu. Di situ saya salin foto-foto ke dalam flashdisk.

Ada satu tip lagi saya peroleh dari Selviya Hanna, seorang penerjemah untuk National Geographic Indonesia, yang amat bisa ditiru oleh penulis kisah perjalanan. Tiap kali selesai menerjemahkan satu bab (dalam konteks buku), ia langsung menyimpan hasil terjemahannya di Google Drive atau Dropbox. Jadi, kalau terjadi apa-apa dengan perangkat bekerjanya, semua kerja kerasnya berhari-hari itu tidak lenyap dalam sekejap.

Tidak cukupkah mengandalkan ingatan? Saya kira, tidak. Siapa yang menjamin ingatan kita akan selalu jernih? Apalagi perjalanan membuat energi kita terkuras, baik fisik maupun mental. Dan, selama di perjalanan, panca indra kita memindai banyak sekali hal. Ribuan detail. Otak akan memanas dan ingatan itu bisa menguap pelan-pelan.

Tapi, apa pun perangkat yang menemani selama di perjalanan, semua akan kembali pada adagium ‘the man behind the gun‘. Percuma saja tetek-bengek itu kalau kita tak bisa memanfaatkannya secara maksimal dan efektif.

Dan, kesadaran bahwa itu semua hanya alat bantu akan memicu kita berpikir lebih jauh lagi, kisah perjalanan macam apa yang akan kita hadirkan pada pembaca? Mengutip ucapan Agustinus Wibowo, “Catatan perjalanan yang baik lahir dari perjalanan yang baik”. Artinya, tulisan perjalanan yang enak dibaca dan mampu mengaduk emosi pembaca dihasilkan dari kualitas perjalanan yang baik pula. Bagaimana cara memperoleh pengalaman perjalanan yang baik? Salah satunya adalah interaksi yang lebih banyak dengan penduduk lokal di sekitar tempat yang kita kunjungi.
Peralatan tempur sudah siap? Ayo, turun ke jalan!

Iklan

11 thoughts on “Merawat Kenangan di Perjalanan

  1. Tak tambahin, Tah. Kalau Paul Theroux katanya gak bawa apa2 pas wawancara. Setelahnya, ia biarkan mengendap beebrapa saat. Baru menuliskannya kembali ke jurnal harian. Jika sempat, hasil catatan itu dikirimkannya ke rumah. 🙂

  2. Aku ndak mesti, Tah. Kalau perjalanan panjang aku bawa2 notes. Nyatet yg menurutku penting doang. Terutama kalau wisata kuliner atau nyatet quot dr seseorang. Kalau pas bawa leptop ya langsung nulis di blog. Tapi biasanya yg paling banyak foto dan video. 🙂

    • Hehehe… Beda-beda orang ya, Mbak. Saya sendiri kadang sempat gelisah ketika kamera rusak dan tidak dapat pinjaman. Lalu, memikirkan kembali tujuan saya melakukan perjalanan. Maka, saya cukupkan diri modal hp dan catatan saja. Yang penting saya berada di ‘present moment’. Menikmati 🙂

  3. Kalo saya banyakan ingatan juga mas, foto biasanya saya pakai untuk merekam waktu saja. Karena seringnya saya pergi tidak sendirian dan seringnya juga ketempat baru, maka banyak yang membantu mengingat kembali, juga tempat untuk menyimpan hal yang baru di otak seakan selalu tersedia dengan lapang. :-D. Tinggal pintar-pintar bagi waktu saja untuk mengolah hasil perjalanan itu. Saya sering keteteran karena tidak imbang antara nulis dan jalan-jalan. Bahkan perjalanan 2012 msh ada banyak yang belum saya tulis…ahahaha
    *dasar pemalas 😀

    • Hehehe… Makasih, Mas Ghozali, sudah berbagi pengalamannya. Intinya, kita yang paling tahu apa yang kita butuhkan ya, Mas.

      Ayo, ditulis pengalaman jalan-jalannya, sayang kalau cuma disimpan di otak 🙂

      Mungkin perlu mengolah sudut pandang, Mas, biar rekam perjalanannya yang menarik saja yang dituangkan 🙂

  4. iya kerasa banget ya mas.. setiap perjalanan itu kalau ndak ada tools perekamnya dengan hanya modal ingatan rasanya susah untuk buatnya apalagi hingga ke detail

  5. Kalo aku selama ini masih mengandalkan kamera, hp, dan notes. Kamera itu fungsinya juga buat pencatat waktu. Jadi tiap detail perjalanan aku foto, mulai dari awal perjalanan, mulai naik angkot, sampai di lokasi, plang jalan, tiket, dsb..
    Notes atau hp aku pake buat mencatat poin2 penting dari cerita penduduk setempat, atau info aja yang kebetulan aku dengar langsung.
    Ntar kalo pas lagi nulis catper semua ‘bekal’ itu dibongkar..

    Tapi sejak perginya sambil gendong bocah, kebiasan2 itu jadi susah aku lakukan 😀
    Gimana mau moto setiap saat atau nyatet hal penting, kalo sambil gendong bocah yang kadang rewel minta ini itu, hehehe..

    • Hahahaha… Dua kalimat terakhir rupanya curhatan khusus seorang emak backpacker ya 🙂

      Ternyata, cara kerja kita mirip ya, Mbak. Apalagi kalau perjalanannya dilakukan dengan ‘misi’. Misi menulis 😀

  6. Pasangan honeymoon backpackers kebanyakan memotret dan merekam. Sekarang mereka ulang semuanya lewat rekaman dan foto-foto.

    Menulis nyaris tidak bisa, karena kami berjalan mirip gembel dan kadang harus berpindah setiap hari, sangat menguras energi 🙂

    Suka sekali tulisan reportase gaya penulis perjalanan menuliskan pengalaman mereka ala kamu ini, Dik 🙂

    Khas Fatah! 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s