Pelancong Terbang Nirsayap

“Levitasi mengajak kita keluar dari belenggu rutinitas keseharian yang kadang menjerat.”

983661_10202092541425546_2879423129842692348_n

Saya, Mas Iwan, dan Mbak Nabila dari Goodreads Indonesia Regional Surabaya

Mas Iwan meneguhkan dirinya bahwa ia seorang ekonom. Menulis, fotografi levitasi, traveling, wisata kuliner adalah hobinya. Ia juga tertarik pada filsafat, sejarah, juga arsitektur. Bagi saya, ini kombinasi yang menarik. Artinya, beliau memiliki perspektif yang luas. Dan, ini tampak dari tulisan-tulisannya.

Beliau juga rajin menulis di Kompasiana dan blog pribadi. Sejak jadi anggota Kompasiana pada 23 November 2008, saya cermati beliau telah menulis 302 artikel dan sering jadi headline. Kalau ke toko buku, mudah dijumpai buku-buku beliau bertema traveling, seperti Japan Aftershock (2012), Shocking Japan (2013), Shocking Korea (2013), dan sekarang Flying Traveler (2014). Dalam tiga tahun, ada empat buku. Produktif!

Secara karir profesional, beliau menduduki posisi Direktur Deputi Bank Indonesia Kantor Wilayah IV Jatim. Meski demikian, beliau tetap aktif menulis, menyalurkan hobinya. Tidak sebatas eskapisme (pelarian) dari kepenatan kerja, saya kira, tapi lebih pada untuk membuat hidupnya “penuh”. Ia menyatakan, “penuh” di sini bermakna meraih kembali consciousness (kesadaran). Karena lewat hobi menulis, misalnya, beliau akan punya waktu untuk berpikir sekaligus berkontemplasi. Tidak sekadar menjalani hidup, tapi sekaligus memaknainya.

Sebelum membaca Flying Traveler, saya sudah pernah membaca Shocking Korea. Hal-hal yang mengejutkan tentang Korea, tentu dari sudut pandang seorang pendatang, orang Indonesia, yakni Mas Iwan. Meski sama-sama genre travelogue, tapi temanya berbeda.

 

TERBANG TANPA SAYAP

Photo1205

Buku ini berisi catatan perjalanan Mas Iwan ke berbagai tempat di Asia. Namun, bukan perjalanan biasa karena Mas Iwan melakukan levitasi di depan bangungan-bangunan yang menjadi tetenger. Misalnya, di depan Tokyo Station, Taman Lavendel di Hokkaido, Lembah Neraka Noboribetsu, Seoul City Hall, Tembok Raksasa Cina, Forbidden City, Gurun Gobi Mongolia, Gereja Merah Probolinggo, Candi Muaro Jambi, dan banyak lagi.

Buku setebal 164 halaman ini, memuat foto levitasi Mas Iwan di hampir 60-an tempat. Tapi, memang dikombinasikan dengan cerita perjalanan. Makanya, buku ini masuk genre travelogue, gabungan dari travel dan monologue. Travel terwakili melalui perjalanan Mas Iwan ke berbagai tempat. Monologue tampak dari kisah perjalanannya yang memasukkan unsur pengalaman dan opini pribadi penulis.

Secara garis besar, buku ini terbagi dalam lima bab. Pembagian bab berdasarkan negara yang dikunjungi, yakni Jepang, China, Korea Selatan, Mongolia, dan Nusantara (Indonesia). Kemudian masing-masing bab terbagi lagi dalam sub-bab yang berisi tempat-tempat yang dikunjungi secara spesifik oleh Mas Iwan. Misalnya, Masjid Cheng Ho Surabaya, Kuil Yasukuni, Kurashiki, Temple of Heaven, Gandan Monastery, Kawah Ijen, dan sebagainya.

Kumpulan kisah perjalanan memilik struktur yang jelas. Formatnya adalah deskripsi tempat, latar historis, lalu cerita singkat mengenai levitasi yang dilakukan serta spot favoritnya. Alurnya sudah bisa ditebak. Tapi, tentu yang tidak tertebak adalah habis tempat A, tempat mana lagi nih. Itu yang bikin kita untuk membalik lembaran. Rasa penasaran, apalagi pada tempat-tempat yang tak umum di luar sana, bisa diolah oleh Mas Iwan.

Struktur yang jelas dan mudah terbaca ini membuat kita tak lelah membaca. Mau membaca dari belakang, tengah, atau depan pun bisa.

Meski demikian, isi buku ini tidak begitu dalam. Dalam artian, buku ini kurang memberikan insight (pandangan) personal lebih terhadap pengalaman berlevitasi di berbagai tempat. Bisa jadi karena buku ini juga segmentasinya untuk pembaca muda yang menyukai bacaan traveling populer.

photo1212

Gaya penulisannya juga pop ala tulisan di blog. Mungkin itu pula sebabnya tidak menawarkan kedalaman. Beberapa gelintir tulisan di buku ini ada di blog Mas Iwan dan tidak diolah kembali. Kadang memang penulis dihadapkan pada pilihan untuk mengolah kembali, menulis ulang, mengedit, dan seterusnya. Dan, ada penulis tipe peselancar juga tipe penyelam. Saya kira, Mas Iwan adalah gabungan keduanya. Setidaknya itu yang tampak di buku ini. Tipe peselancar itu terwakili oleh pengindraan beliau terhadap suatu objek. Tipe penyelam terwakili oleh opini pribadi yang kadang kontemplatif dan filosofis. Tapi, dalam konteks buku Flying Traveler ini, masih tidak begitu mendalam pandangan personal yang ia berikan.

Jika jadi Mas Iwan, saya bayangkan target pembaca saya adalah kalangan muda atau mereka yang berjiwa muda nan dinamis dan suka melakukan hal-hal baru. Maka, gaya bahasa yang dipilih pun lugas, tidak njelimet, dan di beberapa bagian ada pula celotehan gaulnya.

Buku ini unik sejak dari judul, tema yang diangkat, pun cerita-cerita Mas Iwan di dalamnya. Misalnya, kisah tentang salaryman di halaman 24-27. Salaryman ini tentang para pekerja Jepang yang memiliki etos kerja yang tinggi. Mereka memang bekerja bagai robot, tidak seperti para pekerja kantoran di Indonesia. Saat makan siang, misalnya, para salaryman ini makan dengan cepat, makan secukupnya, dan tanpa mengobrol. Beda kan dengan pekerja Indonesia?

Buku ini menggemaskan karena banyak meninggalkan pertanyaan tak terungkap buat pembaca. Misalnya, ketika Mas Iwan menuliskan pengalaman levitasinya di Distrik Chaya (hal. 53). Di situ kemungkinan besar bisa bertemu dengan geisha kalau berkunjung malam hari. Dan, membayangkan berlevitasi dengan geisha, mas Iwan bilang, “Hmmm, sebuah impian yang menyenangkan”.

Dalam buku ini, banyak fakta menarik yang informatif. Bahkan, informasi awal mengenai asal-muasal levitasi pun sudah menarik, yakni tentang sosok Natsumi Hayashi. Kemudian, informasi mengenai sejarah, arsitektur eksterior dan interior suatu tempat, juga jadi asupan bagi pembaca. Selain itu, tentu saja bagaimana pembaca buku ini diajak untuk berlevitasi, menciptakan sesuatu yang anti-mainstream lewat fotografi. Filosofi dari levitasi ini pun bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

KEMASAN BERBICARA

photo1206

Dari segi kover menarik. Secara komposisi seimbang antara judul, subjudul, nama penulis, foto, dan balon endorsement. Komposisi itu pun tergambar dari warna font-nya. Judul buku dengan ukuran font paling besar di antara tulisan lainnya di kover depan, menandakan bahwa buku ini memang mengandalkan kekuatannya pada judul. FLYING TRAVELER.

Meski terkesan ramai, tapi sebagaimana kecenderungan kover buku di Indonesia yang menyesuaikan dengan psikologi pembaca kita. Bahwa, pembaca Indonesia masih cenderung menyukai kover buku yang ramai, entah warna, tulisan, atau gambar di muka. Sedikit berbeda dengan kover buku-buku impor yang cenderung minimalis. Bagi pembaca kita, cover still does matter!

Jenis kerta buku ini adalah book paper dengan tekstur yang sedikit kasar. Foto-fotonya juga dicetak warna. Jika pada era penerbitan sebelum 2012, sedikit sekali buku traveling di Indonesia yang dicetak warna. Alasannya adalah harga yang pasti akan lebih mahal. Tapi, rupanya penerbit mulai mengakomodasi komentar para pembaca agar buku-buku traveling dicetak warna.

Buku ini dijilid rapi dan kuat. Kendati terdiri dari sub-bab, tapi disertakan pula pembatas buku.

Tata letaknya pun dinamis. Itu kesan kuat selama membaca buku ini. Bahkan, dari halaman pertama sampai terakhir. Antara teks dan foto, berimbang. Kendati ada foto yang horisonnya miring, tapi tidak mengurangi estetika foto yang ada di buku ini. Justru, dengan melihat foto Levitasi Mas Iwan saja, fokus pembaca ke arah situ.

Meski masih dijumpai beberapa typo, tapi tidak sampai mengganggu konsentrasi pembaca.

 

MENELISIK LEBIH DALAM

Detail

Bagi saya, buku ini tak ubahnya kumpulan artikel pendek. Di beberapa tulisan diselipkan makna filosofis, namun di bagian lain dibiarkan begitu saja penceritaannya, tanpa upaya menutup cerita. Artinya, pembaca diberi ruang bertumbuh untuk berpikir.

Persepektif yang luas, cara berpikir makro, akan berpengaruh pada cara bercerita. Buku ini saya rasakan kurang detail. Misalnya, mas Iwan bilang dia datang di acara Sumo Bayi, lomba menangis bayi-bayi Jepang. Sudah itu saja. Tidak ada kelanjutan penjelasannya. Padahal itu menarik.

Kurang detailnya buku ini bisa diibaratkan foto-foto atau gambar yang diambil secara general. Kurang ada detail ornamen, misalnya, hanya disebutkan bahwa bangunan ini bergaya gotik, perpaduan antara arsitektur Cina, Eropa, dan Timur Tengah. Gambaran besar itu mungkin bagi sebagian pembaca ada yang tahu, apa itu bangunan dengan gaya renaisans dan sebagainya.

Selain itu, ada hal-hal yang disampaikan secara generik. Mungkin mengingat bahwa konteks buku ini bukan buku sejarah. Jadi, bagi yang penasaran detailnya, bisa cari lebih jauh via internet atau sumber lain. Misalnya, tulisan tentang kejayaan Majapahit di Trowulan hal. 141.

Meski memang, kalau kebanyakan detail juga bisa bikin bosan pembaca. Nah, di sinilah teknik penulisan jadi penting. Sejauh mana seorang penulis luwes mengartikulasikan kisah perjalanannya. Dan, selama membaca buku ini, saya tidak bosan sama sekali. Karena adanya faktor ketertarikan pada destinasi. Habis ini, membahas apa nih, dan seterusnya.

Photo1209

photo1210

photo1213

Place does matter

Bagi Mas Iwan, tempat itu penting dalam berlevitasi. Maka, ia pun tak sembarangan memilih lokasi untuk berlevitasi. Meski dalam travel writing, place doesn’t really matter karena justru perjalanannya yang acap kali lebih seru. Tapi karena tema besar buku ini adalah levitasi, maka tempat pun jadi penting.

Sayang sekali, destinasi untuk levitasinya tidak berimbang antarnegara. Jepang paling banyak, Nusantara, mongolia, china, baru korea selatan.

 

Foto

Dalam kisah perjalanan, foto itu penting. Karena ia ikut menopang kisah yang ditulis. Dalam buku ini, foto-fotonya berbicara. Foto Mas Iwan terbantu oleh background. Berpose melayang bisa di mana saja. Tapi, foto tersebut akan berbicara lebih banyak melalui latar belakangnya. Misalnya, foto di depan Temple of Heaven, depan kuil-kuil di Jepang, dan seterusnya. Artinya, background says more than the foreground karena Mas Iwan pun kebanyakan berlevitasi dengan kemeja kasual. Kecuali beberapa foto dengan kostum suku Ainu atau kostum kaisar China atau kostum Genghis Khan.

photo1208

Di beberapa tulisan, saya malah melihatnya seperti caption ‘panjang’ untuk sebuah foto. Bagi yang suka bacaan ringan atau terbiasa baca majalah gaya hidup, buku ini menarik. Tapi, kalau mencari detail kedalaman pandangan, belum masuk.

 

Karakter

Karakter tulisan Mas Iwan tidak sekuat Agustinus atau Trinity. Namun, setidaknya cara bertuturnya runtut, enak dibaca, tidak bertele-tele. Bisa jadi karena Mas Iwan juga terbiasa menulis di media, yang tentunya sudah bisa membayangkan target pembacanya seperti apa.

Interaksi dengan orang lokalnya tidak diekaplorasi dengan dalam. Padahal itu akan menarik. sebab, menurut Agustinus, tulisan perjalanan itu tidak egosentris. Untuk itu, memasukkan dialog dan pengalaman interaksi dengan warga lokal akan membuat tulisan perjalanan jadi lebih bernyawa.

Menulis mengandalkan ingatan semata tentu berbeda dengan menulis yang diseriusi caranya. Menurut saya, buku Mas Iwan ini lebih banyak mengandalkan ingatan plus riset, tapi sentuhan interaksi personalnya kurang. Mungkin karena buku ini sudah diproyeksikan sebagai penyaluran hobi semata, bukan untuk digarap serius melalui riset mendalam untuk buku traveling.

 

Filosofis

Sebenarnya kalau kita jeli, banyak simbol bertebaran di buku ini. Selain levitasinya sendiri yang bermakna filosofis antigravitasi, break the boundaries. Lokasi levitasi Mas Iwan juga banyak di depan kuil, masjid, bangunan peninggalan sejarah, dan lain-lain yang bermuatan sejarah dan seni. Itu pertanda keberagaman.

Di beberapa tulisan diselipi renungan filosofis atau kutipan dari filsuf. Di sinilah, baru berasa kehangatan tutur Mas Iwan. Ada nilai yang coba ia sematkan tapi tidak sampai menggurui pembaca. Kontemplasi ini tampak, semisal saat Mas Iwan levitasi di Gandan Monastery Ulaanbaatar (hal. 105). Begitu juga refleksi Mas Iwan yang terungkap di hal. 108. dan hal. 118.

Photo1214

Tanda tangan Mas Iwan di buku saya

Simpulan

Secara keseluruhan, antara packaging (penampilan fisik) dan isi buku ini, klop. Untuk pembaca yang berjiwa muda, buku ini saya rekomendasikan.

Saya rekomendasikan buku ini karena setahu saya, inilah buku pertama di Indonesia yang menggabungkan antara traveling dan levitasi. Foto-foto dan tipnya juga bisa jadi bahan pembelajaran dan nilai plus.

Namun, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, saya kira buku ini telah berani mendobrak dari sisi penyajian tema yang beda. Gaya tulisan mungkin biasa dan tidak begitu berkesan, namun dari segi ide, buku ini layak diacungi jempol.

Tidak ada buku yang sempurna. Kalau ada, tentu tak ada buku-buku lainnya yang ditulis. Maka, dengan kekurangan buku ini, saya kira bisa memberi ilham bagi Anda untuk menulis yang lebih baik lagi. Baik itu Mas Iwan ataupun Anda yang ingin menulis tulisan perjalanan.

 

 

Intisari tulisan ini disampaikan pada acara bedah buku “Flying Traveler” di Oost Koffie & Thee (@hetOost), Surabaya pada hari Minggu, 11 Mei 2014 pukul 16.00 – 18.00 WIB. Acara diselenggarakan oleh Goodreads Indonesia regional Surabaya.

Iklan

4 thoughts on “Pelancong Terbang Nirsayap

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s