Suara dari Baluran

283207_2094190126592_6511930_n

Kecintaan pada Taman Nasional Baluran membuatnya kerap ‘blusukan’ mendokumentasikan satwa-satwa liar di sana. (Sumber: Nurdin Razak)

Ia bernama Nurdin Razak. Ia seorang dosen ekowisata di Universitas Airlangga, Surabaya. Namun, ia tak puas hanya berdiri di depan mahasiswa, semata mengajar. Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni mengajar, meneliti, dan mengabdi pada masyarakat adalah hal yang ia junjung tinggi. Ia bahkan sempat menjabat Ketua Program Studi D3 Pariwisata Unair. Spesialisasinya di bidang ekoturisme pun melahirkan karya-karya penelitian. Namun, kekecewaan dengan regulasi dan kinerja para dosen di kampus, membuatnya menolak tawaran S-3 di Universitas Brawijaya atau Leeds University, UK.

“Buat apa?” ungkapnya retoris.

Ia pun kerap mengkritik institusi tempatnya mengajar. Namun, kritikannya belum mampu menggerakkan para dosen dan pejabat kampus untuk berubah ke arah yang lebih baik. Orang-orang kampus yang tidak fair dan sportif membuatnya muak. Banyaknya dosen yang cari aman, tidak berani bersuara, membuatnya geram. Prestasinya dengan membawa 19 mahasiswa program studi D3 Pariwisata Unair magang di Shangri-La’s Barr Al Jissah Resort & Spa, Oman, pun tidak membuat pihak kampus bangga. Bahkan, ia ke sana sendirian, dibiayai oleh orangtua para mahasiswa, untuk mengecek kondisi mereka. Sementara, tak ada sedikit pun dana dari kampus. Malahan, bukannya diberi izin kerja, kampus justru mengeluarkan surat cuti padanya. Ia kecewa.

Jaringan yang ia miliki di luar kampus, benar-benar ia manfaatkan untuk membawa program studi yang ia bawahi ke arah yang lebih baik. Setelah kerja sama dengan Shangri-La Oman, kerja sama dengan pihak Malaysia pun tercapai. Namun, sayang sekali, petinggi kampus tidak menyetujui. Bahkan, kerja sama dengan sebuah sekolah kuliner di Surabaya pun berakhir dengan pembatalan sepihak dari kampus yang ia wakili. Upayanya meningkatkan kompetensi mahasiswa, rupanya tak diapresiasi baik. Kecewanya kian bertambah.

Luka demi luka yang ditorehkan sesama pengajar di kampus pun ia obati dengan berkarya di luar. Ia menggemari fotografi alam liar. Sejak 2003 hingga sekarang ia mendokumentasikan berbagai satwa liar di Taman Nasional Baluran, Situbondo. Dengan motor, ia menempuh lebih dari 500 km pulang pergi Surabaya – Situbondo.

“Apa yang memberi Pak Nurdin energi?” tanya saya ketika membonceng dengan motornya, perjalanan pulang ke Surabaya. Akhirnya, saya rasakan juga bermotor sepanjang 254 km. Mata berkali-kali terpejam dan tersentak kembali. Pantat panas.

“Tidak tahu. Saya bahkan bisa tidak makan 3 sampai 4 hari.”

Saya bertanya demikian karena selama berdiskusi dengannya, semangatnya demikian menyala-nyala. Bahkan, di hari pertama menginap di Baloeran Ecolodge miliknya, saya sampai susah tidur. Otak saya penuh sungguh oleh materi obrolan.

Pengalamannya mengunjungi berbagai taman nasional di Indonesia, membuat matanya kian terbuka. Taman Nasional Baluran dengan luas 25.000 Ha wilayah daratan dan 3.750 Ha wilayah perairan dijaga oleh polisi hutan yang jumlahnya masih jauh dari kata ideal. Gaji mereka pun belum mampu menyejahterakan mereka. Bagaimana mereka bekerja maksimal jika urusan perut saja belum beres? Suatu hal yang umum, kiranya, di negeri ini.

Maka, Nurdin Razak pun memberi pelatihan gratis pada para polisi hutan ini sebagai bagian sertifikasi. Sertifikatnya diberikan cuma-cuma. Sebagai konsultan ekowisata yang sesekali diajak kerja sama oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, ia tak melulu berhitung secara ekonomi. Ia tergerak membantu karena didorong rasa prihatin. Tidak hanya agar tingkat kesejahteraan para polisi hutan itu naik, tapi juga tingkat kompetensinya.

Kompetensi inilah yang jadi salah satu kepeduliannya. Ia punya cita-cita luhur agar bangsa ini menciptakan generasi yang punya kompetensi (daya saing). Kompetensi di bidang masing-masing. Nurdin Razak hendak mencontohkan dirinya. Bahwa, dengan fokus menggeluti bidang yang semakin niche, itu akan baik bagi negeri ini. Bukan semata institusi pendidikan melahirkan para sarjana yang akan menjadi budak perusahaan-perusahaan asing – karena minim kompetensi – tapi para sarjana yang punya keahlian yang berguna bagi bangsanya.

Keahlian fotografi alam liarnya pun kian terasah dan terwujud dalam karya. Pada 2012 ia pernah mengadakan pameran tunggal bertajuk Surabaya Wild Life, yang mendokumentasikan satwa-satwa liar di pesisir timur Surabaya, tepatnya di Hutan Mangrove Wonorejo. Tahun lalu, foto-foto satwa langka di Taman Nasional Baluran ia bukukan. Semuanya biaya sendiri. Sebab, ketika ia mengajukan konsep buku foto pada pihak kementerian, khususnya Kementerian Kehutanan, jawaban yang ia terima sangat birokratis. “Tidak ada dana.”

Sementara Kementerian Kehutanan menerbitkan buku katalog taman nasional se-Indonesia yang tebal namun penjelasannya minim dan terlalu umum, Nurdin Razak menerbitkan buku foto khusus TN Baluran. Bahkan, ia menulisnya dalam tiga edisi, yakni bahasa Inggris, bahasa Belanda, dan bahasa Indonesia. Buku foto itu pun ia promosi dan pasarkan melalui internet.

Itulah yang membuatnya kian miris dengan para pejabat di negeri ini. Mereka lebih suka menghamburkan uang negara lewat proyek-proyek yang tidak bervisi jauh ke depan. Sementara, ada salah satu warga mereka yang mau menyisihkan waktu, tenaga, pikiran, dan biaya sendiri demi mengenalkan kekayaan TN Baluran lewat visual. Upaya yang visioner biar masyarakat paham, bersyukur, tumbuh rasa cinta, serta kepedulian untuk menjaga kekayaan alam yang dititipkan Tuhan pada bangsa ini.

Ia menyebutkan upaya pendokumentasian satwa langka TN Baluran sebagai ekspedisi pribadi. Gajinya sebagai PNS kerap minus. Ia sampai rela berhutang untuk membeli kamera dengan lensa tele, untuk memaksimalkan aktivitasnya itu. Ia menegaskan, “Saya tidak memotret, tetapi mendokumentasikan.” Dua hal yang menurutnya berbeda. Dalam dokumentasi – yang tidak disponsori pihak mana pun itu – ia melakukannya dengan sepenuh hati. Didorong oleh lentera hati alias renjana (passion).

Dalam ekspedisi pribadinya itu, ia bahkan berhasil mengabadikan macan tutul jawa muda pada Jumat malam (17/2/2012). Ia mengabadikan foto satwa langka itu sebanyak 20 frame dari jarak sekitar 7 meter. Menariknya, itu foto pertama macan tutul di Baluran setelah 30 tahun.

Foto macan tutul bersama belasan foto satwa langka khas Baluran lainnya, akan ia pamerkan di Grand City Mall, Surabaya, pada 27 Mei 2014. Bertajuk “Amazing Baluran”, ia mengatakan akan mengundang rektor dan petinggi kampus lainnya untuk hadir. Ini juga sebagai bentuk sindiran pada mereka yang telah menyia-nyiakan kompetensi seorang pengajar. Ketika kompetensinya di bidang ekoturisme diapresiasi oleh pihak Jepang dengan mengundangnya sebagai pemateri di sana, di negerinya sendiri, ia malah diabaikan.

1522772_10202899452279570_378968012293337740_o

Menjadi ‘eco-interpreter’ bagi tamu-tamunya (Sumber: Nurdin Razak)

Tidak berhenti di situ. Nurdin Razak yang telah lama berada di lapangan, pun menyadari pentingnya memberdayakan masyarakat di sekitar TN Baluran. Sebab, hal yang lumrah ketika kekayaan taman nasional ‘dimanfaatkan’ oleh masyarakat sekitar dengan merambah kayu dan menangkap hewan-hewan, baik untuk dijual maupun dikonsumsi. Kebutuhan ekonomi adalah suatu hal yang mendesak. Namun, ketika motif itu tidak dibarengi kesadaran memadai akan pentingnya hutan dan masa depan anak cucu, maka tindakan-tindakan brutal jangka pendek pun ditempuh. Rotan diambil. Rusa atau kerbau liar ditangkap dan disembelih.

Langkah edukasi pun ia lakukan. Ia dekati warga Desa Wonorejo, desa paling timur di Situbondo, yang berbatasan langsung dengan TN Baluran. Ia memahamkan tentang pentingnya menjaga lingkungan dan hal-hal praktis yang bisa dilakukan warga untuk terlibat di dalamnya. Konsep ekoturisme ia jelaskan. Dari satu pintu ke pintu lainnya ia gerilya, beberapa warga pun ia ajak berkumpul di ecolodge-nya. Ia beri pelatihan ekowisata yang ia jadwalkan berlangsung tiap sebulan sekali, yakni tiap tanggal 30.

Sukadi, seorang warga Desa Wonorejo yang sehari-hari kerja serabutan sebagai tukang bangunan, bercerita kalau ia sudah bisa memandu wisatawan, berkat bimbingan Nurdin Razak. Ia pun diajari berbahasa Inggris dan diberi buku untuk belajar. Mentalnya kian terasah ketika dipercaya Nurdin untuk membawa turis-turis mancanegara tur keliling desa, melihat aktivitas warga dari dekat.

Nurdin pun bekerja sama dengan para tukang ojek. Tiap kali ada tukang ojek yang membawa tamu dari perempatan Batangan, dekat pintu masuk TN Baluran, menuju ecolodge yang dikelola Nurdin, tukang ojek itu mendapat persenan sebesar Rp25 ribu. Namun, turis pemakai jasanya tidak membayar langsung ke tukang ojek. Jadi, para turis itu merasakan pelayanan ‘gratis’ ojek, padahal pelayanan itu sudah ia masukkan dalam paket ekowisata.

“Kuncinya adalah pelayanan. Saya sendiri suka melayani tamu langsung meskipun ada staf.”

Pun ketika turis masuk ke TN Baluran, para tukang ojeklah yang direkomendasikan Nurdin. Tarif dinegosiasikan sendiri antara tukang ojek dan turis. Pelayanan yang prima pun membuat turis memberi tip.

Demikian pula dengan makanan. Nurdin melalui Baloeran Ecolodge-nya, kerja sama dengan salah satu pemilik warung yang juga ia bina. Warung itulah yang menyediakan konsumsi bagi tamu-tamu yang menginap di ecolodge-nya.

Nurdin ingin warga kreatif. Nurdin ingin warga mendapatkan penghasilan tambahan di luar profesi mereka. Lebih jauh dari itu, Nurdin mencita-citakan TN Baluran yang terjaga fauna dan floranya karena masyarakat paham dan sadar bahwa dari situlah mereka mendapatkan penghidupan, setidaknya sumber air yang bersih dan oksigen yang berlimpah.

Mungkin yang istimewa bukan faktor dirinya yang seorang dosen. Tapi, renjana (passion) yang kuat, komitmen yang besar, dan konsistensi yang telah teruji ada dalam diri Nurdin Razak. Materi bukan tujuannya. Bisnis berkonsep ecolodge yang dijalankannya pun tidak murni bisnis. Ia berbagi keuntungan dengan masyarakat, melibatkan merek secara aktif dan kreatif. Ia bahkan mengorbankan waktu, energi, juga finansial untuk keluarga, demi pengabdiannya itu.

Ketika para PNS menenggelamkan dirinya dalam kubangan rutinitas sehingga daya kreatifnya memudar; ketika dosen-dosen di perguruan tinggi melakukan pengabdian karena proyek semata, didanai oleh sponsor, dan jangka waktu pendek saja; ketika hal-hal esensial tersingkirkan oleh proyek-proyek ‘kembang api’; ada sosok yang masih menggenggam idealisme yang mungkin bagi sebagian orang akan terkesan utopis.

 

Catatan:

Saya berdiskusi banyak dengan Nurdin Razak saat menginap di Baloeran Ecolodge yang ia miliki. Saya di sana selama tiga hari, yakni Jumat – Minggu lalu (16-18 Mei 2014). Dari obrolan itu juga terungkap harapannya agar lebih banyak lagi anak muda yang peduli pada ekoturisme. Ia juga berharap agar mereka yang kompeten berbahasa Inggris, secara sukarela untuk datang dan membagi ilmunya pada warga di Desa Wonorejo, Situbondo. Anda tertarik?

Iklan

25 thoughts on “Suara dari Baluran

    • Itulah yang menggerakkan saya menulis ini. Suara Pak Nurdin ini harus didengarkan oleh siapa sahaja. Dengan segala kekurangannya sebagai manusia, ia punya visi yang ‘indah’ tentang bumi di mana ia hidup.

  1. Salam kenal mas. Saya warga Jember tapi belum pernah mengunjungi baluran dan sangat ingin. Juga sangat ingin memotret keindahan baluran, tapi saya dengar dari seorang kawan, harga karcis untuk kamera jika memasuki baluran sebesar 300 ribu dan untuk handycam 1,5 juta. Benarkah ini?

  2. Inspiratif. Apa-apa yang dikerjakan dengan sepenuh hati akan sangat dinikmati. Aku pun beberapa kali mendengar curhat teman-teman yang bergerak di dunia akademis bahwa birokrasi dan sistem yang ada di kampus sejauh ini masih perlu banyak perbaikan, perubahan, dan penyegaran.
    Salut untuk Pak Nurdin. Dan salut untukmu yang menuliskannya dengan baik. 🙂

  3. Mas Abdul.. benerran nih, tulisannya enak dibaca. Kalo kata Soe Pak Nurdin itu lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikkan.
    Banyak akademisi yang praktis sekarang mas, esensi berjuang untuk pendidikkan menjadi sangat minim.

    Maen-maen ke tulisan saya ya mas Abdul.. :))

  4. baca sampe habis, sedetil2nya, menarik sekali cerita soal Pak Nurdin Razak dan Baluran Ecolodge nya, Fattah makin ciamik meramu ceritanya… pas ya Tah ketemu teman sprt ini..sukses selalu, smg makin banyak orng sprt Pak Nurdin 🙂

  5. Masya Allah! Dari tulisan ini, saya bisa membayangkan hasrat-hasrat Pak Nurdin. Sepertinya, saya menemukan alasan kuat mengapa saya harus menerima ajakan Mas Fatah. Insya Allah, semoga saya bisa ikut ‘nyempil’ saat acara nantinya 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s