Ziarah Makam

Jalan menuju petilasan

Jalan menuju petilasan

 

Ziarah. Berdoa di tempat yang dianggap keramat. Suci.

Mataku hanya bisa menatap sekeliling. Makam bertingkat-tingkat. Susunan batu sungai yang bulat. Cemerlang kala ditimpa sinar. Pohon kamboja – satu-satunya di areal makam itu – tampak digdaya. Aku membayangkannya angker begitu hari mulai tergelincir digantikan selimut malam.

“Ada petilasan Gajah Mada di sini.”

Tutur itu samar kudengar. Dan, aku tidak tahu siapa itu Gajah Mada. Aku masih terlalu kecil. Baru masuk sekolah dasar kala itu.

Tapi, aku tahu gajah. Ia hewan besar. Belalainya panjang. Kupingnya lebar. Warnanya seingatku abu-abu. Tapi, aku lebih suka mewarnainya dengan krayon biru. Aku suka warna biru. Bahkan, gambar singa pun kuwarnai biru. Aneh, kata teman-temanku. Aku tidak tidak peduli. Sebuah gambar, bagiku, bisa berjodoh dengan krayon warna apa pun.

“Siapa Gajah Mada?” tanyaku suatu ketika pada ayah. Ia sedang duduk-duduk di teras belakang sambil menyeruput kopi, sementara aku bermain dengan buku gambarku di belakang kursi yang diduduki ayah. Selembar koran ia bentangkan di depan dadanya. Ayahku hanya mengenakan singlet dan sarung.

“Yah, Gajah Mada ini pembuat sarung, ya?” Aku refleks bertanya begitu melihat logo sarung ayahku.

Ayahku tergelak. Aku mendongak, tidak mengerti mengapa ia begitu. Seharusnya pertanyaanku dijawab, bukan ditertawai. Orang dewasa kadang aneh merespon pertanyaan. Di mana letak lucunya?

“Gajah Mada itu nama panglima Kerajaan Majapahit. Dia terkenal dengan Sumpah Palapa. Sumpah yang ia ucapkan bahwa ia tidak akan makan buah kelapa sebelum bisa menyatukan Nusantara. Kau paham, Nalar?”

“Kenapa harus buah kelapa? Kenapa tidak salak atau rambutan? Atau durian? Kan, lebih enak durian.” Aku bicara sambil memandang ayah.

Ayahku terkekeh lagi. Padahal ayahku belum tua sekali. Terkekeh mengingatkanku pada kakek.

Ia melipat korannya dan melepas kacamatanya.

“Kenapa kelapa? Tahukah kau, Nalar, kalau kelapa itu mudah tumbuh di daerah pesisir. Ia juga tidak mengenal musim untuk tumbuh. Sementara, Nusantara itu terdiri dari ribuan pulau. Bayangkan saja, ribuan pulau, ribuan pesisir, ribuan pohon kelapa. Jika dibandingkan dengan buah salak, rambutan, atau durian, jelas tidak segampang kelapa untuk tumbuh. Apalagi ketiga jenis buah yang kau sebutkan itu adalah buah musiman, tergantung cuaca.”

Aku tidak paham. Gajah Mada pasti cerdas. Ayahku apalagi. Orang dewasa memang suka berpikir rumit.

Kenapa alasannya bukan karena Gajah Mada memang suka makan buah kelapa? Dan, ia tidak akan makan buah kelapa seakan-akan ia berpuasa. Menahan diri. Sampai cita-citanya terwujud.

“Kalau begitu, Ayah, hebat sekali ya Gajah Mada…”

Aku tidak tahu aku sedang bicara apa. Entah pada bagian apa dari sepenggal kisah Gajah Mada yang aku kagumi. Aku hanya merasa ia pasti hebat. Namanya saja berunsur hewan besar yang aku tahu sangat tangguh itu.

***

“Bang, ke sini! Main!” sorak anak-anak Desa Sembalun Lawang membuyarkan lamunanku.

Aku refleks melempar senyum. Sorak mereka mengalahkan deru angin bulan Agustus yang terasa dingin. Desa yang berada di telapak kaki Gunung Rinjani ini sejak pukul empat sore sudah mulai digerayangi kabut. Kabut yang berpilin-pilin dan membuat siapa saja yang berdiam diri akan menggigil.

Petilasan Majapahit

Petilasan Majapahit

Kunjunganku ke Desa Beleq tadi pagi masih mengingatkanku pada Gajah Mada. Di desa itu ada petilasan Gajah Mada. Batu-batu disusun rapi. Pipih-pipih panjang. Ditancapkan. Dinaungi sebuah atap sirap yang bocor di sana-sini.

“Ada yang berdoa di sini?” tanyaku pada Wandu, pemandu yang aku temui di Desa Beleq.

“Tiap malam Jumat kliwon selalu ada yang bertapa di sini.”

Bertapa? Hal yang lumrah, aku kira. Tempat-tempat seperti ini – dari majalah yang pernah aku baca – akan selalu diburu oleh mereka yang mencari pesugihan. Kalaupun bukan pesugihan, mungkin mencari berkat.

Aku sebenarnya tidak begitu nyaman ke tempat seperti ini. Tapi, rasa ingin tahuku mengalahkan segalanya. Tentu, ini akan jadi informasi menarik untuk kutuliskan di bukuku. Bahwa di balik sebutan Pulau Seribu Masjid, masyarakat Lombok masih ada yang melakukan ritual mistis seperti ini. Apalagi jika sudah terkait nama masyhur kerajaan tempo dulu, seperti Majapahit. Sekalipun itu berupa petilasan, akan tetap mengundang rasa penasaran orang.

“Kalian tidak mengaji sore?”

Pertanyaan kulempar pada semua anak yang sedang bermain bola plastik di ladang bawang putih yang telah dipanen. Sepertinya dua hari lalu tanahnya telah diratakan. Masih tersisa serakan jerami di sana-sini. Anak-anak yang kuhitung berjumlah sepuluh itu asyik saja saling mengoper bola.

“Hari ini libur, Bang,” jawab seorang anak yang tidak jua menghentikan langkahnya mengejar bola.

“O ya? Memangnya ada apa sampai kalian diliburkan?”

“Pak Ustad sedang pergi ziarah makam. Tadi pagi berangkat sama banyak orang di kampung. Biasanya mereka pulang pas mau magrib,” timpal anak yang jadi kiper dan tidak sedang siaga.

“Ziarah makamnya ke mana saja? Kalian tidak ikut?”

Pertanyaanku disapu teriakan gol. Angin masih menderu kencang. Aku merapatkan jaket. Ah, anak-anak gunung! gumamku. Udara sedingin ini sudah biasa bagi mereka. Aku yang sudah dua puluh tahun tinggal di dataran rendah, merasa kedinginan.

“Enggak tahu!” balas seorang anak berbaju Messi.

“Ibu saya bilang tadi malam kalau mereka akan ke Makam Selaparang, Masjid Bayan, Loang Baloq, sama… aduh, lupa…” Seorang anak berwajah hitam manis dengan pipi merona kemerahan menjawabku.

“Itu makam Tuan Guru Pancor,” tambah anak laki-laki dengan rambut yang mengingatkanku pada kemoceng. Rambutnya disemir. Kelihatan paling bandel di antara teman-temannya.

“Kenapa kalian tidak ikut?”

“Bapak Ibu sih nawari, tapi aku nggak mau. Capek di jalan. Aku sudah pernah ikut tahun lalu. Biar adikku saja yang ikut.” Si anak hitam manis yang menjawab.

“Kami juga ada latihan bola di sekolah. Minggu depan mau tanding di Selong,” timpal si anak berambut kemoceng.

Kaki-kaki kecil mereka yang lincah menggoreng bola terlihat kuat dan liat. Anak-anak ini bertubuh ramping, hanya satu yang terlihat agak gemuk. Ia tampak kewalahan mengejar bola. Badannya kelihatan basah oleh keringat.

“Bang, mau main?”

Aku menggeleng dengan seulas senyum. Aku memilih duduk di pematang ladang sembari memerhatikan mereka. Aku ambil Canon 650D-ku dari dalam ransel. Inilah anak-anak Desa Sembalun Lawang yang sedang bermain bola, gumamku dalam hati membuat semacam keterangan foto.

Tapi, sejurus kemudian pikiranku melayang pada masa aku seusia mereka. Terutama saat aku sering dibawa ziarah makam oleh paman dan bibi-bibiku bersama saudara kandung juga sepupu-sepupuku. Belasan tahun rasanya berlalu begitu cepat. Iya, kah? Ah, tidak juga. Aku bertanya dan menyangkal sendiri.

Beberapa makam terlintas samar-samar di ingatanku. Perjalanan ziarah yang membuatku mengambil hipotesis bahwa orang-orang Lombok pun secara tidak sadar suka melakukan perjalanan. Kalau bukan sekadar melancong ke daerah pantai atau gunung, mereka kebanyakan ziarah. Bahkan, mereka yang tinggal di pedalaman pun bisa beberapa kali naik haji ke Mekah. Ibadah yang juga ada ziarah di dalamnya. Mekah! Luar negeri!

Manusia-manusia belia seperti anak-anak di depanku ini pun sejak kecil telah diakrabkan dengan ziarah. Apalagi di Pancor, desa yang juga menjadi tempat tinggalku, ada makam seorang Tuan Guru yang tersohor seantero Lombok. Tuan Guru K.H. Zainuddin Abdul Majid. Seorang ulama kharismatik yang merintis yayasan pendidikan bernama Nahdlatul Wathan.

Keluargaku yang hampir sebagian besar pernah menuntut ilmu di yayasan itu pun tak luput dari kebiasaan berziarah makam. Ziarah yang sejatinya bertujuan untuk mengingat mati. Mengingatkan pada kenikmatan dunia yang fana. Sayang, aku waktu itu hanya tahu bahwa ziarah itu tak ubahnya melancong. Pergi dengan mobil sejenis carry, berdesak-desakan, membawa bekal makanan, tiba di makam dan mulai komat-kamit berdoa, para orang tua membasuhi muka kami dengan air ziarah dari teko, lantas kami menutup perjalanan ziarah itu dengan makan-makan di areal makam.

Aku hanya tahu kalau ziarah itu ada sisi menyenangkannya. Dan, tidak ada hal seram atau mistis yang aku rekam di memoriku. Tidak ada. Ziarah itu menyenangkan. Apalagi ketika para orang tua mensugesti kami bahwa air makam itu bisa membuat wajah bercahaya dan meminumnya bisa bikin pintar. Pelajaran di sekolah bisa diserap dengan mudah.

Iming-iming yang menyenangkan, bukan?

“Bang, kenapa tadi tanya-tanya tentang ziarah? Abang belum pernah ziarah makam, ya?” Seorang anak dari arah sampingku tiba-tiba muncul dan bertanya. Tangannya memain-mainkan bola plastik. Rupanya permainan diusaikan.

“Menurut kalian, ziarah makam itu menyenangkan, tidak?”

 

Iklan

5 thoughts on “Ziarah Makam

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s