Doa Pendek dari Gol A Gong

Traveling-lah untuk menghadiahi umurmu. Panjang usia. (Gol A Gong)

Demikian doa pendek dari penulis Balada Si Roy itu. Ia menuliskannya sehari sebelum usia saya mencapai 25. Doa itu setahun yang lalu.

Sebulan yang lalu, usia saya kembali berkurang satu tahun. Saya teringat kembali pada doa Mas Gong itu. Tapi, tiada rencana sedikit pun untuk traveling. Saya melewatkan di kontrakan sahaja. Siangnya saya ke lembaga menulis di mana saya jadi pengajar di sana. Mengajar anak-anak dan remaja. Namun, baru dua kali perteman sejauh ini, saya memegang kelas anak-anak level 1.

Sebuah pengalaman baru di usia ke-26.

Saya menerima tawaran mengajar itu, semata karena teringat impian saya jadi Pengajar Muda. Saya hendak menabung pengalaman dahulu. Dulu waktu masih SMP-SMA, saya memang pernah mengajar mengajiย  di musala Al-Fatah, musala yang sedang didirikan ketika saya lahir ke dunia. Saya mengajar anak-anak tetangga.

Begitu merantau, Bapak saya sempat berpesan agar saya tidak sungkan menjadi guru mengaji di musala atau guru mengaji privat kalau tawaran itu ada. Tapi, saya tidak menjalankan pesan Bapak. Saya tenggelam pada keasyikan menulis, ngeblog, dan mengembangkan diri di wadah literasi. Meski pesan Bapak itu kerap muncul ketika saya sedang mampir salat di sebuah masjid dan melihat anak-anak kecil ramai bermain dan mengaji. Hati saya belum tergerak. Lidah saya belum luwes untuk mengatakan, “Ustadz, saya boleh ikut mengajar anak-anak ngaji?”

Tapi, saya tabung saja dahulu pesan baik Bapak saya itu. Kelak, saya yakin sekali, akan menjalankannya. Jikalau tidak di pelosok tempat saya bekerja, ya mungkin untuk anak-anak tetangga juga anak-anak saya sendiri nanti.

Kembali pada pesan Mas Gong di atas.

Saya tak merencanakan perjalanan apa pun sampai seminggu kemudian kabar datang dari keluarga saya. Adik saya, Lalu Arif Rahman, lolos seleksi administrasi penerimaan mahasiswa baru di STPN (Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional). Bertempat di Jogja, itu adalah perguruan tinggi kedinasan yang diselenggarakan oleh Badan Pertanahan Nasional.

Tahun 2012, adik perempuan saya yang sekolah di sana. Kini adik laki-laki bungsu saya. Tapi, ada persyaratan baru, yakni tinggi badan. Bagi laki-laki minimal 160 cm. Perempuan 155 cm. Arif sebenarnya meragukan tinggi badannya. Tapi, dorongan keluarga, ia pun tetap berangkat.

Ia tiba pada 8 Juli, hari Selasa. Kamis pagi dia menjalani tes pengukuran tinggi badan. Jika lolos, ia berhak mengikuti tes tulis yang diselenggarakan pada hari Sabtu.

Saya jemput ia di bandara. Ia berangkat sendiri dari Lombok. Padahal ini kali pertama ia keluar dari kampung halaman. Tapi, saya tidak khawatir berlebihan. Kakak, adik, ibu, dan bapak saya pasti sudah membekalinya dengan banyak informasi, how to’s, dan lain sebagainya.

Awalnya, saya terpikir untuk naik kereta ekonomi saja ke Jogja. Biar Arif bisa merasakan transportasi umum yang tak ada di Lombok itu. Tapi, berhubung saya jadi pemantau dan penghitung cepat untuk sebuah lembaga survei dan belum tahu pasti jam kepulangan, maka moda transportasi yang lebih fleksibellah yang saya pilih. Bus.

Malam selepas tarawih kami berangkat dari kontrakan saya. Di Terminal Bungurasih, saya titipkan motor. Biaya titipnya cuma Rp3 ribu per 24 jam.

Kami naik Mira. Ini bus AC ekonomi langganan saya. Di tengah perjalanan, adik saya merasa tak nyaman dengan dingin AC. Ternyata, lubang AC di atas kursi adik saya bocor. Celana kain yang ia kenakan tak cukup mampu menahan terpaan dingin AC. Sarung pun ia keluarkan untuk melapisi kakinya.

Saya yang sok, kena getahnya. Berlagak sudah berpengalaman, saya dari kontrakan cuma mengenakan celana kain tipis tiga perempat. Ah, cuma AC bus ekonomi doang kok.

Tapi, saya tak bisa membohongi diri. Ketika adik saya sudah mulai beringsut ke alam mimpi, tangan saya membuka ritselting ransel. Cari sarung! Tutupi kaki.

Oke, payah!

Terbiasa di kamar kontrakan dengan angin sepoi-sepoi, giliran dihantam AC bus yang bocor, cukup bikin senewen juga. Mau pindah pun, kursi yang lain sudah penuh.

Di Ngawi, kami turun makan sahur. Busnya menyilakan. Kami dimampirkan di sebuah warung kaki lima. Saya beli buah-buahan potong dari seorang ibu. Belajarย food combining, ceritanya, meski masih jauh dari kata sempurna.

Makanan ringan yang kami bawa, diniatkan untuk jaga-jaga – untuk sahur, tidak secebis pun disentuh adik saya. Ia merasa mual. Belum terbiasa rupanya.

Jam-jam berikutnya diisi dengan tidur, terjaga, lelap, melek. Headphone menempel. Lagu-lagu Tulus sealbum berputar terus.

Subuh hari, tiba juga kami di Terminal Giwangan, Jogja. Di otak saya sudah ada dua alternatif untuk menginap. Di basecamp mahasiswa STPN asal NTB atau di penginapan di Malioboro. Berhubung saya belum kontak intens dengan pengurusnya, jadi sepagi itu pula memutuskan cari penginapan murah di kisaran Malioboro.

Menuju ke sana? Sempat terpikir untuk naik taksi saja. Tapi, saya tanya dulu kondisi adik saya dan cermati tampangnya, apakah baik-baik saja. Karena jawabannya iya, “Kita naik Trans Jogja saja, ya?”

Untung saja, Trans Jogja dari Terminal Giwangan berangkat pukul 6 pagi. Saya dan Arif tak perlu menunggu lama. Ongkos Rp3 ribu, cabut!

Adik saya berkomentar, enakan AC Trans Jogja tinimbang AC Mira. Saya setuju. Kami lagi zonk saja duduk di bawah AC Mira yang bocor. Ditambah kondisi tubuh adik saya yang belum beradaptasi dengan baik.

Kami mengobrol ke sana kemari. Tapi, lebih banyak saya biarkan ia membuka lebar-lebar indranya. Menyimak sekitar. Ia bertanya. Saya coba jawab. Ia berkomentar. Saya coba tanggapi.

2

Saya malah diam-diam excited. Bukan karena saya melihat Jogja lagi untuk ke sekian kalinya. Tapi, saya senang bisa menemani adik saya. Saya senang adik saya mau dan tertarik dengan hal-hal di luar. Kritis bertanya. Ini proses pembelajaran.

Sebagaimana berulang-ulang saya katakan pada adik-adik saya agar mereka jangan berhenti belajar. Banyak jalan-jalan. Melihat dunia luar. Mengalami perbedaan-perbedaan. Biar mereka lentur sekaligus kuat. Lentur pada perbedaan, tapi kuat dan teguh pada prinsip.

Meski ending-nya adik saya tak lulus pengukuran tinggi badan dan ia sedikit lemas, tapi saya tak mau menunjukkan kerisauan itu padanya. Saya dan dia malah diskusi, menyusun langkah-langkah berikutnya. Dan, ya, karena kami sudah di Jogja, mengapa tidak menikmatinya dengan… jalan-jalan sahaja? Makan oseng-oseng mercon? Berbelanja di Malioboro? Tarawih di Masjid Gede? Keliling dengan TransJogja? Ke Prambanan? Mengajaknya berjumpa dengan kawan penulis saya?

Hey, my youngest bro! Mari nikmati hidup. Jangan serius belajar terus. Berjedalah. Ketika akhirnya kau diumumkan lulus SBMPTN di Teknik Informatika Universitas Mataram, tidakkah kau sadari ini cara Dia untuk meliburkanmu?

Sekali keluar Lombok, kau meringkus perjalanan Surabaya – Jogja – Surabaya – Bali – Lombok? Kau rasakan juga perjalanan di udara, darat, juga laut. Tidakkah itu menyenangkan? Tidakkah itu ingin kau bikin serial?

Kalaupun saya travelingย tidak benar-benar untuk menghadiahi diri saya atas usia yang berkurang, setidaknya hadiah itu untuk adik saya.

1

Iklan

20 thoughts on “Doa Pendek dari Gol A Gong

  1. Dirimu ke Jogja ini kapan?
    Aku juga pas di Jogja. Nginep di rumah temen yang pernah jadi PM di Fakfak, rumahnya gak jauh dari Giwangan.

    Howalaaa…

      • Ooo..yo gak nyambung tibake.
        Aku di Jogja dari tanggal 15 Juli sampe 21 Juli.

        Saiki wis ndek Suroboyo. Helene teko tanggal 22 Juli, aku sempet ketemuan tanggal 23 Juli. Areke saiki sik ndek Halmahera, ngkok mulihe tanggal 5 Agustus.

        Ayok ketemuan maneh yo, ambek Helene.

        Aku budal ke Fakfak Insya Allah tanggal 8 Agustus.

      • Ayokk.
        Sing cedek2 TP ae, ben aku karek ngesot. Hehehehehe…

        Eh iyo Tah, Selamat merayakan Idul Fitri yo. Maaf lahir batin.

  2. Seruuu ๐Ÿ™‚ semoga adiknya tertular suka jalan-jalan dan biki buku seperti kakaknya hehe. Oh ya, ttg nggak lolos pengukuran tinggi badan itu perihal apa? masuk universitas kah? ๐Ÿ™‚

    • Adik saya sempat menuturkan, kenapa nggak nulis di status ya tentang refleksi pengalaman jalan-jalannya? Di situlah celah saya untuk masuk dan mengomporinya. Mulai di status saja dahulu, ntar lanjut nulis di note FB. Hehehe… Teteeep ๐Ÿ˜€

      Untuk masuk STPN, kudu lulus dulu pengukuran tinggi badan, Mas. Kalau PTN sih, tidak ๐Ÿ™‚

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s