Van der Wijck di Ummi

Desember silam, saya memenuhi undangan Plan Indonesia PU Kebumen menghadiri peluncuran buku “Kebumen Menuju Kota Layak Anak”. Sebagai salah satu dari tim penulis, sebuah kebahagian bagi saya melihat kelahiran buku tersebut secara langsung. Apalagi ketika para undangan membuka-buka buku itu sebagai salah satu benda yang mengisi goodie bag mereka, saya senyum-senyum senang.

Saya tak cuma satu malam lalu langsung pulang ke Surabaya. Saya sudah merencanakan jauh-jauh hari untuk tinggal sekitar 3 hari di Kebumen. Apalagi kalau bukan menginap di Desa Wanayasa, tempat ‘orangtua baru’ juga kakak ketemu gede saya: bapak, ibu, juga Mbak Rodiyah.Di rumah merekalah saya tinggal kalau lagi turun ke desa-desa untuk ambil data dan wawancara demi keperluan buku.

Kebaikan Mbak Rodiyah sekeluarga terlalu banyak untuk saya sebutkan satu persatu. Salah satu penggalan kebaikan mereka saya coba abadikan di buku Love Journey #2: Mengeja Seribu Wajah Indonesia. Di situ saya menulis sebuah catatan perjalanan dengan judul “Rumah Terberkahi di Sudut Wanayasa”. Silakan, kalau Anda tertarik, cari di toko-toko buku terdekat.

Mbak Rodiyah, sepulang mengajar di SMPN 1 Karanggayam, menghampiri saya di lokasi acara peluncuran buku (yang sejatinya acara perpisahan Plan Indonesia PU Kebumen dengan masyarakat). Saya dijemput dan pulangnya kami mampir dulu makan di sebuah warung.

Tiga hari di Kebumen, Mbak Rodiyah ternyata sudah membikin rencana untuk saya. Dia mengajak saya ke Benteng Van der Wijck di Gombong. Bagi relawan Plan Indonesia PU Kebumen, benteng ini tersohor sebab kerap jadi lokasi pelatihan buat mereka. Untuk diketahui bahwa di benteng ini ada fasilitas hotel dan ruang-ruang yang bisa disewa untuk pelatihan.

Melihat antusiasme Mbak Rodiyah dan seringnya saya mendengar para narasumber menyebut nama benteng ini, saya penasaran tentu saja. Dan, sepulang ia sekolah, kami pun boncengan ke benteng ini.

Di tengah-tengah benteng

Di tengah-tengah benteng

Berbekal kamera pinjaman teman, saya mengabadikan keindahan benteng berwarna merah ini. Saya cermati detail-detailnya. Panas yang cukup menyengat, akhirnya bisa kami redakan dengan makan bakso dan es campur sepulangnya.

Balik ke Surabaya, foto-foto itu masih teronggok di laptop saya. Hanya beberapa saja yang saya unggah di Facebook. Dengan kualitas foto yang menurut hemat saya, baik, mengapa saya tidak coba bikin saja tulisannya?

Aha!

Ketika ada obrolan dengan redaktur pelaksana Majalah Ummi, saya pun menyabet kesempatan itu. Saya tawarkan cerita dan foto saya selama jalan-jalan di benteng ini. Saya riset, cari tahu sebanyak-banyaknya, khususnya mengenai fakta sejarah yang melingkupinya. Belum lagi nama benteng ini yang masih hangat diperbincangkan gegara dilayarlebarkannya novel karya Buya Hamka “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”. Momen itu pun tak saya lewatkan.

Tulisan perjalanan di Majalah Ummi edisi Agustus 2014

Tulisan perjalanan di Majalah Ummi edisi Agustus 2014

Februari saya kirim, Agustus dimuat. Memang demikianlah menulis untuk majalah. Perlu sabar untuk antre. Kendati ini tulisan perjalanan saya yang ketiga kalinya dimuat Ummi, bukan berarti saya diperlakukan istimewa. Saya harus belajar bersabar dan mengisi jeda waktu antara pengiriman dan pemuatan dengan menulis, membaca, jalan-jalan, dan sebagainya.

Ketika waktu pemuatan tiba, tetap saja sumringah ada. Honornya? Bisa dipakai untuk jalan-jalan lagi.

Jadi, ketika ada orang yang masih nyinyir mengenai sia-sianya jalan-jalan, mungkin bisa mencoba cara ini. Jalan-jalan, tuliskan pengalaman itu, kirim ke media massa, dapat honor, dapat kepuasan karena tulisan kita dibaca dan tentu saja diselipkan harap agar ia bermanfaat.

Selamat menulis dan jalan-jalan!

 

****

 

Di bawah ini naskah asli sebelum disunting oleh awak majalah.

 

            Merah. Merah. Merah. Otak saya langsung tercuci oleh warna itu kala menyapukan pandang pada benteng peninggalan Belanda ini. Van der Wijck. Itulah namanya. Saya lantas teringat pada novel besutan Buya Hamka, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, yang beberapa waktu lalu diangkat ke layar lebar. Itu kapal. Namun, bangunan di depan saya ini benteng. Kira-kira, adakah kaitan di antara keduanya?

            Pada siang nan gerah itu, suasana di luar benteng cukup lengang. Di dinding sebelah kanan pintu gerbang benteng, tulisan “Aku Dibangun Tahun 1818” tampak mencolok terpampang. Kalau tak kritis, pengunjung akan menelan sepotong informasi itu mentah-mentah. Karena fakta sebenarnya, bekas kantor kongsi dagang VOC ini dibangun pada 1844 dan selesai empat tahun berikutnya.

            Waktu itu, benteng yang terletak di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, ini dijadikan markas pertahanan Belanda untuk memerangi Kesultanan Yogyakarta. Awalnya benteng ini dinamai Fort Cochius atau Fort Generaal Cochius yang diambil dari nama seorang komandan di Hindia Belanda, yakni Letnan Jenderal Frans David Cochius. Dia yang memimpin pasukan Belanda di Gombong pada masa Perang Dipanegara tahun 1825-1830.

            Namun, namanya yang tersemat di benteng diganti oleh salah satu keturunan dari dinasti Van der Wijck. Dugaan terkuat pengganti nama Cochius adalah Johan Cornelis Van der Wijck. Ia pernah diangkat sebagai Kepala Militer Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) pada 1903. Tahun berikutnya ia dimandati tugas sebagai Gubenur Sipil dan Militer Sementara di Aceh. Pangkat Letnan Jenderal-nya ia dapatkan pada 1905. Dua tahun kemudian ia pensiun dari militer dan banyak mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Belanda. Salah satunya adalah pengabadian namanya pada bangunan di depan saya ini.

            Akan tetapi, entah mengapa patung dengan seragam hitam, kumis sangar, dan memegang senapan yang ada di kiri gerbang benteng bukanlah patung Cochius atau Van der Wijck. Di bawahnya tertera nama F. A. Kortz. Ia pejabat militer Belanda yang bertugas pasca masa Cochius. Fakta yang kian menegaskan bahwa benteng ini dibangun bukan pada kurun 1818.

            Saya memasuki benteng dua lantai ini melalui pintu utama sebelah barat. Aura kokohnya langsung terasa, mengingatkan saya pada Benteng Vredeburg di Yogyakarta dan Benteng Marlborough di Bengkulu. Tebal dindingnya mencapai 1,4 meter. Pintu utama berbahan baja yang berukuran 3,25 meter x 3 meter coba saya dorong, namun bergesernya pelan sekali.

            Saya belok kanan, masuk ke salah satu ruang yang setengah bagian atasnya dicat putih dan setengah bagian bawahnya dicat hijau tua. Di situ terdapat foto-foto benteng, baik sebelum maupun sesudah dipugar. Foto-foto itu dibingkai dengan pigura bercat emas. Meski dengan keterangan minim, namun pengunjung bisa membayangkan rekam jejak benteng ini.

Ruang ini terhubung dengan ruang sebelahnya yang punya akses tangga menuju lantai dua. Anak-anak tangganya dari bahan semen yang sudah terkelupas di sana-sini. Kendati dinding lorongnya putih, namun lumut yang tumbuh tak bisa tersamarkan. Dengan kemiringan kurang lebih 60 derajat, saya cukup terbantu dengan pegangan besi yang terpasang di dinding.

Ruang-ruang di lantai dua tampak lebih terang. Itu akibat pantulan sinar matahari dari luar yang masuk lewat jendela. Di lantai dua ini terdapat 16 ruang besar yang berukuran masing-masing 6,5 meter x 18 meter. Jumlah dan ukuran ruangnya sama dengan di lantai satu. Ruang-ruang ini dulunya dijadikan barak militer, pos jaga, juga kantor.

Mbak Rodiyah, orang asli Kebumen, yang mengajak saya ke sini, menyarankan untuk ke atas. “Dek Lalu harus coba naik keretanya.” Hah, kereta?

Ternyata, untuk menarik minat wisatawan, pengelola benteng ini membangun fasilitas rel lengkap dengan kereta mini. Pengunjung seperti saya bisa menaiki kereta ini untuk mengitari benteng berbentuk segi delapan ini. Berkereta di atas ketinggian 10 meter? Siapa takut?

Kami sempat celingukan mencari petugas penjaga loket kereta ini. Saya mengira karena kami berkunjung hari Kamis, layanannya ditutup. Namun, dugaan saya meleset. Tak berapa lama, petugas berbaju biru dengan tulisan di punggung “Taman Rekreasi & Bermain Anak Benteng Van der Wijck Gombong” datang. Tiketnya dikenakan Rp8.000,00 per penumpang. Dua pengunjung lain yang kebetulan sedang duduk-duduk tak jauh dari situ, kami ajak juga. Tapi, mereka menggeleng-gelengkan kepala.

Hap! Saya sengaja duduk di kursi agak jauh di belakang, sementara Mbak Rodiyah selang satu kursi dengan petugas. Mesin kereta mini bercat oranye putih loreng-loreng dengan kursi biru ini mulai dinyalakan. Dalam hitungan detik, kami pun berangkat.

Kereta berjalan pelan. Saya edarkan pandangan ke sekeliling. Atap-atap benteng dengan bentuk piramida yang tersusun dari bata merah terlihat kusam. Tiang-tiang kecil di atasnya yang terbuat dari material sama tampak jauh lebih kusam terpoles cuaca.

Dari kereta ini pula, saya bisa melihat pemandangan yang lebih hijau di sisi luar benteng. Pohon-pohon berjejer di samping rumah warga dan barisan perbukitan di kejauhan. Mungkin begini sensasinya naik odong-odong selama 15 menit.

Memang, sejak dikelola pihak swasta pada 1998 kemudian direnovasi pada 2000, benteng ini menjadi salah satu tujuan wisata keluarga. Aneka sarana permainan anak-anak, seperti kolam renang, perahu angsa, mobil-mobilan, kincir putar, dan sebagainya dibangun. Ada pula gedung pertemuan untuk diklat, seminar, serta acara pernikahan. Meski hotel juga ada, namun bukan untuk umum. Fasilitas hotel ini hanya untuk mereka yang mengadakan pertemuan di situ.

Di musala yang terletak di sebelah barat benteng, saya dan Mbak Rodiyah tunaikan salat zuhur. Siang yang terik membuat tenggorokan kering. Kami pun menuju warung-warung yang ada di dalam kompleks Sekolah Calon Tamtama A itu. Sayang sekali, semuanya tutup.

Kami putuskan untuk mengitari sisi luar benteng. Taman-tamannya tertata rapi. Dari segi kebersihan pun, patut diacungi jempol. Ketika melihat ada kijang dalam kandang di sisi timur, saya sontak mencari-cari hewan lainnya. Siapa tahu memang ada kebun binatang mini di sekitar benteng. Nihil.

Saya dan Mbak Rodiyah pun bergantian saling foto. Dinding batu bata merah benteng ini amat mencolok untuk dijadikan latar foto. Untung saya datang dengan kostum hijau tua dan celana biru gelap. Kulit cokelat. Klop sudah!

Saya kira dengan tiket masuk seharga Rp8.000,00, benteng Van der Wijck ini amat cocok jadi tujuan wisata keluarga. Bangunan yang unik, bahkan satu-satunya benteng berbentuk heksagonal alias persegi delapan di Indonesia; fakta sejarah yang melingkupinya; juga ragam wahana permainan untuk anak-anak menjadikannya lokasi liburan yang pas untuk Anda sekeluarga.

Lantas, terkaitkah antara kapal dalam novel Buya Hamka dengan benteng Van der Wijck ini? Saya memang belum temukan sumber sejarah yang bisa merunut keterkaitan keduanya. Namun, mengingat fakta bahwa Johan Cornelis Van der Wijck meninggal pada 1919 sementara kapal ini dibuat perusahaan Belanda pada 1921, sangat mungkin jasanya yang banyak pada Belanda membuat namanya diabadikan pada dua karya itu.

 

Iklan

11 thoughts on “Van der Wijck di Ummi

  1. Belum juga kesampaian mlipir ke benteng ini, pdahal sudah lama mengundang rasa penasaran… Oh iya, tulisan yang dipublish Majalah UMMI nggak dipublish di blog, bro? 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s