Ilmu Menulis dari Sirikit Syah

Sirikit

Suasana diskusi dengan narasumber Bu Sirikit Syah (berbaju putih dan berjilbab di tengah) dan Mas Eko Prasetyo di samping kiri beliau

Sebelum Sabtu, 19 Juli 2014, saya hanya mengenal nama beliau tertera di buku juga media massa, utamanya lewat opini-opini kritis beliau di Jawa Pos. Beliau juga beberapa kali saya ketahui memberikan pelatihan menulis di kampus saya. Itu pun saya mesti terlewat.

Saya beruntung kiranya ketika Mbak Anggi, mantan jurnalis Nyata yang saya kenal pertama kali saat jalan-jalan bareng di Lombok, mengabari via Whatsapp tentang diskusi Writerpreneurship “Sukses dengan Menulis” yang diadakan oleh Sirikit School of Writing. Dari namanya saja kita sudah bisa menebak kalau sekolah menulis ini milik Bu Sirikit Syah.

Mumpung acaranya di akhir pekan, dalam suasana puasa Ramadan, plus keinginan untuk jumpa dengan Bu Sirikit, saya pun tak perlu pikir panjang untuk daftar.

Pada Sabtu pagi itu, akhirnya saya bisa juga bertatap muka langsung dengan beliau. Fisik beliau mengingatkan saya pada Bu Rochayati, guru bahasa Inggris saya semasa SMP. Kurus. Tapi, ketika mulai berbicara, aura kecerdasan beliau keluar. Sorot mata pun demikian.

Mengapa acara ini diadakan? Bu Sirikit bilang agar ada generasi penerus, yakni munculnya kader-kader penulis baru.

Beliau menyampaikan penjelasannya dengan bantuan power point. Sembari menyimak, saya berusaha menyalinnya. Tak lupa saya rekam suara beliau. Anda bisa mengunduhnya di akhir tulisan ini.

Menulis adalah cara persuasi yang sangat efektif,” tutur jurnalis senior ini, menyebutkan alasan menulis. Sebagai penekun tulisan opini di media massa, tak heran kiranya poin ini yang pertama kali mencuat di benak beliau. Tak bisa dipungkiri, argumentasi yang tersusun dengan baik dan kuat melalui tulisan di koran, misalnya, bisa menjangkau banyak pembaca sekaligus memengaruhi mereka.

Poin-poin lainnya tentang mengapa kita menulis, antara lain: menulis itu membebaskan dan menyembuhkan; menulis itu menghasilkan; menulis itu meningkatkan derajad kemanusiaan; yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi; dan dengan menulis, manusia bisa menulis sejarahnya sendiri sekaligus meninggalkan warisan (legacy).

Bu Sirikit pun membeberkan fakta-fakta di balik orang yang prigel menulis. Ia mengatakan, “Orang yang pandai menulis memiliki pola pikir yang terstruktur dan sistematis. Mereka juga memiliki rasa percaya diri yang baik.

Saya kira dua hal ini tercermin jelas pada sosok beliau.

Kala membahas genre tulisan fiksi, Bu Sirikit menuturkan kalau menulis fiksi membutuhkan kekuatan daya khayal (imajinasi) serta kekayaan diksi dan gaya bahasa. Ia menyarankan agar memulai dengan menciptakan tokoh (karakter), misalnya: perempuan berkalung surban. Bisa juga dengan membayangkan konfliknya terlebih dahulu. Atau menentukan latar (setting) yang eksotis, seperti: Laskar Pelangi, Negeri Lima Menara, dan 5 Cm. Demikian beliau menyontohkan.

Apa asyiknya menulis fiksi? Bu Sirikit yang juga menulis kumpulan cerpen Harga Perempuan dan Sensasi Selebriti ini berujar, “Menulis fiksi itu membebaskan. Fiksi tidak pernah salah. Kita pun bisa menjadi diri kita yang paling tersembunyi, atau bahkan bisa menjadi orang lain.

Dari fiksi, beliau beralih ke penulisan fitur (feature). Bahwa, bahan dasar fitur adalah pengamatan atau pengalaman nyata. Selain menggambarkan fakta dengan detail melalui rumus 5W+1H, jangan lupa untuk menambahkan mood, atmosfir, atau warna. Untuk memperkaya informasi, perlu digali dengan sering bercakap-cakap (wawancara).

Ibu dua anak sekaligus pakar jurnalisme ini mengutarakan indahnya menulis fitur, yakni antara lain: berbagi pengalaman, mencatat sejarah kita sendiri, mencatat peristiwa yang kita saksikan atau tempat-tempat yang pernah kita datangi, serta mengusik rasa kepedulian sesama sekaligus menghibur pembaca.

Perempuan yang telah mengunjungi empat benua dalam kapasitas sebagai jurnalis dan pembicara ini kemudian bertutur tentang menulis esai sekaligus opini. Untuk menulis esai, biasanya diawali gagasan tentang suatu hal, misalnya: kekaguman, keluhan, kekecewaan, harapan, dan lain-lain. Atau bisa pula karena adanya fenomena yang mengusik yang tengah terjadi di masyarakat. Tentu saja, biar esai kita bernas, perlu diperkaya dengan referensi, teori, juga data-data. “Kekuatan esai adalah pada orisinalitas dan aktualitas gagasan,” tegas beliau.

Apa enaknya menulis esai dan atau opini? “Kita bisa memengaruhi opini dan sikap atau perilaku pembaca. Dengan mengungkapkan gagasan atau temuan, kita pun bisa memperoleh pengakuan dari pihak lain. Selain itu, efek jangka panjangnya, kita bisa memperbaiki keadaan, entah itu sosial, politik, pendidikan, budaya, dan sebagainya.

Bu Sirikit tidak terus-terusan bicara. Ia menyilakan para hadirin untuk bertanya jawab sekalipun di tengah-tengah materi. Anda bisa menyimaknya di rekaman audio di akhir tulisan ini.

Setelah Bu Sirikit, pemateri berikutnya adalah Mas Eko Prasetyo, penulis dan editor buku. Selain menjadi seorang writerpreneur alias pebisnis di bidang kepenulisan, ia juga pengajar di Sirikit School of Writing.

Menurut Mas Eko, prinsip writerpreneurship itu sederhana saja, yakni bagaimana ‘menyulap’ kertas satu rim yang seharga Rp30 ribuan itu menghasilkan Rp30 juta.

Tentu saja tidak segampang itu. Seorang writerpreneur harus bisa menguasai genre menulis lintas bidang. Ia harus bisa menulis fiksi dan nonfiksi sama baiknya. Untuk mencapai level itu, tentu saja butuh proses panjang, kesabaran, dan ketekunan.

Mas Eko juga menekankan pentingnya jejaring. “Jejaring itu aset.”

Bagi Redaktur Opini Jawa Pos ini, ia memiliki motivasi menulis yang menurutnya dahsyat. “Menjadi orang yang bermanfaat.”

Saya mengamini apa yang ia sampaikan. Sampai detik ini pun, selain prinsip verba volant scripta manent, saya juga memegang teguh prinsip kebermanfaatan melalui tulisan. Ini yang jadi bahan bakar saya untuk tidak bosan dan tak henti mengembangkan keterampilan menulis.

Maka, apresiasi tinggi saya berikan pada orang-orang yang gigih menekuni ‘jalan sunyi’ ini.

 

N.B. Rekaman audio suasana diskusi bisa Anda unduh di sini.

 

Iklan

8 thoughts on “Ilmu Menulis dari Sirikit Syah

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s