Buka Lebar Pintu Toleransi

Umen, Fatah, Abner

Umen (Jakarta), saya (Lombok), dan Abner (Papua) di depan SD Muhammadiyah Gantong, Belitong pada 2011

Surat di bawah ini terpilih sebagai salah satu pemenang Lomba Menulis Surat untuk Calon Presiden 2014 yang diadakan oleh Inspirasi.co.

 

Kepada Calon Presiden 2014 yang saya kasihi.

Saya merangkai surat ini di dalam kamar yang gelap. Lampunya memang sengaja saya matikan. Biar saya bisa fokus menghadap layar netbook saya. Ini salah satu cara saya untuk memusatkan pikiran agar gagasan-gagasan bisa berdatangan dengan deras.

Kamar yang gelap mengingatkan saya pada seorang teman berkulit gelap. Dia berasal dari Papua. Namanya Abner Krey Koibur. Kami pertama kali jumpa di Jakarta tahun 2011. Saat itu, saya, Abner, dan 58 orang lainnya dikumpulkan di sebuah gedung milik sebuah stasiun televisi swasta. Kami terpilih dari belasan ribu peserta untuk menjelajahi wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Kami dibagi dalam 20 tim. Masing-masing tim terdiri dari tiga orang.

Saya, Abner Krey Koibur, dan Yusman Firmansyah tergabung dalam Tim Sumatera 3. Kami mendapat tugas jelajah di empat provinsi, yakni: Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Kepulauan Bangka Belitung. Kami menjelajah selama 17 hari. Tidak hanya untuk jalan-jalan semata, tapi menulis dan memotret. Tulisan dan foto itulah yang kemudian kami unggah di situs yang disediakan panitia. Sebab, misi kegiatan itu adalah menyebarkan semangat “Aku Cinta Indonesia”.

Calon Presiden yang saya sayangi.

Terpilih menjadi salah satu petualang di ajang itu, bagi saya, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Sebab apa? Saya mendapat kesempatan untuk melihat belahan bumi Indonesia lainnya. Saya berasal dari Lombok, kuliah di Pulau Jawa, tepatnya Surabaya. Dan, waktu itu wilayah jelajah saya hanya sekitar Pulau Jawa saja. Maka, peluang untuk melihat dari dekat bagian lain Indonesia yang luas ini adalah hal yang wajib saya syukuri.

Selain itu, ada satu hal yang istimewa, menurut saya. Tim kami, Sumatera 3, terdiri dari tiga pemuda yang mencerminkan multikulturalisme Indonesia. Yusman Firmansyah, asli Sunda yang kini tinggal di Jakarta. Saya, orang Sasak tulen yang lahir dan tumbuh remaja di Lombok. Sementara Abner Krey Koibur adalah orang Biak yang sekarang menetap di Jayapura.

Jawa. Lombok. Papua. Tiga pemuda dari tiga daerah pembagian waktu di Indonesia. Kenyataan itu membuat saya menyadari kekayaan sesungguhnya yang dimiliki bangsa ini. Kekayaan itu bukanlah barang tambang, gas alam, hutan, ataupun lautan. Tapi, kekayaan itu adalah manusia. Manusia Indonesia yang beragam. Multikultural. Berbeda-beda tapi setara.

Poin terakhir itulah, Pak, yang terus coba saya pupuk dalam diri saya. Ketika jargon itu saban waktu saya rawat di hati, maka saya memperkecil kesempatan untuk bertindak diskriminatif. Saya belajar untuk menempatkan diri. Saya pun belajar untuk menempatkan orang dalam porsi yang tepat. Tidak gegabah membuat penilaian berdasar penampilan luar semata memberi label negatif yang berasal dari pemikiran sempit.

Sebab yang hakiki adalah apa yang ada di dalam. Manusia seperti saya, pun Bapak, kiranya takkan pernah bisa benar-benar adil menilai seseorang. Tapi, perkaranya bukan di situ. Perkaranya adalah bagaimana mendangkalkan palung pembeda-bedaan alias diskriminasi.

Karena diskriminasi itulah yang kerap menjadi pemicu perselisihan di negeri kita. Apalagi diskriminasi yang terkait suku bangsa. Bahaya latennya jauh lebih besar daripada radikalisme agama atau laten komunis. Sebab taruhannya tidak main-main. Republik ini bisa pecah menjadi keping-keping negara kecil.

Saya tak bisa bayangkan jika kelak berkesempatan mengunjungi Abner di Papua sana, saya harus membuat visa. Jangan sampai.

Garis batas memang akan selalu ada. Itu sudah suratan takdir. Tapi, kita masih bisa memilih, apakah menebalkan garis batas itu atau justru menipiskannya.

Saya pernah membaca pernyataan Denny J.A. dalam buku Menjadi Indonesia Tanpa Diskriminasi. Bunyinya begini, “Meski berada dalam struktur yang diskriminatif, individu pada dasarnya juga secara aktif bisa mengubah, dan menyesuaikan diri. Sejarah memperlihatkan banyak wilayah yang semula diskriminatif bisa keluar dari kondisi yang diskriminatif tersebut ketika aktor secara aktif mengubah kondisi yang diskriminatif tersebut.”

Siapa aktor tersebut? Saya, Abner, Yusman, Anda sebagai calon Presiden RI, dan siapa pun yang tinggal di Republik ini. Semua punya tanggung jawab moral untuk tidak diskriminatif pada orang lain. Bahkan, secara hukum, tanggung jawab itu pun ada. Sebagaimana telah diatur dalam Pasal 28 I ayat (2) UUD 1945 bahwa, “Setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif tersebut.”

Oh iya, apakah Bapak pernah mendengar Gerakan Sabang Merauke? Setahun yang lalu gerakan itu digulirkan oleh para pemuda di Jakarta yang pernah menjalani hidup di lingkungan berbeda hingga lintas negara. Moto program mereka membuat saya sungguh tergugah, “Toleransi tidak bisa hanya diajarkan, toleransi harus dialami dan dirasakan.”

Coba Bapak ulang baca dengan pelan-pelan moto mereka. “Toleransi tidak bisa hanya diajarkan, toleransi harus dialami dan dirasakan.”

Mereka merealisasikan gerakan sosial ini dalam bentuk program pertukaran pelajar antardaerah yang menekankan nilai-nilai toleransi, pendidikan, dan keindonesiaan. Beberapa anak dari Sabang hingga Merauke yang diajak untuk meluangkan waktu libur sekolah mereka selama dua pekan untuk tinggal di Jakarta.

Meski tidak terlibat langsung di dalam gerakan sosial ini, namun visi yang sama menggerakkan tangan saya untuk membagikan informasi di jejaring sosial. Hasilnya, teman saya, seorang ibu muda dengan satu putri, setelah melalui serangkaian penilaian, terpilih menjadi Famili Sabang Merauke (FSM). Ia dan keluarga kecilnya adalah Jawa muslim. Sementara Anak Sabang Merauke yang beruntung mengalami toleransi dengan mereka adalah seorang siswi SMP bernama Villa. Ia beragama Hindu dari Suku Tengger, Bromo.

Satu hal yang paling membekas di ingatan saya kala teman itu bercerita mengenai ibadah. Tahun lalu, kala program ini dijalankan pertama kali, bertepatan dengan bulan puasa. Ia dan keluarga kecilnya tetap berpuasa, namun tidak melupakan tanggung jawabnya untuk menyediakan sarapan juga makan siang bagi Villa. Bahkan, sebelum Villa menginjakkan kaki di Jakarta, ia dan suami sudah sibuk mempersiapkan fasilitas sembahyang bagi Villa.

Di benak saya, satu potret kecil itu indah sekali. Saya membayangkan, potret semacam itu menghiasi lingkungan tempat tinggal kita. Menghiasi Indonesia.

Itu satu gerakan sosial saja, Pak. Gerakan yang muncul dari kesadaran individu-individu. Sebuah kesadaran kolektif yang – saya yakin Bapak setuju – perlu ditumbuhkembangkan di alam bawah sadar bangsa ini.

Bapak sebagai calon presiden republik ini, tentu sudah mengalami dan merasakan toleransi itu. Bahkan telah menggambarkannya secara tersirat dalam visi dan misi. Nah, sekarang tinggal bagaimana merealisasikannya. Membuat prosesnya berjalan secara wajar dan bertahap untuk menghindari resistensi yang bersifat kekerasan atau provokasi tertentu yang memperkuat isu perbedaan.

Pun kelak, ketika Bapak terpilih sebagai presiden, visi dan misi itu Bapak ejawantahkan dalam sebuah tata kelola sosial, ekonomi, dan hukum yang menjamin bahwa praktik diskriminatif tidak berkembang. Melalui pemerintahan Bapak dan juga pilar demokrasi ketiga, yakni media, publik di negeri ini dapat dididik untuk bertoleransi. Ketika pendidikan yang mengakomodasi nilai-nilai toleransi telah diinspirasikan ke warga, pengalaman nyata hidup dalam perbedaan pun diberi ruang, maka menurut hemat saya, hidup berdampingan secara damai bukanlah hal yang utopis.

Calon Presiden RI yang saya cintai.

Saya boleh usul, tidak? Berhubung saya suka jalan-jalan dan merasakan betul manfaatnya dalam meluaskan cakrawala berpikir, termasuk hidup bertoleransi dalam perbedaan, saya usul agar layanan transportasi publik di negeri ini benar-benar ditingkatkan. Tidak hanya membangun dan memperbaiki jalan-jalan darat di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi & Papua; tidak hanya membangun bandara-bandara baru dan merenovasi yang lama; tapi juga membangun jaringan transportasi laut yang memadai melalui pelabuhan.

Ini bukan perkara ekonomi semata, tapi ini masalah akses menuju Indonesia tanpa diskriminasi. Ketika rakyat bisa bepergian ke berbagai wilayah di negeri ini dengan mudah dan biaya terjangkau, pembauran akan terjadi. Komunikasi terjalin yang dilandasi sikap saling menghormati. Pengalaman nyata hidup di tengah kemajemukan tak terelakkan. Maka, kesadaran hidup bertoleransi pun kian menebal seiring dengan kerendahhatian untuk mau terus belajar.

Saya berani mengutarakan ini pada Bapak karena saya telah merasakan manfaat positif dari bepergian di berbagai wilayah di Indonesia. Lebih-lebih, Tuhan pun dalam kitab suci-Nya memerintahkan manusia agar berjalan dan mengenal ragam manusia di muka bumi. Dengan berjalan, kita semakin mengenal diri kita. Kita pun belajar mengenal Pencipta kita. Pelan-pelan, hakikat bahwa manusia diciptakan untuk jadi pemimpin di muka bumi ini, pun bisa kita sadari. Tentu, pemimpin yang bisa berkontribusi menuju perubahan yang lebih baik.

Memang ini bukan proyek “Roro Jonggrang” yang bisa terealisasikan dalam waktu semalam. Namun, bukan berarti harapan itu tak ada. Bapak berkomitmen untuk mewujudkannya? Jika iya, saya bergabung.

 

 

Salam semangat,

 

Lalu Abdul Fatah

 

 

Iklan

7 thoughts on “Buka Lebar Pintu Toleransi

  1. Sangat menggugah, Mas. Saya sering menyimpan kekhawatiran yang sama setelah Timor Timur lepas, karena mereka lebih bahagia merdeka. Semoga Bhinneka Tunggal Ika di lambang Garuda senantiasa tertancap dalam di kalbu bangsa Indonesia 🙂

    • Aamiin… Mengenai Timor Leste, dari tuturan seorang jurnalis kawakan beberapa hari lalu, beliau memberi tahu saya bahwa justru mereka masih ingin tetap dengan Indonesia. Kendati bahasa Indonesia tidak diajarkan di sekolah, tapi mereka berusaha untuk mengajarkan ke anak-anak mereka. Mereka juga kangen dengan siaran-siaran infotainment Indonesia 🙂

      • Hmmm, begitu ya, suara rakyat benar-benar layak didengar bagi orang-orang yang tahu cinta dan rindu 🙂

  2. Semoga Pak Jokowi bisa membantu kita mewujudkan Indonesia tanpa diskriminasi ya Tah… Karena hidup bertoleransi itu sungguh indah.

    Satu kata untuk surat ini, KEREN..!!

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s