Rani yang Berani

Rani

Rani Lukitasari. Sumber: http://bromomarathon.com

 

I am a girl who always wonders to wander around the globe, because I do believe that the real university is the universe itself, where I can always learn while I  breathe at once. [Rani Lukitasari]

 

Suatu ketika saya bertanya padanya. “Ran, cita-citamu apa?” Waktu itu kami sedang duduk-duduk mengobrol.

“Aku pengin jadi ibu rumah tangga, Lalu.”

Jawaban yang tak saya sangka. Sebab, menilik rekam jejak aktivitas dan prestasinya selama kuliah, saya membayangkan ia akan masuk Kementerian Luar Negeri. Mengawali karier sebagai diplomat, mungkin. Saya membayangkan ia jadi duta besar kelak. Suatu hal yang ideal bagi anak-anak yang masuk jurusan Hubungan Internasional.

Tapi, perjalanan hidup anak manusia tak bisa ditebak. Masa depan memang misteri. Itulah sebab kehidupan menarik untuk dijalani.

Termasuk kawan saya ini. Beberapa minggu lalu saya ke kampus dan menemukan nama dan statusnya yang telah mengundurkan diri dari administrasi. Ya, dia memilih untuk tidak menyelesaikan kuliah S1-nya.

Saya tak habis pikir. Bagaimana mungkin seorang Rani yang dulu sempat mewakili FISIP sebagai mahasiswa berprestasi untuk berlaga di tingkat universitas, memutuskan untuk tidak menyelesaikan kuliahnya? Bagaimana seorang Rani yang tidak diragukan lagi kecerdasannya dan sempat berkuliah satu semester di Istanbul, Turki, lewat beasiswa Erasmus Mundus, memilih untuk banting setir?

Ibaratnya sebuah lukisan, foto, atau buku yang menarik perhatian, kawan saya ini menghadirkan sebuah kontras. Ya, ia memilih jalan berbeda yang tidak ditempuh mahasiswa kebanyakan saat ini. Ia lebih memilih belajar di ‘jalanan’ kehidupan. Sebagaimana percikan-percikan pemikirannya yang ia tuangkan di blognya.

Lama sudah kami tak bersua. Tiga tahun lebih kalau hendak menghitung. Kami sama-sama ‘menghilang’ dari kampus. Saya mengikuti apa yang menjadi renjana saya. Renjana yang menemukan suluh terangnya justru di akhir masa studi.

Rani? Sebagai mahasiswi yang pantas untuk lulus awal, ‘hilang’nya Rani tentu memicu tanya. Sedang apa dia? Di mana posisinya? Dari teman-teman kuliah, saya hanya dapat kabar kalau ia masih di Malang. Sibuk mengurus penginapannya.

Sempat pula kami bercakap melalui Whatsapp. Itu pun ajakan saya untuk bimbingan skripsi. Tapi, hanya ada obrolan singkat.

Semester demi semester berlalu. Entah bagaimana ceritanya, saya pun mencarinya di Twitter. Bertemu. Ada alamat blognya di sana. Meluncurlah saya. Dan, terpampanglah kisah-kisah perjalanannya ke negara-negara tetangga. “I am a  student of the universe, learner,  explorer, traveler, and avid reader. I’m not an intense traveler, but yes, just like you, I’m a cultural and natural experiences junky. So let’s wander together, and wonder what we’ll learn from it.” Begitu ungkapnya di blog bertajuk “Wonder to Wander: The Life of A Student of the Universe” itu.

Dan, sedikit berbeda dari blog traveling kebanyakan yang saya baca selama ini, Rani tidak membicarakan tempat, sesuatu yang di luar dirinya. Tempat hanyalah latar. Ia justru lebih menekankan pada hal-hal yang boleh saya bilang sebagai bentuk perjalanan ke dalam. Inner journey.

Ada kegelisahan. Pencarian. Refleksi. Upaya memahami diri. Sila baca saja catatan-catatan kontemplatifnya.

Pada bagian ini, saya kembali teringat pada obrolan kami tentang buku. Saat itu, ia menjelaskan alasannya menyukai karya-karya Raditya Dika. Kurang lebih ia berkata bahwa, tulisan-tulisan Raditya Dika tidak sekadar lucu, tapi juga kontemplatif. Ada pesan yang ia selipkan, biasanya di akhir tulisan.

Saya kira, lewat pengalaman membacanya, Rani telah mampu menarik makna-makna. Ia pun mempraktikkannya lewat tulisan-tulisannya di blog. Dan, saya meyakini, ia pun mengamalkan itu dalam kehidupannya.

Saya menulis ini, bukan semata-mata kekaguman saya pada sosok Rani. Sosok cerdasnya. Tapi, lebih dari itu. Saya berupaya meraba-raba pergolakan batin yang ia alami. Pengalaman-pengalaman hidupnya yang membuatnya sampai pada titik: memutuskan untuk tidak menyelesaikan kuliah dan memilih belajar di universitas kehidupan. Saya menduga, buku-buku, interaksi dengan banyak orang, juga pengalamannya melihat dunia luar, memperluas perspektifnya dalam memandang hidup. Bisa jadi ia telah menginternalisasi perkataan John Dewey, filsuf Amerika yang juga seorang reformer pendidik, “Education is not preparation for life; education is life itself”.

Ketika beberapa penggalan awal tulisan ini saya unggah di Facebook, dosen saya, Pak Djoko Sulistyo, urun komentar. “Sekolah itu khan hanya sebagian dari proses seseorang mengalami pencerahan hidup..belajar hidup dan kehidupan itu jauh lebih penting dan luas maknanya..teman yang kamu maksud itu mungkin menemukan jati dirinya sehingga memutuskan ibu rumah tangga adalah karier yang paling mulia..dari sekian banyak peluang karier yang mungkin bisa dia raih…Allahualam.”

Di kolom komentar berikutnya, Pak Djoko menuliskan, “Baca wacana ini..saya baru menemukan inilah mahasiswa HI yang betul2 bukan hanya sekadar belajar menjadi seorang strtegist seperti yang diinginkan oleh Roadmap HI Unair..tapi dia dengan berani ambil keputusan menjadi seorang strategist sejati…kehidupanlah yang dia cari bukan sekadar mencari penghidupan…selamat Rani..engkau sudah lulus sederajad lebih dari S1 mungkin..dalam mengarungi kehidupan…”

Lewat bantuan Google, saya menemukan aktivitas termutakhir Rani. Ia rupanya sedang bergiat memberdayakan masyarakat lokal, salah satunya melalui kegiatan Bromo Marathon.

Ah, saya salut padanya. Ia seperti menyodorkan cermin pada saya. Apa yang telah kamu lakukan, Lalu?

Rani yang berani. Berani mengambil keputusan. Berani mendefinisikan kesuksesan hidupnya sendiri. Berani merasakan sari pati kehidupan.

Iklan

24 thoughts on “Rani yang Berani

  1. Di akhir masa perkuliahan saya juga sempat memutuskan berhenti dan tidak lulus. Bedanya, saya tidak sehebat dan tidak se-awesome Rani. 🙂

  2. Orang seperti Rani lah yang kerap menampar saya untuk berbuat sesuatu. Keluar sejenak dari rutinitas yang mematikan kreatifitas berpikir. Selamat Rani n Terimakasih Lalu buat tulisannya 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s