Di Puncak

???????????????????????????????

Saya naik ke sebuah bukit di Sembalun Lawang pada September 2010, dalam rangka menulis buku Travelicious Lombok. Indah memang, memandang ke bawah. Tapi, tujuan saya bukan berlama-lama di situ.

“Seseorang yang sudah berada di puncak, biasanya enggan turun. Karena dari puncak, ia bisa melihat ke bawah. Pemandangannya lebih indah. Dan, kamu, Tah, sudah berada di puncak itu.”

Suatu kala, seorang kawan berkata demikian pada saya. Saya enggan mengiyakan. Sepenuhnya meragukan. Benarkah demikian? Atau ini perkara persepsi semata?

Bagaimana ia tahu kalau saya sudah di puncak? Bagaimana ia tahu apa yang bergejolak di hati saya? Bagaimana ia tahu bahwa menulis yang saya tekuni saat ini telah mengantarkan saya sampai puncak – hanya berpatokan pada buku yang telah saya terbitkan?

Dunia menulis tidak sesempit itu. Kenal dan berteman dengan banyak penulis membuat saya mau tak mau belajar memetakan diri. Di mana posisi saya saat ini? Klaim pribadi pun tidaklah tepat saya lakukan. Orang lain yang menilai. Tapi, sebatas itu. Yang tahu persis tentang diri saya adalah saya pribadi.

Musfar Yasin, penulis skenario Get Married, Kiamat Sudah Dekat, Ketika, Naga Bonar (Jadi) 2, dan Leher Angsa yang kebetulan satu desa dengan saya di Lombok sana, pernah bilang, “Saya tidak ingin merasakan kesuksesan. Saya hanya ingin berkembang.” Membaca kalimatnya itu, saya tergetar. Dari lubuk hati terdalam, saya mengamini kata-katanya. Ketika kesuksesan dimaknai sebagai puncak, acap kali kejumudan terjadi. Tumpul. Mentok. Sebab, otak sudah diset untuk mencapai puncak. Tuntas sudah. Mau mencapai apa lagi?

Seperti itulah kemapanan. Ia membuhul kuat kreativitas. Kecuali jika kegelisahan terus ditumbuhkan, saya kira tidak akan sampai di situ sahaja.

Puncak menurut orang lain, padahal lembah bagi saya. Menerbitkan buku cuma sejengkal langkah. Ia bukan muara dari sungai kepenulisan.

Saya hanya ingin berkembang. Mengoptimalkan potensi yang saya punya. Menulis buku bergenre perjalanan hanya bagian dari proses menulis saya. Saya tertantang menembus National Geographic. Saya tertantang menulis novel. Saya masih penasaran dengan beasiswa kepenulisan di luar negeri. Saya bermimpi kelak karya saya dialihrupakan ke bentuk lain, seperti film. Saya membayangkan punya program di tv tentang buku. Saya masih menyimpan cita-cita keliling dunia dengan menulis.

Juni lalu, saya ditawari mengajar menulis untuk anak-anak dan remaja. Lembaganya bernama Indonesia Writing Edu Center (IWEC). Basisnya di Surabaya. Ini hal baru buat saya. Adrenalin saya dibikin meletup. Penasaran. Tertantang. Cuma, biar tidak kebablasan senang, saya tekankan ke diri agar menjadikan ini sebagai wahana belajar. Saya akan bisa memaafkan diri jika kelak tak becus. Ini sekaligus sebagai kontrol diri agar selalu ingat dengan tujuan awal saya.

Tak tahunya, gabung di sini, katup-katup bakat dalam diri saya dipaksa terbuka. Sebulan tak sampai, kami membikin acara edukasi literasi seminggu penuh di atrium utama sebuah mal. Personil inti cuma tiga orang. Satu orang ditarik untuk membantu paruh waktu. Kerja kami rangkap-rangkap. Saya di’paksa’ jadi MC. Saya memoderasi acara bincang-bincang. Belum lagi kerja fisik lainnya.

Ini wadah untuk gembleng diri. Saya cuma berpikir, ini arena untuk belajar. Belajar. Belajar.

Melalui IWEC, sebuah sekolah dasar swasta Islam di dekat Taman Bungkul, SD Al-Falah, meminta kami untuk menjadi mentor ekstrakurikuler jurnalistik. Saya dan kepala sekolah IWEC mengajar di SD. Di kelas yang ramai. Ada sekitar 25-an anak. Beda dengan di IWEC yang kelasnya paling banyak berisi tujuh orang.

Itu juga tantangan. Apalagi anak-anak punya karakter beragam. Tingkah yang macam-macam. Everybody wants to be heard, kata Josh Groban lewat lagunya. Persis cerminan lagu itu ada pada diri anak-anak itu.

Dan, tiga minggu lalu, saya ditawari membimbing para santri di Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang, tepatnya Asrama Al-Furqon, untuk menulis. Jumlah mereka kisaran 26-an. Tiap Jumat subuh saya berkereta dari Surabaya. Belajar selama tiga jam dari pukul 8 hingga 11.

Itu juga pengalaman baru. Ada banyak hal yang saya catat di otak dan hati saya mengenai  pesantren. Utamanya, apa yang saya indra sejauh ini. Tentang adab mereka saat belajar, saat menghadapi guru, kebiasaan-kebiasaan mereka. Atmosfer belajar menulis di IWEC berbeda dengan SD Al-Falah juga di pondok pesantren Darul Ulum.

Apa yang saya cari? Pengalaman, menggali diri. Saya sempat niatkan pula sebagai tabungan pengalaman kelak ketika mendaftar di Indonesia Mengajar. Itu pun jika saya bernasib di sana. Kalaupun tidak, menulis harus jalan terus. Menumbuhkan semangat menulis di kalangan anak muda, harus jalan terus.

Itu mengajar. Sesuatu yang sebenarnya tak asing dengan saya. Sebab, semasih remaja, saya mengajar anak-anak tetangga yang mengaji di musala dekat rumah.

Semacam sikluskah, jadinya? Mungkin.

Lalu, kesempatan lain menghampiri. Kakak kelas di SMA yang belasan tahun di atas saya menawari menulis buku biografinya. Ia domisili di Belanda dengan suaminya yang asli sana. Dua minggu lalu ia pulang ke Lombok. Hari minggu lalu saya bertemu dengannya dan memulai wawancara, observasi, gali informasi data.

Mengenai ini, saya menerima tawaran dia karena teringat kata-kata yang pernah saya ucapkan pada teman-teman kuliah saya, “Nanti kalau kalian jadi orang, aku yang nulis buku biografi kalian, ya?”

Saya pikir, saya bisa jelmakan kata-kata saya melalui proyek ini.

Oke. Kembali ke puncak.

Puncak? Punya buku bergenre perjalanan, itu bukan puncak bagi saya. Itu anggapan orang lain. Saya kira, tetap perlu didengarkan sebagai ‘pengusik’ sekaligus penguat visi.

Jadi, saya harus berterima kasih pada kawan itu.

Iklan

19 thoughts on “Di Puncak

  1. Katanya yang membuat orang bahagia itu bukan krn berada di puncak, justru self improvement-nya, merasa diri berkembanglah yang membuat bahagia.
    Gak ada perkembangan malah jadi membosankan..

  2. Kalau sudah di puncak, nggak ada pilihan lagi selain turun. Hehe
    Kalau kita nulis tujuannya cuma buat diterbitkan ya mungkin seperti itu kerasanya. Tapi kalau nulis sudah benar2 jadi passion bakal lain lagi ceritanya. Salut buat fatah yang makin hari makin banyak pengalamannya 🙂

    • Betul, Mbak. Tergantung apa yang menjadi tujuan kita. Kalau kata Chris Jhons, editor in chief National Geographic Magazine, “risiko adalah bagian dari kreativitas.” Ini adalah risiko yang coba saya ambil demi kreativitas yang terus terjaga 🙂

  3. Senang bisa kenal anak muda seperti Lalu.Jadi ketularan semangatnya juga.:D
    Semoga semakin banyak karya yang dibuat dan menginspirasi lebih banyak orang lagi.
    Kapan ya bs ngobrol2 langsung? 😆

  4. “Saya tidak ingin merasakan kesuksesan. Saya hanya ingin berkembang.”
    Itu menginspirasi sekali. 🙂
    Semoga semakin banyak berkarya dan cita-citamu tercapai. Bukan untuk sukses, namun untuk terus berkembang.

  5. Very inspiring, brother…. 🙂
    Pengalaman-pengalaman itu semakin memperkaya perjalananmu, semoga kamu bisa mewujudkan apa yang menjadi mimpi-mimpimu… 🙂
    Btw, aku juga masih menabung mimpi untuk bisa keliling dunia dengan menulis, hehehe…

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s