Tak Henti Gerakkan Tangan

Al-Furqon. Pembeda. Demikian nama asrama ke-27 di lingkungan Pondok Pesantren Darul ‘Ulum ini. Di sinilah saya telah tujuh minggu berjumpa dengan para santri penghuninya. Kami belajar menulis bersama tiap Jumat pukul 08.00 – 11.00.

Awal jumpa dengan pengasuh asramanya yang seusia dengan saya, Gus Azmy, saya bisa merasakan semangatnya untuk membuat para santri asuhannya mahir menulis. Ia bercermin dari pengalamannya saat kuliah di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Teman-temannya aktif berdiskusi juga menulis. Selama menimba ilmu di jurusan Sosiologi, ia dan kawan-kawannya pun telah melakukan kegiatan-kegiatan sosial.

Mereka memulainya dari pemikiran. Mengisi kepala dengan bacaan-bacaan. Lantas, mendialogkannya. Wacana itu kemudian dituliskan. Kegelisahan demi kegelisahan menguar. Itu tak cukup. Tindakan nyata, berbuat pada sekitar, itu langkah mereka selanjutnya.

Itulah yang diinginkan oleh Gus Azmy, diasah pada para santrinya.

Sejatinya, saya satu pemikiran dengannya. Saya juga bercita-cita agar lebih banyak lagi anak muda yang giat menulis. Menulis yang diawali dengan tekun membaca, mengisi hidup dengan pengalaman-pengalaman nyata, banyak berdialog dan berkontemplasi, lalu merefleksikannya. Saya telah mengisahkannya di sini.

Saya memutar otak. Metode seperti apa yang harus saya pakai untuk membimbing adik-adik ini menulis. Di IWEC (Indonesia Writing Edu Center), saya telah mempelajarinya. Permainan dan outing alias belajar di luar kelas adalah dua di antaranya.

Dari informasi yang sempat saya kumpulkan, tidak semua adik-adik yang rata-rata kelas 2 SMA ini telah klik dengan menulis. Jadi, tugas saya adalah membuat mereka senang menulis dulu. Menebas hambatan-hambatan yang kerap meneror mereka untuk enggan menulis.

Jumat pertama (31 Oktober 2014), saya berkereta dari Surabaya ke Jombang. Berangkat pukul 04.10 dan tiba satu setengah jam kemudian di Stasiun Peterongan.

Dikarenakan aula asrama dipakai untuk lomba, kami pun belajar di ruang ‘tengah’ asrama putri. Kami duduk bersila.  Santriwati dan santriwan dipisahkan duduknya. Papan putih dan spidol disediakan untuk saya.

Santriwan tekun menulis di buku besar

Santriwan tekun menulis di buku besar

Saya membawa buku Keep Your Hand Moving karya Anwar Holid. Saya jadikan acukan untuk memulai kelas menulis. Menulis itu sejatinya upaya membebaskan pikiran. Mengaksarakan apa yang masih abstrak di pikiran. Tidak perlu khawatir salah dan benar. Lepaskan diri dari belenggu aturan kebakuan dan EYD yang mungkin selama ini meneror.

Saya merasa harus mengenali dulu apa yang jadi motivasi mereka hadir di kelas menulis. Berlandaskan keep your hand moving yang didengungkan oleh Natalie Goldberg, saya meminta 26 santri ini menuliskan 10 alasan mereka. Tuliskan saja sejujurnya.

Dengan mengetahui secara terang apa jadi alasan mereka,setidaknya mereka punya gambaran, apa yang jadi ekspektasi (harapan) ikut kelas menulis. Ini landasan yang harus kuat mereka punyai agar tak gampang patah semangat kala mood dijadikan kambing hitam.

Diri. Diri adalah sumber inspirasi yang paling gampang dalam menulis meski tidak segampang yang dibayangkan. Menulis adalah upaya untuk mengenali diri, demikian hemat saya. Maka, saya tekankan pada mereka agar peka mendengar kata hati. Nurani adalah hakim yang paling jujur, siapa pun mengetahui ini.

Santriwati asyik menulis duduk senyaman mereka

Santriwati asyik menulis duduk senyaman mereka

Lantas, saya meminta adik-adik ini menuliskan apa yang jadi ketakutan terbesar mereka. Tentu, lagi-lagi mereka harus menulisnya dengan jujur. Ketika saya meminta beberapa orang membacakan apa yang telah mereka tulis tentang ketakutan terbesar ini, rata-rata memang takut mengecewakan orangtua.

Dari situ, dialog saya munculkan. Apa bentuk perbuatan yang mereka anggap bisa mengecewakan orangtua? Jika orangtua kecewa, lantas apa yang akan mereka perbuat? Bagaimana mereka memaknai ‘berbakti pada orangtua’? Apakah dengan mengikuti semua perintah mereka? Apakah keberbaktian itu berarti mengiyakan semua keinginan orangtua? Bagaimana cara mereka mendialogkan keinginan mereka dengan keinginan orangtua?

Ketika mereka membacakan tulisan mereka, tiba-tiba terlintas hal lain di kepala saya. Saya pernah baca tentang WAYS – write as you speak. Bagaimana mengidentikkan antara tulisan dengan omongan. Apakah gaya penyampaiannya sama? Bagaimana menurut mereka tentang Raditya Dika, apakah gaya penyampaian tulisannya sama dengan gaya penyampaiannya kala bicara? Mereka pun saya minta saling menilai.

Maksud saya, WAYS ini cuma cara untuk mempermudah mereka menulis. Ketika mereka bisa lancar bicara, santai mengatakan sesuatu pada teman, misalnya, maka sejatinya mereka bisa terapkan itu dalam menulis. Menulis saja seakan-akan kamu bercerita pada orang lain.

Maka, saya pun meminta mereka menceritakan – lewat tulisan, tentu – tentang bayangan diri mereka 10 tahun ke depan. Sekalian mengaitkan diri mereka dengan kegiatan menulis. Semisal, Fayi dari Sidoarjo yang bercita-cita jadi TNI. Bisa jadi ia tak sekadar TNI biasa. Ia akan jadi TNI yang piawai menulis. Lantas menceritakan pengalaman-pengalamannya selama bertugas. Atau membagi pandangan-pandangan kritisnya terhadap kemiliteran di Indonesia.

Saya tekankan kembali tentang makna keep your hand moving. “Menulis sajalah sampai mandek. Tidak penting seberapa panjang pendeknya. Yang penting kalian menulis.”

Jelang pertemuan kelar, saya minta mereka menuliskan opini selama mengikuti kelas menulis. Saya minta mereka menuliskan saran, masukan, kritik, pun gagasan untuk kelas menulis yang ideal versi mereka. Sekali lagi, ini upaya membangun dialog. Ada interaksi. Saling berbagi. Karena saya pun sejatinya sedang belajar dari mereka.

Saat menulis pengalaman ini, saya malah berpikir bahwa di pertemuan pertama ini saya masih lompat sana lompat sini. Jejumpalitan. Saya rasakan betul celah kekurangannya di mana-mana. Mungkin adik-adik saya itu merasa dioper sana-sini.

Tapi, ya… saya memang harus memulainya. Sembari pelan-pelan mengevaluasi diri. Bisa jadi karena terlalu semangat ingin membagikan ini itu pada mereka.

Ya, saya rasakan itu.

Iklan

10 thoughts on “Tak Henti Gerakkan Tangan

  1. Bagus Mas. Kelasnya menarik 🙂 sangat inspiratif!
    sama Mas. saya juga merasakan hal demikian ketika awal mengajar bahasa prancis di asrama As’adiyah, asrama ke-XV dan di pusat studi bahasa Unipdu.
    Terasa melompat sana-sini ketika memberi materi karena harus disesuaikan dengan karakter murid dan lingkungan kemudian harus mencari berbagai metode yang tepat supaya terasa menyenangkan seperti lagu, games, video dll.
    Sebagai orang luar, yang tidak pernah tinggal di sini sebelumnya, terasa menyenangkan bisa saling belajar dan berbagi bersama dengan adik-adik di Darul Ulum. Mungkin lain waktu, jika ada kesempatan bisa sharing bareng mas 🙂
    Semangat ^^

    • Top! Saya pengin ketemu Anna. Mudahan sempat ya pas Jumat saya ke Jombang. Kenal Achmat Rosyida nggak? Dia kakak pembimbing anak-anak di Asrama Al-Furqon dan mengaku kenal Anna. Saya sudah titip salam lewat dia. Hehehe…

      Ya, saya pikir, saya perlu mendengar cerita Anna langsung terkait metode mengajar. Untuk menambah referensi.

      Selamat menebarkan ilmu bahasa Prancis yaaa 😉

      • Sip! Oh iya mas, sudah disampaikan. 🙂 wa’alaikumsalam
        Dia sering juga ke Pusat studi bahasa.

        Oke mas, saya juga pengen diskusi soal tulis-menulis
        Mas Lalu kenal sama mme Irma dan Mas Karguna juga ya? yang ngajar di IFI.

        Iya Mas terima kasih 🙂

      • Sip! Alhamdulillah kalau telah disampaikan 🙂

        Teh Irma dan Kang Karguna? Kenal baik. Awal kenal karena sebuku sama Kang Karguna di buku Storycake for Backpackers. Peluncuran di Gramedia Expo Surabaya, istrinya pun ikut. Dari sanalah hingga kini, kami telah beberapa kali kopdar. Teh Irma juga isi acara buat Goodreads Surabaya bertema literatur anak Prancis. Menyenangkan 🙂

        Catatan mengenai itu bisa dibaca di http://nabilabudayana.blogspot.com/2014/10/bincang-litterature-de-juenesse-lpm-gri.html

        😉

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s