Bagaimana Jika Emasnya Monas Menghilang?

Bagaimana jika green house diubah menjadi kamar?
Bagaimana jika emasnya Monas menghilang?
Bagaimana jika kamu disuruh oleh Gus Azmi salto dari atas genteng/atap asrama?

Gegara cari materi menulis lewat Pinterest, saya menemukan kutipan dari Beth Revis, “My inspiration tends to come from two words. The two most important words to a writer: “what if?“”

Saya coba terapkan pada santriwan-santriwati Asrama Al-Furqan Darul Ulum Jombang pada Jumat pagi, 7 November 2014. Masing-masing menulis pertanyaan ‘bagaimana jika…’ di sesobek kertas. Lalu, dengan sedikit permainan rotasi – putar ke kiri sekian kali, putar ke kanan sekian kali – mereka pun mendapatkan pertanyaan yang unik-unik dari kawannya sendiri. Dan, imajinasi mereka harus dituangkan dalam sehalaman penuh kertas folio bergaris.

“Ada yang sukarela baca di depan?”

1465898_10152818354084304_2666551957371362254_o

Inilah yang kerap saya ajukan pada mereka. Saya mencoba menerapkan gaya dosen saya di kampus. Mahasiswa dipancing untuk jadi volunteer alias ‘sukarelawan’ dalam presentasi. Memang dampaknya akan berbeda-beda pada masing-masing anak. Ada yang makin malu atau malah ada yang kian percaya diri untuk maju. Tapi, saya terus berusaha untuk ‘menempelkan angka 10 pada kening masing-masing anak’. Bahwa, mereka semua istimewa. Mereka semua unik dengan talentanya masing-masing.

Ragsa pun maju. Ia mendapat pertanyaan ‘Bagaimana jika kamu hidup selamanya?’ Ia menulis cerita yang ujung-ujungnya mengarah ke vampire. Makhluk immortal.

Saya kira, pengaruh Twilight saga masih berembus kuat di benak Ragsa. Tak apa-apa. Menulis sebagaimana belajar hal lainnya kerap diawali dari mengimitasi. Meniru. Jepang adalah contoh bangsa yang ulung dalam hal meniru. Tapi, tak sebatas meniru seperti China. Jepang memodifikasi dan berinovasi sehingga produk akhirnya lebih baik. Inovatif. Juga berkelas.

1396952_10152818353709304_8016144427648242696_o

Dari perempuan, Eka pertama mewakili. Ia dihadapkan pertanyaan ‘Bagaimana jika orang yang kamu sayangi meninggal?’ Ia pun menulis kalimat-kalimat puitis yang menyayat hati, bikin saya teringat pada lagu Rumor, Butiran Debu. Dari awal pertemuan Eka memang menunjukkan minat besar pada puisi. Kalimat-kalimatnya liris. Saya kira, itu kekuatan dia.

Fajar yang saat ini diamanahi untuk memimpin redaksi majalah asrama kebagian pertanyaan: ‘Bagaimana jika emasnya Monas menghilang?’ Fajar pun menulis, membayangkan Monas sebagai es krim. Ujung-ujungnya cerita alien, Si Pencuri emas Monas.

Kembali pada perempuan. Dina mendapatkan pertanyaan: ‘Bagaimana jika pelajaran matematika dihapuskan?’ Ia menulis ala curhat di buku harian. Bahwa, ia senang pelajaran matematika dihapuskan. Ia tak perlu pusing-pusing berhitung.

Ya, dari curhatan Dina, saya berpikir mengenai efektivitas pelajaran matematika. Kecuali ia ingin jadi akademisi atau ilmuwan di bidang sains, ia tentu perlu menguasai matematika. Tapi, kalau ia sudah tahu hendak jadi apa – yang tak terkait banyak dengan angka – dan ia fokus di situ, saya pikir perhitungan tambah, kurang, kali, dan bagi adalah matematika dasar yang cukup ia kuasai. Ya, masa pendidikan kita dari SD hingga SMA memang banyak untuk mempelajari hal-hal yang tidak kita butuhkan di masa dewasa. Sekolah di Indonesia sudah terbukti membuat kita jadi seragam. Diseragamkan oleh sistem. Menyebalkan! Coba baca tulisan-tulisan bernas di Bincang Edukasi. Biar mata kita yang telah lama diarahkan melihat warna yang sama, bisa melek terhadap warna lain.

10714333_10152818354964304_1130431054786086073_o

Fayi’ yang bertubuh tegap dan bercita-cita jadi TNI dihunus oleh pertanyaan ‘Bagaimana jika kamu disuruh oleh Gus Azmi salto dari atas genteng/atap asrama?’ Ia menceritakan kejadian itu dalam bingkai mimpi dan dibumbui cerita ulang tahun.

Tiap anak kelar bercerita, kami merayakannya dengan tertawa. Cerita yang mereka bikin seru-seru.

Saya memang belum mulai memeriksa ejaan, tanda baca, dan tetek-bengek teknis lainnya. Ini masih pertemuan kedua. Saya punya PR besar untuk mengondisikan kelas menulis yang bisa mereka nikmati tanpa terbebani dengan aturan teknis. Karena rata-rata anak kelas XI, saya yakin mereka sudah kenyang dengan pelajaran macam begitu di pelajaran bahasa Indonesia. Nah, tinggal bagaimana menerapkannya di kelas menulis yang saya ampu.

Hingga detik ini, saya terus dan terus memutar otak, teknik apa lagi yang bisa saya terapkan untuk membimbing adik-adik ini menulis. Membaca buku, mencari di internet, bertukar pengalaman dengan orang lain adalah beberapa cara untuk mendapatkan gagasan ‘baru’.

Saya berharap kelak adik-adik ini akan belajar menulis secara mandiri. Tugas saya adalah membuat mereka haus. Mereka harus menjadi sopir yang menentukan sendiri ke mana mereka ingin menuju. Tanpa perlu disuruh-suruh, mereka akan berinisiatif penuh mencari tahu.

1405008_10152818354619304_2300471483261991679_o

Dan, itu akan terjadi jika mereka telah menemukan kecintaan. Itulah sumber energi mereka untuk terus maju. Sebagaimana Oprah Winfrey katakan, “What I know is, is that if you do work that you love, and the work fulfills you, the rest will come.”

Iklan

19 thoughts on “Bagaimana Jika Emasnya Monas Menghilang?

  1. Aih, terima kasih banyak, Fatah. Berasa ikut belajar bersama dengan anak-anak itu. Dan Mbak Anaz juga belajar bagaimana mengajari anak-anak untuk belajar menulis 🙂

    • Hihihi… repetisi yang harus dibaca pelan-pelan biar nggak rancu.
      Iya, Mbak.
      Saya akan coba agih pengalaman-pengalaman selama memfasilitasi adik-adik ini menulis.
      Siapa tahu bisa memberi inspirasi buat yang lainnya.
      Atau malah saya justru dapat gagasan dari teman-teman sebagai umpan balik? Pastinya! 🙂

    • Hehehe… Ini pertanyaan bisa menghadirkan beragam jawaban. Mbak Tintin bisa beri salah satunya? 😀

      Selamat tahun baruuuuu, Mbak. Apa kabar? Lama sekali saya tak berkunjung ke blog Mbak. Hmmm… *ampuuun*

  2. kereeennn…aku bisa bayangin rame dan senengnya suasana asrama waktu itu
    mmg paling asyik adl ketika kita berandai-andai
    masih inget aku…?
    bagaimana jika pas acara kumpul blogger di Midtown yll Fatah ngga bisa hadir?
    pasti aku ngga akan pernah baca blog ini.
    sekali lagi kereeeennn….

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s