Selamat Jalan, Bapak Tersayang…

Pada ujungnya nanti, kita akan sendiri. Bukan lagi perkara takut atau berani. Ini tentang keniscayaan. Tiada berpilihan.

Dua minggu lalu, tepatnya 18 Januari, bapak saya tersayang kembali ke pangkuan-Nya. Saya tak sempat menjenguk beliau selama di rumah sakit. Alasan saya: merampungkan skripsi yang memang berujung sidang pada 8 Januari. Itu hadiah pamungkas saya untuk bapak. Menjadi sarjana sebagaimana pinta ibu juga bapak.

Tangis saya pecah di telepon ketika pagi Minggu itu kakak perempuan tertua saya mengabarkan via telepon.

Saya baru saja tiba di IWEC, tempat saya mengajar menulis. Saya membuka sarapan berupa sebungkus nasi pecel yang saya beli di pinggir jalan. Makan setengahnya sebelum ponsel saya bergetar. Sebuah panggilan dari adik laki-laki saya. Segera saya beranjak dari kursi plastik di aula, bergegas ke luar. Duduk di pintu dapur.

“Kak Atah, bisa nggak pulang? Mampir di Bali. Jemput Kak Jahid. Bareng pulang ke Lombok,” kata Oki.

“Gimana kondisi bapak sekarang?”

“Kaki bapak makin dingin.” Nada getir terasa sekali dalam suaranya. “Kalau bisa, segera pulang ya…”

Cepat saya menanggapi. “Nggih. Dalam minggu ini tiang usahakan.”

“Coba ngomong sama Kak Iyah,” ucap Oki kemudian. “Kak Iyah… Ini…”

Beberapa kali saya berhalo-halo. “Kak… Kak…”

Seberang saya hening sejenak sebelum suara sesenggukan terdengar. Kakak perempuan saya rupanya menangis. Saya kian tak enak hati. Ia pegang ponsel Oki, tapi tak bisa berkata.

Ponsel diambil alih oleh Oki. “Kak Iyah nangis.” Pendek ia berujar.

Tak berapa lama kemudian, Oki kembali berkata, “Nih… ngomong sama Kak Iyah…”

Dengan suara tertahan diselingi sesenggukan, Kak Iyah berkata terbata-bata. “Dik, bisa nggak Adik pulang? Bapak lagi dibacakan Yasin ini. Kakinya dingin sekali… Pulang, Dik. Kata Kak Amat (suaminya, red), siapa tahu Adik dan Jahid yang jadi obat bapak. Pulang ya… ”

Nadanya pilu.

“Nggih, Kak. Pokoknya minggu ini tiang pulang.”

Alasan apa lagi yang membuat saya tertahan? Menyelesaikan revisi? Pekerjaan di kantor? Mengajar? Itu semua bisa dinegosiasikan! Bapak terbaring sakit. Sudah seminggu di rumah. Tiga minggu sebelumnya berteman selang-selang infus dan tabung oksigen di rumah sakit. Fatah, pulanglah! Suara hati saya menggedor.

Ia mengulangi pinta Oki agar saya menghampiri kakak laki-laki saya di Bali. Sebab, kami berdualah, dua dari sepuluh anak bapak, yang belum menengok beliau sejak masuk rumah sakit pada 18 Desember silam.

“Ya Allah… Innalillahi…” Kak Iyah berseru di telepon tiba-tiba. Panik.

“Kak… Ada apa, Kak? Kak…” Saya tak kalah panik. Sayup-sayup saya mendengar suara orang mengaji.

“Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un… Dik, bapak sudah nggak ada…”

“Kak, benar, Kak? Kak…”

Leher saya mendadak tegang. Otak saya panas. Air mata ini pun tak terbendung lagi. Pecah.

Saya dan Kak Iyah bertangisan.

“Kak…”

“Dik, pulang… Pulang…”

“Nggih, Kak. Sore atau malam nanti tiang sudah di rumah.”

Rupanya, saat kami berbicara di telepon, malaikat pencabut nyawa tengah hadir di situ. Tepat pukul 10.10 WITA.

Saya biarkan katup air mata terbuka lebar-lebar. Sembari pelan-pelan berpikir jernih di tengah otak yang masih panas. Praja, teman kontrakan, saya kabari. Pada teman-teman redaksi Rooang, saya minta izin tidak bisa menulis dalam seminggu ke depan.

Sementara itu, Mbak Maylia, pimpinan IWEC, belum juga datang. Padahal kaki saya sudah ingin melesat dari IWEC. Saya hendak minta izin tidak mengajar hari itu. Saya harus segera balik ke kontrakan. Menyiapkan ransel. Pulang.

Mobil Mbak Maylia memasuki garasi. Ketiga anaknya tampak di mobil. Dari kaca depan, terlihat jelas ekspresi keheranan di muka Mbak May.

Saya berdiri menyambutnya. Mendekati mobil. Ia membuka pintu.

“Mbak… Bapak saya meninggal…”

“Tah… Innalillahi wa innailaihi raaji’uun…”

Ia dan ketiga anaknya turun dari mobil. Kami duduk di pintu dapur. Ia menasihati saya. Tepatnya, membesarkan hati. Di tengah sedu, saya mengangguk, merespon wejangannya.

Murid-murid level anak sudah berdatangan sejak belasan menit yang lalu. Mereka mengitari saya dengan ekspresi sedikit heran. Tapi, saya rasakan mereka tulus.

“Kak Lalu, turut berduka ya…”

Saya hanya bisa mengangguk pada mereka, anak-anak hebat itu.

“Kak, pulangnya naik apa? Garuda saja. Aku punya kenalan orang Garuda,” Edson menyarankan.

Saya hanya membalas senyum. Otak ini masih agak kacau. Memang, harus pesan tiket segera.

Mbak May menyarankan saya salat dulu. “Tenangkan diri, Lalu. Doakan bapak.”

Ia pun meminta Leo, salah satu admin IWEC, untuk mengecek tiket pesawat lewat internet. Alhamdulillah, saya bersyukur sekali dikelilingi orang-orang baik.

Saya tulis kabar di Facebook. Pesan demi pesan masuk ke ponsel saya. Dari pesan pendek juga Whatsapp. Doa-doa mengalir. Untuk almarhum bapak.

“Kak Lalu, mau pulang? Jangan balik, ya… Hihihi… ” Mutia, salah satu murid saya, berceloteh dengan suara imutnya. Ekspresinya, seperti biasa, ceria.

Saya hanya senyum getir.

Di perjalanan balik ke kontrakan, Renitha, teman kuliah, menelepon. Mengabari kalau ia dan Thea bersedia antar saya ke bandara. Beberapa teman akan menyusul di bandara.

Di kontrakan, wajah teman-teman saya sedih. Memeluk saya. Mereka menyediakan telinga untuk mendengarkan cerita saya.

Allah Mahabaik. Allah Mahabaik. Allah Mahabaik.

Saya meninggalkan Surabaya pukul setengah empat sore.

Di angkasa, saya mengingat bapak. Wajah tuanya. Tubuh kurusnya. Ia yang memeluk saya sembari menangis saat pulang awal November lalu. Setengah jam saja saya mampir di rumah kala itu. Itu kali terakhir kami berpelukan. Pesannya cuma satu: saya kelarkan kuliah.

Ya, saya sudah rampungkan studi saya. Beliau masuk rumah sakit pada 18 Desember silam, itulah awal saya bangkit menuntaskan skripsi. Empat hari kelar. Di pikiran saya cuma ada: gelar sarjana ini untuk bapak. Dan, saya berhasil. Utang saya pada beliau pun lunas sudah.

Entah mengapa, saya jadi tenang. Jauh lebih tenang.

Tiba di rumah pada malam harinya, saya pandangi wajah bapak sejenak. Beliau dibaringkan di atas dipan kayu dengan selimut membungkus raganya. Saya duduk membaca Yasin di dekat beliau.

Esoknya, saya ikut membantu membungkus beliau dengan kain kafan. Semalam sebelumnya, kain itu saya pangku terus selama perjalanan mobil dari Mataram ke Pancor, rumah kami. Ya, saya memang tak bisa memangku bapak selama sakit. Setidaknya, ‘pakaian terakhir’nya itu jadi penawar buat saya.

Kelar dibungkus, tubuh beliau kami angkat. Ringan saya rasakan. Kami pun menyalatkan. Menjelang pukul 11, kami membawa jenazah beliau ke masjid. Bergantian menyediakan bahu untuk memanggul keranda beliau. Sembari bersalawat sepanjang jalan.

Bersama paman, saya ke Pekuburan Gayong. Mengecek persiapan liang lahat bapak. Penggali makam berujar ke saya dengan raut sungguh-sungguh kalau tanahnya bersih. Tidak ada batu. Tidak ada sandungan apa pun. Saya bersyukur dalam hati.

Saat jenazah beliau datang dan langsung dikebumikan, saya beberapa kali menengok ke belakang. Menyaksikan orang-orang berbondong, saya sedikit merinding. Murid-murid bapak berdatangan dengan seragam sekolah masih melekat. Para mahasiswa beliau pun demikian. Rekan-rekan kerja semasa di Departemen Agama, handai tolan, teman, tetangga, sanak famili, ibu, dan anak-anak beliau hadir. Duduk menyebar di area pekuburan, mendoakan.

Gerimis turun lembut. Angin sepoi bertiup. Pohon-pohon kamboja mendongak ke langit.

Photo1468

Giliran Ketua MUI Lombok Timur menyampaikan ceramahnya, kami menyimak. Beliau menyampaikan kalau bapak adalah sosok yang sabar dan selalu senyum kendati dibercandai oleh bawahannya. Beliau tidak suka merepotkan orang lain. Sejak kecil pun sangat giat menuntut ilmu. Sejak Madrasah Ibtidaiyah, beliau merantau ke Pancor. Dan, itu berlangsung hingga beliau berumah tangga. Dan kami semua, anak-anaknya, lahir di desa ini.

Dan, dari cerita ibu terungkap, bahwa pada pagi Kamis, tanggal 18 Desember, sebelum bapak dilarikan ke UGD, beliau sedang membuka-buka buku sebagai bahan untuk membimbing skripsi mahasiswanya.

Pesan menuntut ilmu itulah yang paling membekas buat saya. Sebab, selama ini, wejangan itu pulalah yang paling kerap ia lontarkan ke anak-anaknya. Entah saat bicara langsung maupun lewat sms. “Bapak tidak mewariskan harta. Bapak hanya mewariskan ilmu.”

Ya, saya harus akui, beliau melaksanakan apa yang jadi prinsipnya itu. Pensiun pada 2010, beliau ambil S-2. Kendati sakit dengan kaki yang agak terpincang, beliau tetap memaksakan berangkat kuliah ke Mataram. Menempuh 1 hingga 1,5 jam. Kerap dengan mobil. Kadang naik engkel, angkutan umum.

Beliau bangga jadi mahasiswa S-2 tertua. Beliau pun berangkat kuliah meskipun sakit-sakitan dan kadang dilarang ibu, karena ingin memberi contoh pada teman-teman mahasiswanya. Belajar itu harus tetap semangat.

Ya, saya wajib berterima kasih pada beliau karena telah menurunkan kegemaran membaca dan kini – menulis – pada saya.

“Nak, bapak ingin tesis bapak dijadikan buku,” ucap beliau suatu hari via telepon. “Biar bisa disumbangkan ke NW.”

NW alias Nahdlatul Wathan adalah lembaga sosial kemasyarakatan berbasis pendidikan, tempat beliau menuntut ilmu sejak Madrasah Ibtidaiyah sekaligus mengabdikan sisa usianya dengan menjadi dosen di sana.

Baiklah, Pak. Saya akan mewujudkannya.

FB_IMG_1453082165128

Iklan

27 thoughts on “Selamat Jalan, Bapak Tersayang…

  1. InsyaAllah, yakin bapak akan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah Swt. Salut untuk Fatah dan saudara-saudara yang berjuang keras membahagiakan orang tua 🙂 teriring doa untuk Bapak dan juga kemudahan Fatah di kemudian hari. Amin.

    *berkaca-kaca bacanya*

  2. Bapak pasti ‘pulang’ dengan bangga, Tah… Jangan pernah putus mendoakan beliau. Semoga Allah menempatkan beliau di tempat terbaik di sisiNya. Aamiin…
    *lap air mata…

  3. Mas Lalu saya aku turut berduka dan merasakan kesedihan mas Lalu.. Aku sampe nangis2 baca ini. Ingat ayah dan pesan ayah buat ku juga sama 🙂 “Anak Satpam Harus Jadi Sarjana” .. Makasih, tulisan ini jadi penyemangat juga buat saya untuk gak capek menuntut ilmu apapun kondisinya 🙂

    Semoga keluarga diberikan kesabaran dan ketabahan.. Semoga Bapak diberikan tempat yang indah dan nyaman di sisi Nya..

    Amiin..

  4. Mas Fatah, sy turut berduka cita. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan. Almarhum diampuni kesalahan dan diterima amalnya.

    Sedih bacanya. Nangis sy 😦

  5. Inna Lillahi wa’inna ilaihi ra ji’un. semoga amal ibadah beliau diterima disisinya. Semoga keluarga yang ditinggal diberi keiikhlasan dan bisa meneruskan ajaran-ajaran beliau. amiin

  6. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un. semoga Bapak diampuni segala dosanya, diterima amal ibadahnya, diberikan tempat paling baik. Dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. aamiin.

  7. Walau mungkin tak akan cukup jika saya bertutur di sini, izinkan saya mendoakan almarhum ayahanda Mas Fatah:

    Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,
    Allahummagfirlahu, warhamhu, wa’afihi, wa’fuanhu
    Allahumma la tahrimna ajrahu, wa la taftinna ba’dahu, wagfirlana wa lahu.

    Besar harapan semoga beliau mendapatkan tempat terindah di sisi-Nya, dan keluarga-kerabat yang ditinggalkan diberi ketabahan. Terkhusus Mas Fatah, semoga kembalinya almarhum ke haribaan-Nya menjadi hikmah, dijadikan pelecut bagi Mas Fatah untuk berprestasi, berprestasi, lebih baik dari hari-hari sebelumnya, amin, amin, amin :’)

  8. fatah dan keluarga, turut berduka cita yang dalam.. semoga amanat bapak untuk membukukan tesis terlaksana dengan fatah bikin tesis.. selamat juga ya sudah sarjana.. pasti bapak bangga “disana”.. salam untuk keluarga dan semoga tabah tawakal..

  9. Dear mas Fatah yang menginspirasi banyak orang.
    Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un..
    Hanya kepada Nya lah semua akan kembali. Saya anak ke 10 dari 11 bersaudara, bapak saya meninggal saat saya kelas 1 SD. Tentu saat kecil dulu saya tak paham tentang hal tersebut. Lambat laun saya mulai mengerti dan sangat merasa kehilangan. Allah Maha Baik, saya berada di keluarga dengan banyak saudara, kakak2 saya yang hangat. Dan alhamdulillah Allah memberi kemudahan, kesabaran, dan rasa syukur dalam setiap langkah. Semoga juga pada mas Fatah.
    Saya turut berduka mas Fatah.

    Allahummagfirlahu, warhamhu, wa’afihi, wa’fuanhuAllahumma la tahrimna ajrahu, wa la taftinna ba’dahu, wagfirlana wa lahu. amiin

  10. Setelah membaca tulisan ini, saya baru sadar bahwa saya butuh tisu untuk menyeka mata yg basah. 😦
    Benar-benar ayah yang inspiratif.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s