Belajar Membaca, Baru Belajar Menulis

“Kamu suka baca apa?”

Ini pertanyaan yang lazim kami – para pengajar IWEC – tanyakan pada murid-murid baru. Bukan sekadar basa-basi. Tapi, mendengar jawaban mereka akan membantu kami untuk memetakan potensi mereka. Sekaligus mengarahkan dan membantu mereka untuk lebih berkembang.

Ada murid yang suka baca teenlit. Ada pula yang suka baca KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya). Ada yang suka baca koran. Ada yang bahkan baca novel-novel genre hukum, macam John Grisham. Murid yang baca literatur dalam bahasa Inggris juga ada.

Di kelas, sela-sela menulis, saya tunjukkan referensi lain yang kemungkinan belum mereka baca. Saya kaitkan dengan pembahasan hari itu. Misalnya, saat kami belajar menulis nonfiksi dengan menggunakan elemen-elemen fiksi. Saya ceritakan pada mereka, bahwa seorang jurnalis – yang menulis nonfiksi – tidak semata-mata menumpahkan fakta dan informasi begitu saja dalam tulisan mereka laiknya tulisan ilmiah. Karena menulis untuk khalayak umum – tulisan pun harus dibikin lebih populer – maka, jurnalis harus bisa bertutur laiknya pencerita. Maka, tak heran jika jurnalis pun memakai elemen-elemen fiksi dalam reportasenya, seperti: alur, dialog, dan setting. Karya jurnalistik mereka jadi enak dibaca, mengalir, dan hidup. Agustinus Wibowo, seorang jurnalis yang sekarang lebih dikenal sebagai penulis cerita perjalanan, salah satunya.

Lantas, ketika beberapa anak sedang mengerjakan proyek pribadinya untuk menulis novel, kerap terbetik juga pertanyaan dari saya, “Sudah berapa halaman?” Si A sudah 30-an halaman. Si B masih belasan halaman.

Di satu sisi, saya tidak ingin menjadikan suasana kelas seperti berkompetisi dengan banyak-banyakan atau cepat-cepatan selesai. Tidak. Tugas saya adalah bagaimana agar potensi terbaik mereka bisa keluar sesuai dengan keminatan mereka.

Maka, bukan banyak-banyak halaman yang saya tekankan, tapi bagaimana agar cerita mereka berkualitas – setidaknya untuk level mereka. Saya pun menunjukkan sebuah novel yang saya bawa. Keju, judulnya, alias Kaas dalam bahasa Belanda. Pengarangnya Willem Elsschot. Novel bersampul kuning itu secara kemasan memang kecil. Handy. Nyaman digenggam. Terdiri dari 176 halaman dengan ketebalan ‘hanya’ 11 cm. Sebuah novel yang padat berisi, kalimat-kalimatnya terukur, cukup detail dalam deskripsi, serta terjaga cita rasa sinisme-nya.

Baca buku

(Sumber: ineverycrea.net)

Ya, ini biar gambaran mereka bahwa novel itu harus tebal – dan bisa saja bikin mereka takut untuk menulis panjang – bisa dienyahkan pelan-pelan. Kalaupun bisa dipadatkan dan ditulis sebagai cerpen, ya saya arahkan untuk menulis cerpen saja. Kalau ada potensi untuk berkembang, ya coba dijajal untuk bikin novelet atau novel.

Hal yang ingin saya tekankan pada mereka tak lain adalah membaca itu mutlak kalau ingin menulis. Perbanyak referensi bacaan. Oke, awalnya dari buku-buku yang mereka sukai. Tapi, seiring dengan interaksi di kelas, bercerita satu sama lain, ada pula yang bawa buku mereka untuk ditunjukkan atau lanjutkan baca seusai kelas, itu kian memperragam referensi mereka.

Syukurnya, anak-anak yang belajar di IWEC, sebagian besar memang punya dasar membaca yang ditanamkan keluarganya. Ini awalan yang bagus untuk mengarahkan mereka menulis. Di kelas, kosakata diperbanyak untuk dipahamkan dan diterapkan dalam tulisan mereka. Biasanya mereka akan bertanya mengenai kata yang menggambarkan deskripsi tertentu. Misalnya, untuk menggambarkan keadaan seseorang dengan posisi terjatuh karena didorong, kata yang tepat adalah terjerembab. Kalau terperosok, bagaimana? Terantuk? Terpeleset?

Ya, dengan membaca, tidak hanya kosakata yang bertambah. Namun, bagaimana penggunaannya secara tepat dan ‘terukur’ itu juga penting. Belum lagi, dengan banyak membaca referensi yang beragam, mereka pun akan terlatih menyelami isi pikiran orang lain (penulis). Dari situ, mereka bisa memahami pola atau struktur berpikir sang penulis. Ujungnya, mereka berlatih menata cara berpikir yang selanjutnya mereka terapkan saat menulis.

Belajar menulis itu baik. Tapi, belajar membaca, itu lebih baik lagi. Maka, belajar membaca dulu, baru belajar menulis.

Tulisan ini juga dipublikasikan di situs IWEC.

Iklan

10 thoughts on “Belajar Membaca, Baru Belajar Menulis

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s