Khidmat Cap Go Meh di Pak Kik Bio

Tiada hiruk-pikuk barongsai. Tiada bunyi-bunyian alat musik pengiring Wayang Potehi. Tiada pawai ataupun tarian lampion naga. Gerimis pun sedari sore betah mengguyur Surabaya. Walhasil, perayaan Cap Go Meh di Klenteng Pak Kik Bio berlangsung syahdu. Khidmat di antara nyala lilin merah dan bau hio yang dibakar.

Satu setengah jam sebelumnya, saya tiba di depan klenteng yang berlokasi di Jalan Jagalan no. 74-76 ini. Lalu-lalang kendaraan jelang petang itu cukup ramai. Alih-alih bergegas menyeberang, saya keluarkan ponsel dan mulai memotret. Lampion-lampion merah yang tergantung di depan, kakan, dan kiri serambi klenteng terlihat amat kontras.

Sedikit ragu saya memasuki pelataran klenteng. Ini kali pertama saya akan melihat dari dekat prosesi sembahyang umat Khonghucu. Ada perasaan asing yang tiba-tiba menyergap. Saya hidup di Indonesia yang mengakui 6 agama. Tapi, itu cuma sekadar potongan informasi yang saya serap dan terima begitu saja. Begitu minim pengetahuan saya tentang agama lain, lebih-lebih Khonghucu. Itu pun paling fasih mengingat Imlek dan angpau. Bah!

Tapi, keingintahuan mengalahkan segalanya. Saya timbang, ini akan jadi pengalaman yang mengayakan batin. Saya juga kadung terpikat dengan pernyataan Martin Schoeller, fotografer National Geographic, “Saya memotret orang dengan berbagai latar belakang, budaya, dan etnis, tetapi akhirnya saya sadar bahwa kita semua hanyalah manusia.”

Cap Go Meh Klenteng Pak Kik Bio

Cap Go Meh Klenteng Pak Kik Bio

Laki-laki berusia 67 tahun bernama Siek Lian Khing menyambut saya dengan senyum. Dia adalah pengkhotbah tiap hari Minggu di klenteng tersebut. Pak Siek – demikian ia akrab dipanggil – berkisah bahwa Cap Go Meh adalah hari ke-15 atau hari penutupan masa perayaan tahun baru Imlek. Dalam dialek Hokkian, Cap berarti sepuluh, Go artinya lima, dan Meh adalah malam.

Dalam penanggalan Khonghucu yang menggunakan sistem lunar (bulan), sekarang adalah tahun 2566 M. Itu dihitung dari tahun kelahiran Nabi Khongcu yang lahir pada tanggal 27 bulan 8 tahun 551 SM.

Tiap tahun, Cap Go Meh dirayakan tanpa tema. Sebab, ia bukan seremonial. “Kita menjalankan ritual keagamaan. Bagi yang merasa Khonghucu tulen, ia wajib melaksanakannya,” terang Pak Siek yang jadi pengkhotbah di klenteng sejak 1967.

Malam itu, seharusnya perayaan Yuan Xiao Jie alias Cap Go Meh diawali dengan kebaktian, dilanjutkan sembahyang bersama, lalu ramah-tamah. Tapi, kebaktian ditiadakan. Dari panitia, ia tak mendapat informasi yang terang mengenai hal tersebut.

Sembahyang bersama pun dimulai pukul 19.00 WIB. Seorang laki-laki membagikan hio. Sembahyang dipimpin oleh Lie Tiang Hay dengan dua perempuan pendamping dan umat di belakang mereka. Sembahyang diawali di serambi depan. Mereka menghadap sesajian untuk dewa-dewi di altar Tian (Tuhan). Di sisi depannya lagi ada sebuah hiolo (bokor batang hio) berkaki tiga yang mirip bentuk kaki harimau.

Cap Go Meh Klenteng Pak Kik Bio

Cap Go Meh Klenteng Pak Kik Bio

Cap Go Meh Klenteng Pak Kik Bio

Setidaknya ada sepuluh altar dewa yang dipuja oleh umat selama proses sembahyang. Setidaknya, ada tiga permohonan utama yang dipanjatkan, yakni: semoga Tuhan memberi kelancaran hidup bersama keluarga, bumi memberikan hasil baiknya pada keluarga, serta para suci (leluhur) memberikan bimbingan dan restu pada keluarga. Hal ini diwakili melalui tiga hio besar. Hio di tengah untuk Tuhan Yang Mahaesa. Hio sebelah kanan untuk bumi. Sementara hio sebelah kiri untuk leluhur.

Cap Go Meh Klenteng Pak Kik Bio

Cap Go Meh Klenteng Pak Kik Bio

Jika ada yang bertanya, mengapa keluarga? Karena Khonghucu memang agama keluarga yang mengedepankan kesusilaan atau sopan santun. Setidaknya ada lima kebajikan yang diajarkan, yaitu: berbakti; cinta kasih, menjunjung kebenaran, keadilan, dan kewajiban; susila; bijaksana; dan dapat dipercaya.

Namun, nilai paling utama yang dipegang teguh oleh Khonghucu adalah susila atau lee dalam bahasa Tionghoa. Kesusilaan atau kesopanan ini amat penting dalam pergaulan sehari-hari. “Orang yang tidak punya lee dianggap bukan manusia atau istilahnya mbo ceng li alias tidak tahu aturan,” tutur Pak Siek dengan nada geram.

Sekelar sembahyang, umat menikmati lontong Cap Go Meh. Saya diajak serta. Senang, tentu bisa mengudap seporsi lontong yang dicampur dengan opor ayam, sayur lodeh, dan setengah iris telur. “Kalau di agama Anda, ini seperti makan ketupat, tujuh hari setelah lebaran,” kata Pak Siek. Saya mengangguk-angguk.

Kenapa lontong? Ternyata, lontong melambangkan asimilasi atau semangat pembauran antara kaum Tionghoa yang merupakan pendatang dengan penduduk pribumi di Jawa. Selebihnya, lontong Cap Go Meh juga dipercaya sebagai lambang keberuntungan. Teksturnya yang padat dianggap berlawanan dengan bubur yang encer. Sebab, dalam kepercayaan tradisional masyarakat Khonghucu, bubur dianggap makanan orang sakit atau orang miskin, sehingga tidak baik dihidangkan saat perayaan Cap Go Meh karena dianggap akan membawa sial.

Bentuk lontong yang memanjang sering pula dikaitkan dengan umur yang panjang. Sementara itu, telur melambangkan keberuntungan. Adapun kuah santan yang berwarna kuning keemasan melambangkan kemuliaan, kemakmuran, dan kekayaan.

Ya, antara lampion, minyak, bunga, buah jeruk, altar, lilin, hio hingga hidangan lontong Cap Go Meh di klenteng, semuanya terkait dan memiliki makna filosofis. Semua adalah pertanda, perlambang, simbol. Sampai saya tepekur menikmati setiap ulasan dari Pak Siek.

Berjalan kaki pulang dari klenteng dengan gerimis yang konsisten dan ritmis, hati dan pikiran saya memenuh. Sekaligus bikin saya pusing dengan istilah-istilah dalam bahasa Tiongkok. Sampai-sampai saya berulang kali meminta Pak Siek untuk mengejanya.

Untung saja dia sabar.

Cap Go Meh Klenteng Pak Kik Bio

Iklan

4 thoughts on “Khidmat Cap Go Meh di Pak Kik Bio

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s