26 atau 27?

Ini mengenai angka. Yang terus merambat naik. Dari 26 ke 27.

Ya, hari ini saya genap berusia 27 tahun. 27 Juni 1988 saya lahir.

Aslinya, saya menengok dunia pertama kali pada 26 Juni 1988. Di akta kelahiran saya bilang begitu. Tapi, akta saya harus mengalah untuk direvisi dikarenakan pada saat didaftarkan ke Madrasah Ibtidaiyah, orangtua saya menyebutkan tanggal 27 Juni 1988. Lulus MI dan masuk SMP lanjut SMA, di ijazah saya masih tertera informasi tanggal 27 itu. Demi menjaga keselarasan info di ijazah, akta saya yang harus mengalah. Ia rela direvisi menjadi 27 Juni 1988.

Perkara angka semata. Tak begitu penting sejauh ini bagi saya. Itu hanya jadi penanda. Sebab, ada hal lain yang jauh lebih bermakna. Bagaimana saya memaknai sisa hidup saya? Apa yang telah saya lakukan sejauh ini? Apa manfaat yang saya berikan pada sekitar? Itu yang terus memburu saya.

Ada masa ketika saya tiba-tiba terbangun dari tidur dengan dada berdegup kencang. Ada bayangan kematian yang tiba-tiba nongol di kepala saya. Kadang, saat sedang melaju di atas motor, bayangan teman sekolah yang telah dahulu dipeluk oleh-Nya, melintas. Di lain masa, wajah ibu dan bapak saya yang telah bergandengan di alam barzakh, muncul di depan saya. Seperti saat ini.

Saya terkadang ingin menjatuhkan iba pada adik-adik saya karena dibandingkan saya, mereka melewatkan waktu yang lebih pendek bersama orangtua. Tapi, saya segera menepis hal itu. Tak perlulah saya mengasihani. Biarlah saya dan adik-adik saya, juga kakak-kakak saya, tumbuh dalam ketiadaan orangtua, dengan cara kami masing-masing. Tiada perlu menggantungkan harap terlalu banyak pada manusia – sekalipun itu orangtua – karena mereka toh hanyalah manusia. Bukan pemilik hidup. Jadi, tiada usah berlarat-larat dalam lara jika lebih dahulu ditinggal pergi.

Masih banyak hal menarik dalam hidup ini yang bisa ditelusuri. Hari demi hari selalu mendatangkan pelajaran baru. Ilmu baru. Mata bisa saja menatap objek yang sama, namun selalu ada terselip pikiran baru. Akan ada obrolan-obrolan baru. Bacaan-bacaan baru. Petikan-petikan impian baru.

Dari google

Terima kasih, Mbah Google!

Hari tak pernah sama. Hari tidak pernah benar-benar identik dengan sebelum-sebelumnya. Anak kembar siam. Sidik jari. Detak jantung hari ini dengan detak jantung kemarin. Apakah sama? Tak.

Betapa membosankan dan kurang kreatifnya Sang Pemilik Hidup jika menjadikan semua hal sama dan seragam dari detik ke detik. Untung saja Dia Mahakreatif. Mahakeren.

Oya, saya tiba-tiba teringat pada Soe Hok Gie. Dia meninggal di usia 26 tahun. Di usia yang saya lalui setahun belakangan ini. Tapi, ia dikenang oleh banyak orang karena pemikiran-pemikiran yang ia abadikan lewat tulisannya.

Gie, kendati saya belum membaca bukunya tuntas, namun ia seakan-akan bercokol di pikiran saya. Ia memberi saya kesadaran, bagaimana idealnya menghabiskan masa muda. Ia mengajarkan saya, bukan tentang “panjang umur”, tapi tentang “mengisi umur”.

Saya juga teringat Steve Jobs. Dari sebuah cuplikan tulisan yang saya baca tentang dia, bahwa salah satu bahan bakarnya dalam menjalani hidup adalah karena ia selalu mengingat mati. Apa yang saya berikan pada dunia? Apa? Itu energinya untuk terus kreatif dan berinovasi dalam melahirkan produk-produk yang mengubah wajah dunia.

Tentu, bukan sekadar angan-angan yang mereka gaungkan. Angan-angan untuk mengubah dunia. Angan-angan untuk memperbaiki dunia. Tidak. Gie dan Jobs memulainya dari diri mereka. Mereka mencelup diri mereka sendiri terlebih dahulu dengan rupa-rupa pengalaman dan bacaan, lalu mewujudkan karya satu per satu. Karya merekalah yang kemudian berbicara dan ikut mewarnai khalayak.

Apakah tujuan hidup demikian?

Pertanyaan itu takkan habis dikupas. Jawaban demi jawaban diluncurkan. Andaikata ada satu jawaban tunggal dan manusia telah menggapainya, lalu apa?

Saya kira, itulah letak menariknya hidup. Ia sungguh misterius sekaligus indah. Sama misteriusnya dengan Ia yang menciptakan hidup. Bayangkan jika Ia terindra, akan betapa manusia segera melazimkannya. Menganggapnya biasa. Justru dengan Ia misterius, kita akan terus mencari dan mencari. Meraba dan meraba. Mendengar dan mendengar. Melihat dan melihat. Mengecap dan mengecap. Membaui dan membaui. Merasa dan merasa. Berpikir dan berpikir.

Ah, apalah saya membincang Ia.

Jadi, apakah saya bahagia di usia 27 tahun ini? Entahlah. Saya bahkan tidak bisa mendefinisikan perasaan saya setepat apa. Kesenangan dan kesedihan menghampiri dalam ragam mukanya. Wajahnya bisa tertukar-tukar. Di balik keceriaan ada kemuraman. Di balik kemuraman ada keceriaan. Bahkan, wajahnya melebur.

Pantasnya, saya bersyukur lebih banyak.

Semoga saya jadi orang yang bermanfaat. Itu saja.

Iklan

21 thoughts on “26 atau 27?

  1. Selamat ulang tahun Mas Fatah, semoga tak akan lelah ditempa kehidupan dari Allah berulang-ulang pada sisa umur 🙂

  2. tulisannya bagus bagus euy, belum terpuaskan rasa dahaga ini mas, walaupun sudah baca sampai edisi “belitong. aku bertandang”. salam 😀

  3. Mas Fatah.. Selama hari lahir. Semoga segala cita-citanya di tahun ini tercapai, umurnya semakin berkah dan tentunya menjadi kakakyang memberikan teladan yang baik bagi adik-adiknya :).

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s