Mana Daunmu?

Keindahan ada di mana-mana. Pada desau angin, lapis debu, kulit pohon, remang cahaya, arakan awan, tangkai bunga, helai daun, dan sebagainya. Mereka sumber gagasan yang selalu terjaga untuk dipinang kapan saja. Tinggal apakah segala indra kita melek untuk menyuntingnya dan meniupkannya dalam barisan sajak. Itu saja.

Membaca alam dengan puisi. Tepatnya, menemukan diri melalui helai daun. Itulah yang coba saya tawarkan pada adik-adik di kelas menulis Al-Furqon pada siang Jumat (16/10).

Kami belajar di selasar musala dengan latar pepohonan. Terik terasa menjalar. Debu pun berkali-kali menerjang. Jombang sedang dihujani panas nan kering.

“Di belakang kalian ada banyak tanaman. Coba ambil daunnya. Pilih daun yang menurut kalian memiliki koneksi dengan kalian. Entah diri kalian terwakili oleh bentuknya, luas daunnya, warnanya, seratnya, atau kalian melihat lebih dalam dari itu. Selami daun yang kalian pilih.”

12108111_10153655187219304_7712369439619127373_n

12118936_10153655187154304_4624419416261885594_n

Mereka terbebat hening. Sepertinya sedang menautkan neuron-neuron di otak mereka.

“KONEKSIKAN diri kalian dengan daun tersebut. Jangan cuma dilogikakan. Pakai perasaan kalian. Buka indra kalian semuanya. Manfaatkan segala imaji yang kalian miliki.”

Hati saya puitis siang itu. Bukan serta-merta ide menulis puisi ini mencuat. Saya telah menebalkan dan menajamkan konsepnya sejak berhari-hari yang lampau.

Kami pun beranjak dari selasar. Lalu, jalan mencari, menimbang, dan menentukan daun pilihan. Saya meminta mereka agar merekatkan daun tersebut nantinya di buku mereka. Sekadar monumen ingatan juga perasaan mereka.

Satu persatu membacakan puisinya. Semua dapat giliran. Ragam ekspresi mereka tunjukkan kala menyimak puisi kawan. Tergugu, terhenyak, terpaku, tertawa. Tiga jam pun jadi tak terasa.

Ya, kami belajar menangkap puisi yang ditebarkan di penjuru semesta oleh Ia Yang Mahapuitis. Tak lebih.

12107926_10153655187919304_199281957921077243_n

12143256_10153655187284304_5051605269834139207_n

***

Saya mulai keranjingan menulis sejak SMP. Di kelas satu SMP, saya pernah kalap menyalin puisi-puisi para sastrawan. Puisi-puisi tersebut saya kumpulkan dari buku-buku pelajaran bahasa Indonesia milik kakak-kakak saya. Saya bongkar di lemari. Buka-buka buku dan seperti menemukan harta karun begitu mendapatkan puisi. Meskipun saya belum tahu rekam jejak para sastrawan tersebut, namun saya salin saja di buku tulis. Saya membutuhkan dua buku tulis kosong untuk memindahkannya.

Itu demi tugas bahasa Indonesia. Namun, saya tak hirau apakah akan mendapatkan nilai bagus atau tidak. Saya tak hirau apakah teman-teman saya melakukan hal serupa, sekalap saya. Saya hanya senang melakukannya. Saya baru ‘ngeh’ belakangan ini kalau kegiatan saya itu seperti diungkapkan oleh Ahmad Fuadi, penulis Negeri 5 Menara, sebagai ‘melakukan sesuatu di atas rata-rata’.

Kecintaan pada puisi pun sebenarnya dorongan dari guru say saat di Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD). Saya didorong ikut lomba baca puisi. Lumayan, dari tingkat gugus, kecamatan, saya pun melajut ke tingkat kabupaten. Kalimat beliau, Bu Guru Jalilah, yang masih terngiang sampai sekarang dalam mengatasi rasa gugup adalah “Anggap pentonton di depanmu sebagai batu”. Kalau saya ingat sekarang, saya ingin tertawa.

Di SMP, saya kembali ikut lomba deklamasi puisi, meskipun gagal.

Lanjut di SMA, saya dipilih guru bahasa Indonesia ikut lomba baca puisi. Dua kali. Satu di Taman Budaya, Mataram. Satunya lagi di Aula Gedung P & K Provinsi NTB.

Nah, di Gedung Diknas inilah yang juga berkesan. Saya latihan kurang dari 24 jam. Karena guru saya pun asal main tunjuk. Saya sehabis mengerjakan soal-soal Olimpiade Fisika pada sore hari, dan malamnya berangkat ke Mataram. Besok paginya lomba.

Karena kurang latihan, gugup, dan tidak konsentrasi, bahkan saat membacakan judul pun, saya salah. Seharusnya judul puisi karya Hamid Jabbar (sastrawan yang meninggal di atas mimbar, saat membacakan puisinya) adalah “Potong Bebek Angsa”. Tapi, saya membacanya dengan kondisi ‘kosong’.

“Hamida Jabbar… dalam karyanya… ‘Potong Bebek Senja'”.

Seketika hening. Di bayangan saya, guru bahasa Indonesia saya kecewa. Dan, memang.

Beliau bersungut-sungut. Saya tak enak hati.

Kenangan saya itu selengkapnya bisa dibaca di sini.

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s