Dari Lagu ke Cerita Baru

Konon Tulus menulis cerita dulu sebelum membikin lirik lagu. Sebagai salah satu penikmat karya-karyanya, saya bisa terbawa dalam alur cerita yang ia sampaikan lewat lagu. Bahkan, ia perlu menyampaikan secara visual pada pemain musiknya mengenai nuansa yang ingin ia bangun dalam lagunya.

Di sisi lain, saya meyakini bahwa Donny Dhirgantoro, pengarang 5 CM, memiliki perbendaharaan lagu yang banyak di memori otaknya. Itulah sebabnya, ia begitu luwes memasukkan potongan lirik-lirik lagu sebagai ‘penjeda napas’ sekaligus ‘penjahit’ antarnarasi di novel larisnya itu.

Bertolak dari situ sekaligus ingin meneguhkan bahwa kemampuan bercerita diperlukan dalam banyak lini kreatif, saya pun mengajak anak-anak di kelas menulis Al-Furqon Darul Ulum Jombang untuk menulis cerita dari lagu. Jika Tulus bikin cerita dulu baru menulis lirik, maka kami coba balik prosesnya.

Menulis cerita dari lagu.

Dan, seperti biasa, tiap-tiap anak (meski tidak semua kebagian karena waktu kian menuju sore), membacakan ceritanya. Pada bagian lirik lagu yang mereka cuplik, mereka harus menyanyikannya. Jadi, kami tidak sekadar menyimak cerita. Kami juga menikmati suara nyanyian. Nada meleset, tak masalah. Yang penting, keberanian untuk unjuk kemampuan.

Ragsa, misalnya. Ia terinspirasi dari lagu ‘Bangun tidur kuterus mandi’ A. T. Mahmud. Ia membuat tokoh yang melakukan rutinitas harian dengan masalah yang bertubi-tubi menimpanya. Sampai suatu ketika, himpitan masalah tersebut membuatnya tak tahan. Ia merana dan memutuskan untuk… (Ssssttt… cerita ini akan ia kembangkan untuk proyek menulis buku perdana kami).

Fayi mengambil inspirasi dari lagu ‘Rumah Kita’ God Bless. Ia menceritakan kisahnya sebagai anak yang tinggal di ‘penjara suci’ alias asrama. Dengan segala suka dukanya, ia menganggap bahwa inilah rumah keduanya.

Lebih baik di sini, rumah kita sendiri…
Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa…
Semuanya ada di sini…

Fajar membuat narasi puitik yang diambil dari ‘Sahabat Kecil’ Ipang. Saya memintanya untuk mengetikkan ceritanya tersebut. Hendak saya pasang di blog saya. Karena ia membacakan ceritanya layaknya narator di film. Kalimat-kalimatnya terpilih.

Bahkan, saya menantangnya untuk merekam ceritanya dan mengunggahnya di Soundcloud.

Ini dia.

Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi

Seperti biasa, seiring proses tenggelamnya sang surya di ufuk barat, aku menghabiskan waktuku bersama mereka. Siapa mereka? Mereka yang kusebut keluarga baruku. Keluarga baru sejak 2 tahun yang lalu. Sejak aku meninggalkan rumah dan keluarga asliku. Mengapa aku senang menghabiskan senja bersama mereka? Karena senja itu indah dan memadukannya bersama mereka adalah suatu keindahan yang tiada tara.

Ingatkah teman saat kita berlari lari di tengah guyuran hujan, seakan tanpa beban, melupakan semua masalah yang ada, karena kita percaya di balik semua masalah pasti akan ada kebahagiaan yang siap menyambut.

Tak pernah terlewatkan
Dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa dibeli

Percayalah kawan, 3 tahun adalah waktu yang singkat. Apalagi bersama kalian dengan tak melewatkannya sedetik pun itu menjadi tak terasa dan kerelatifan waktu menjadi sesingkat singkatnya. Seburuk-buruknya sisi kalian adalah kelebihan, kelebihan untuk melengkapi kita yang punya kekurangan masing masing. Manfaatkan waktu sebaik-baiknya kawan, karena sesuatu bernama waktu itu lebih berharga dari apa pun yang paling berharga di dunia. Suatu saat aka nada waktu di mana masa kita akan berpindah, di mana yang sekarang kita menjadi dia atau mereka.

Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Dan sekarang masa itu sudah mendekati waktunya untuk berpindah. Senja takkan lagi kita lewati bersama, keindahan akan perpaduan keduanya sebentar lagi akan memudar. Karena senja terlihat paling indah saat berada di ujungnya, mari kita goreskan cerita terindah kita kawan. Walaupun berat rasanya ketika senja yang indah akan jadi malam yang gelap, tetapi ingatlah masih ada rembulan tanpa harus melupakan matahari. Dan aku berharap demikian, jangan lupakan kita ketika suatu saat sudah menemukan mereka.

Selesai.

Ya, kegembiraan berkarya. Kenikmatan dalam mencipta. Itulah yang kami tuju.

Asrama Al-Furqon, Darul Ulum, Jombang – karena kereta saya berangkat lepas subuh esok

image

Iklan

2 thoughts on “Dari Lagu ke Cerita Baru

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s