Watini dan Sarang Lebah Madu

Usai menikmati es kacang ijo campur bubur sruntul, saya masuk lagi ke dalam Pasar Peterongan, Jombang.

Di gang pertama dari sisi barat pasar, tepatnya depan toko emas, seorang ibu sedang duduk menunggui dagangannya. Di atas gelaran karung plastik putih, berjejer daun sirih, buah pisang, nangka, daun pisang, bunga-bunga, dan beberapa jenis sayuran. Namun, di antara dagangannya itu, yang membuat saya berhenti dan mengobrol dengan ibu pedagang itu adalah onggokan sarang lebah.

“Bu, ini dipakai buat apa?”

“Dibikin botok, Mas. Biasanya orang yang nyambut gawe. Kadang buat tandingan.”

“Tandingan?”

“Itu lho, Mas, buat sajen.”

“Oooh… Ibu bisa contohin ke saya, nggak?”

Ia mengambil dua helai kecil daun pisang, membentuknya seperti sekoci. Lalu, bunga-bunga merah segar ia masukkan. Daun sirih dan serbuk kapur plus kendi mini ia tata pula di dalamnya. “Nah, sarang lebahnya sedikit saja dipotong dan masukkan di sini,” jelasnya.

Saya melihat ibu ini mengeluarkan sarang lebah di plastik kecil.

“Ini masih ada madunya, Mas.”

10625019_10152848607354304_9112571422942247607_n10404867_10152848606974304_4058057144173670549_n

Saya perhatikan lebih dekat. Beberapa ekor lebah tampak mondar-mandir di atasnya. Ibu ini lantas mencungkil sedikit bagian atasnya. Lelehan madu pun keluar dari tabung-tabung kecilnya. Saya diperbolehkan mencicipi. Rasanya manis legit.

“Ini dijual berapa, Bu?”

Sekantong plastik kecil sarang lebah madu itu pun pindah ke tangan saya usai bayar 10 ribu rupiah.

Perempuan bernama Watini (55) ini telah 35 tahun berjualan di Pasar Peterongan. Namun, baru 12 tahun terakhir ini berjualan kembang yang biasanya dibeli peziarah makam. Ia berangkat sehabis subuh dan pulang jam 12 siang. Pergi pulang, ia naik sepeda ontel.

“Itu lho, Mas, sepeda saya. Yang merah, nyandar di tembok itu. Yang juelek itu…” ujarnya sambil menunjuk ke arah jalan raya.

“Halah, Ibu. Merendah…”

“Iya, Mas. Jueleeek…” katanya sambil terkekeh.

“Terus, Ibu bawa dagangan segini banyak, gimana?”

“Saya tinggal di sini, Mas. Bunganya saja saya bawa pulang. Taruh di karung …. dan jangan disiram lho, Mas. Bunganya malah rusak. Karungnya dibuka saja.”

“Lha, kalau yang lain Ibu tinggalin di sini, nggak hilang? Nggak dicuri?”

“Tak biarin,” ucapnya santai sambil senyum. “Kalau diambil ya… berarti ada yang lebih kekurangan dari saya. Kalau hilang ya, nggak apa-apa, Mas.”

Saya mencatat omongannya dalam hati. Bahkan, saya sampai memintanya untuk mengulang pernyataannya itu. Itukah ilmu ikhlas? Saya tak tahu.

Bu Watini ini tinggal dengan suaminya. Dua anaknya sudah berkeluarga dan tinggal di Surabaya.

“Bapak masih sehat? Bapak kerja apa, Bu?”

“Preman.”

“Ha? Preman?”

“Preman itu macul-macul di sawah orang gitu, Mas.”

Saya terbahak.

****

Jumat pagi kemarin, saya dan para santriwati Asrama A-Furqon Ponpes Darul Ulum blusukan di Pasar Peterongan. Kami belajar observasi dan wawancara sebagai bahan tulisan. Mereka menyebar. Sepulang dari sana, saya tanyai mereka.

“Gimana pengalaman kalian tadi?”

“Seruuu, Kak! Ini saya beli pisang.”

“Saya beli apel, Kak.”

“Saya beli bawang daun, Kak.”

Saya lihat ada pula yang beli kembang gula warna biru.

“Jumat depan kita ke mana lagi, Kak?”

Hmmm… Urusan belanja dan jalan-jalan yaaa… paling senang deh!

 

Ini adalah catatan tepat setahun lalu yang saya unggah di Facebook. Jejos ini mengembalikan memori lewat inovasi mereka “You have memories”. Karena saya belum memostingnya di blog, ini kesempatannya. Layak di’abadi’kan di etelase maya ini.

Iklan

2 thoughts on “Watini dan Sarang Lebah Madu

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s