Bukan Mesin

Menulis bukan pekerjaan robot. Menulis bukanlah hal mekanis. Ada terlibat banyak aspek dalam prosesnya. Kreativitas, imajinasi, fokus, konsistensi, energi, fisik, pikiran, juga emosi.

Namun, akan ada masa ketika menulis menjadi sebuah rutinitas. Apalagi kalau sudah terkait dengan pekerjaan. Kau hidup dari menulis, misalnya. Maka, mau tak mau kau harus menulis setiap hari.

Ibaratnya, maaf – berak. Begitulah.

Tapi, kalau kau berak terus-menerus tanpa ada makanan yang mengisi perut, itu juga tak baik. Bayangkan saja orang mencret. Lemas, bukan? Isi perut keluar. Sementara makanan susah masuk.

Jangan sampai menulis jadi kayak begitu. Menulis terus tanpa mengisi amunisi di otak dengan bacaan, tontonan, dan masukan-masukan bergizi lainnya, jangan harap kau akan hasilkan tulisan yang bernas.

Bisa jadi tulisan kau akan terasa kering. Tak bernyawa. Tak ada embusan napas penulisnya di sana. Hanya lanturan yang bikin pembaca akan melipat-lipat dahinya.

Kalau kata teman saya, waktu tak bisa diatur. Karena ia bergerak terus di luar kendali kita. Yang bisa dikelola adalah energi. Sebab, energilah yang kita punyai.

Maka, dalam 24 jam yang kita punya – tiap manusia diberi jatah waktu yang sama – apa yang bisa kita atur kalau bukan energi?

Energi untuk menulis, kau porsikan 5 jam sehari, misalnya. Sisanya untuk membaca dan mengerjakan hal lain yang akan memperkaya pengalaman hidup untuk kau refleksikan dalam tulisan.

Jangan sampai menulis menjadikan kau sebagai robot. Itu saja. Maka, cadangkan energimu untuk membaca. Membaca. Membaca.

887484_10153687317924304_3326785558850017415_o

Omong kosong kau punya naskah setebal bantal, namun isinya melompong. Karena apa? Kau terlalu bernafsu menulis. Sementara kata-kata yang curahkan tak memiliki bobot. Tidak membentuk makna yang bisa memperkaya perspektif pembaca kau.

Alangkah ngerinya nafsu menulis seperti itu!

Ini klise. Kalau ingin jadi penulis yang baik, jadilah pembaca yang baik. Dua aktivitas – membaca dan menulis – yang sama-sama butuh kesabaran dalam menjalankannya.

Sebelum terburu-buru menulis, baca saja dulu dengan sabar dan telaten. Nanti, bisa kau rasakan sendiri dorongan menulis karena kata-kata dari bacaanmu sudah mau meluap.

Sabar. Tak ada penulis yang saya kenal selama ini yang tak sabar. Dengan segala gagasan mereka yang liar dan tajam sekalipun, kala berjumpa dan bertutur dengan mereka, akan kau saksikan omongan mereka yang runtut. Terkadang memelan. Terkadang cepat. Ada ritme di sana. Mereka mengaturnya. Kalau bukan karena kematangan emosi yang disebabkan oleh latihan bersabar dalam membaca, merenung, dan menulis, hal itu takkan terjadi.

Jadi, jangan terburu-buru menulis. Kalaupun kau menuliskannya dengan terburu-buru, bisa jadi 90 persennya adalah sampah. Tak apa. Boleh saja. Asalkan kau harus rela dan sabar untuk memangkas sulur-sulur sampah itu kemudian pas masa penyuntingan.

Ingat, menulis bukan pekerjaan robot. Menulis bukanlah hal mekanis. Kembalikan menulis sebagai aktivitas yang kau lakukan dengan penuh kesadaran. Sadar sebagai manusia seutuhnya.

Iklan

4 thoughts on “Bukan Mesin

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s