Magma Gairah

Bayangkan dua buah gunung. Satu masih aktif, satu lagi sudah mati. Mana yang lebih diwaspadai? Gunung yang aktif, tentu saja. Ada aktivitas di sana. Ada ‘kehidupan’. Ada gejolak.

Kendati tampak anggun dalam diamnya, namun gunung aktif tersebut menyimpan magma. Kelak jika ia ‘terusik’ – aktivitasnya meningkat, ia bisa saja memuntahkan lava. Ancaman. Kengerian. Manusia menakutinya.

Tapi, setelah mereda, orang-orang bisa jadi akan bersyukur. Area yang ia muntahi dengan lava dan lahar, seiring waktu yang merangkak, akan berubah jadi lahan yang subur. Bisa pula menjelma jadi kawasan wisata. Gersangnya akan jadi hijau. Bebungaan tumbuh di mana-mana. Sayuran pun bisa dipanen. Kehidupan kembali.

Seseorang dengan gairah dalam dirinya, tak ubahnya gunung aktif yang menyimpan magma. Hidupnya hidup. Tidak sekadar menjalaninya bak robot sesuai rute yang sudah ditetapkan, hanya berserah pada takdir.

Ada kalanya ia menepi dalam diam. Menenangkan diri. Namun, berlama-lama dalam damai juga membuatnya tak bisa betah. Ia pun gelisah. Pikirannya mengembara ke mana-mana. Ia memantik ‘keributan’ di kepalanya. Gairahnya menggelegak. Ia ingin terus bergerak. Ada gelegak magma dalam sukma yang hendak ditumpahkan.

Lihatlah, ada perubahan yang dihadirkan oleh gunung yang telah meletus. Pribadi yang memiliki gairah dalam dirinya pun, saya kira, bisa menciptakan perubahan.

392768_10150431516544304_1829485478_nGunung Agung, Bali, saya ambil dari Gili Trawangan

Ia akan tak tenang dengan situasi di sekitarnya yang dianggap belum beres. Ia akan terus bertanya, apa yang bisa ia lakukan? Ketika pertanyaan itu sudah begitu dalam menusuknya dan ia sampai pula pada jawaban (sementara), maka ia pun bergerak. Ia ambil tindakan. Ia melangkah. Disertai dengan luapan gairah tentu. Semacam senyawa yang bisa meledak jika tak disalurkan dalam tindakan nyata.

Ketika satu persatu akibat dari tindakan (berlandas gairahnya) itu menampakkan hasil – semacam perubahan, kendati secuil – gelegak di dalam dirinya sedikit menurun. Kalau belum sama sekali, ia akan terus memacu diri. Mungkin ia akan lelah, tapi sejenak saja ia rehatkan diri, sebelum kembali berpacu.

Apakah damai yang ia tuju? Apakah setelah penyaluran gairah, damai yang ia cari? Apakah damai? Seperti gunung yang tenang setelah lavanya tumpah meruah?

Maka, ia akan bertanya mengenai damai. Demikiankah perang (batin) terjadi, hanya untuk mencapai damai? Apakah damai berarti ketiadaan perang (batin)? Apakah untuk mencapai damai, harus melalui peperangan-peperangan (batin)?

Apakah damai memang benar-benar bisa dicapai? Atau jangan-jangan itu  utopia belaka?

Mereka – para pencari kedamaian – dalam konteks apa pun, saya kira harus melalui perang. Katakanlah para sufi, para pelaku meditasi, pencari pencerahan, pencari kehidupan yang lebih baik, mereka mau tak mau harus berperang dengan banyak hal, terutama perang dengan diri mereka sendiri.

Gelegak gairah itu yang membuat mereka terus melaju. Berdialog dengan bala tentara kegelisahan yang menghadang mereka. Baik bala tentara khayali maupun nyata.

Dan, mereka pun membuat muka dunia jadi ‘lebih dinamis’. Saya tidak menyatakan ‘lebih baik’ karena sifatnya yang abstrak. Tak bisa diparameterkan. Dinamis saya pilih karena itulah kosakata yang paling bisa saya jangkau pada detik menuliskan ini.

Saya boleh tanya? Apakah Anda memelihara gunung aktif dalam diri Anda yang kerap diwaspadai dan bisa jadi dibencitakuti? Atau Anda lebih suka menjadi gunung mati yang jinak, tidak ‘berbahaya’, dan disayang-sayang oleh para pendaki?

Iklan

5 thoughts on “Magma Gairah

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s