Darah Muda

Kala menggebu menulis di SMP, saya tak punya mentor. Demikian berlangsung hingga SMA dan kuliah. Saya belajar otodidak. Ingin bisa menulis cerpen, saya baca kumpulan cerpen para sastrawan, baca Majalah Horison. Demikian juga kala terpantik keinginan menulis puisi. Saya lahap puisi-puisi siapa pun. Memerhatikan pola, diksi, imaji, dan sebagainya.

Kendati ada guru bahasa Indonesia, namun tugas mereka lebih pada memacu. Mendorong berkarya. Mengapresiasi. Guru-guru saya jarang menulis. Bahkan, ada yang malah menyuruh menghafal nama-nama sastrawan beserta karyanya. Pelajaran bahasa Indonesia jadi garing.

Tapi, dorongan mereka berupa apresiasi saya rasakan betul manfaatnya. Tak ada mentor, ya belajar sendiri. Jam istirahat, cabut ke perpustakaan. Tak cukup waktunya, pinjam. Lahap di rumah. Demikian yang saya praktikkan. Bertahun-tahun.

Saya baru ikut beberapa workshop menulis kala pertengahan kuliah. Kalau mata kuliah Teknik Penulisan Ilmiah HI hendak dimasukkan, boleh saja. Dan, memang di bangku kuliahlah saya dituntut untuk menulis, menulis, dan menulis. Dosen-dosen saya di HI memang ‘gila’. Rata-rata juga demen menulis, entah buku, artikel, opini, dan tentu saja penelitian ilmiah.

Saya hanya berpikir, punya mentor menulis itu baik. Apalagi kalau sejak dini digembleng. Niat sudah ada, minat sudah tertanam, tinggal menempa dengan latihan demi latihan. Sekaligus menjaga api semangat agar tetap menyala.

Itu pula alasan saya untuk girang tiap kali bisa bertemu talenta-talenta muda. Seperti Minggu pagi hingga siang kemarin (13/12) di Universitas Perguruan Tinggi Darul ‘Ulum Jombang. Pengurus dan anggota baru Lembaga Pers Mahasiswa saya ajak sejenak untuk menulis kreatif. Menuliskan 100 hal yang ingin mereka lakukan sebelum mati. Lalu, memilih 5 dari daftar tersebut secara acak (saya sebutkan angkanya) untuk mereka rajut dalam sebuah esai personal. Di awal dan sela-sela hingga penutup, saya coba mantapkan mereka agar tekun dan konsisten menulis.

Menanam sekarang, memetiknya belasan hingga puluhan tahun nanti.

Mumpung mereka masih muda. Mumpung darah mereka masih segar meletup-letup. Darah itu perlu dialirkan ke lokus yang tepat. Menulis, salah satunya.

***

Sehari sebelumnya, Sabtu (12/12) saya berbicara di TEDx Tugu Pahlawan Salon. Panitia menyuguhkan tema “The Road Less Travelled”. Ardi, mahasiswa ITS semester 7 selaku co-curator menghubungi saya semingguan sebelumnya. Saat itu siang hari. Saya sedang mendampingi adik-adik di kelas menulis Al-Furqon Darul ‘Ulum, Jombang.

Saya tak perlu berpikir lama untuk mengiyakan kesempatan itu. Jika tiga tahun sebelumnya saya meliput acara tersebut untuk media tempat saya bekerja, kesempatan kemarin saya bisa berbicara di depan anak-anak muda lainnya.

Saya berkisah mengenai kegiatan saya menulis, komunitas Lombok Backpacker yang saya dirikan empat tahun lalu, dan pengalaman jalan-jalan saya. Tak lupa saya suguhkan terima kasih untuk teman-teman yang bergabung di Lombok Backpacker. Sebab, merekalah yang menghidupkan komunitas tersebut. Berbekal semangat berbagi informasi tentang wisata Lombok yang ternyata efeknya menjalar ke mana-mana.

Tidak sekadar jalan-jalan bareng. Bahkan, teman-teman mengembangkan sendiri kegiatan di komunitas ini. Semisal: berbagi buku, alat tulis, seragam, dan sepatu untuk adik-adik yang tinggal di gili. Lombok Backpacker juga mengadakan donor darah dan pemeriksaan kesehatan untuk ibu dan anak. Pemasangan plang petunjuk arah tempat wisata juga dilakukan.

Sebagai langkah konservasi, teman-teman pun membuat media tanam terumbu karang di Pantai Kecinan. Kegiatan bersih pantai juga rutin digelar. Kampanye untuk menjaga tempat-tempat wisata di Lombok dari sampah juga tak henti diembuskan oleh para anggota.

Bahkan, untuk mengeratkan satu sama lain, tiap Kamis malam diadakan pengajian di Rumah Singgah. Rumah Singgah ini pun salah satu wujud ide yang gayung bersambut dari anggota Lombok Backpacker. Di sinilah para backpacker dan traveler bisa menginap tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Hal-hal semacam itu yang saya ceritakan di TEDxTugu Pahlawan Salon yang venue-nya di Aula Tugu Pahlawan.

Ada yang menarik. Tiga narasumber berasal dari luar Surabaya. Anita Shilvia, pendiri Manic Street Walkers, adalah orang Jakarta. Tavie Hadiez, independent traveller berusia 51 tahun asal Banjarmasin. Saya dari Lombok. Ardi, co-curator sendiri asal Bekasi yang hijrah ke Surabaya untuk menuntut ilmu.

Kami dipertemukan melalui benang merah yang sama. ‘The road less travelled‘.

12366109_1052483114773513_4845650515758404125_o12363188_1052484658106692_7218131679649856149_o

***

Kilas balik hampir sebulan lalu. Tepatnya Sabtu, 21 November 2015. Saya berkesempatan mengisi Creative Writing Workshop di Aula Kahuripan, Kampus C Unair. Senang rasanya karena bisa giliran di panggung yang sama dengan Drs. Maksum, M.Si. (Direktur Eksekutif Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi) dan Ahmad Fuadi (penulis dengan karya laris trilogi Negeri 5 Menara).

Ahmad Fuadi adalah lulusan Pondok Pesantren Gontor. Profilnya sebagai penulis, peraih banyak beasiswa, dan pembicara publik sungguh bisa memantik nyala api pada jiwa-jiwa muda. Tepat kiranya jika adik-adik saya di kelas menulis Al-Furqon Darul Ulum Jombang bisa jumpa langsung dengannya siang tadi di Aula Kahuripan lt. 3 Gedung Rektorat Kampus C Unair.

Mendekatkan anak-anak muda ini dengan Ahmad Fuadi tak ubahnya membangkitkan daya magnet dalam diri mereka. Setidaknya, gambaran pribadi mereka kelak, salah satunya terwakili oleh pribadi novelis mega best seller Negeri 5 Menara itu. Bisa jalan-jalan keliling dunia karena menulis dan menuntut ilmu. Apalagi di pondok amat ditekankan untuk menjadi sosok yang bertakwa sekaligus berilmu.

Saya tak banyak menuntut dari anak-anak hebat ini. Andai menulis tidak dijadikan sandaran hidup mereka nanti, setidaknya mereka bisa intens mengenal diri lewat menulis. Sebab, menulis adalah salah satu cara untuk menempa mental. Ketika menulis, seseorang akan banyak berdialog dengan dirinya. Menjelajahi sudut-sudut hening dalam diri. Apa dan siapa diri mereka.

Bukankah dikatakan, barang siapa mengenal dirinya, kenallah ia akan Tuhannya?

Mengenal diri lewat aksara. Melejitkan potensi diri sekaligus menggali kesyukuran.

Tak tahu kita usia sampai mana. Setidaknya, ada makna yang kita tinggalkan kendati secebis jua.

12241781_10153716252829304_3719958185070194371_n

Iklan

3 thoughts on “Darah Muda

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s