Fatah

Artikel yang dimuat di Majalah Tebuireng edisi Maret-April 2015 ini ditulis oleh M. Iqbal Dawami, seorang penulis, editor, juga pengajar menulis. Dulu pernah menjadi editor di Bentang Pustaka, penerbit besar di Yogyakarta. Kini memilih menjadi freelancer sekaligus pegiat literasi di Pati, Jawa Tengah.

Fatah

Assalamu’alaikum wr.wb. tadi Bapak dan Ibu sudah baca Lombok Post, dalam kaitannya dengan Tulisan Yang Berjudul ” KENALKAN LOMBOK LEWAT BUKU” , Bapak dan Ibu Senang dan Bergembira Membaca papar Lalu Abdul Fatah alumnus jurusan Hubungan Internasional Universitas Airlangga. Semoga Cepat Terwujud sesuai dengan apa yang Bapak Ibu dan Semua Keluarga kita di Lombok dengan Pertolongan dan Ridlo Allah SWT,Amin Ya Rabbal’alamin. SELAMAT BEKARYA DAN BERJUANG TERUS MAJU NAK SAMPAI TERCAPAI TUJUAN SEBAGAIMANA MESTINYA.

SMS terakhir bapak 17 Desember 2014.

Innalillahi wa inna ilaihiraaji’uun… Selamat jalan, Bapak tersayang.

Itu adalah status facebook yang ditulis seorang kawan saya, Lalu Abdul Fatah. Membacanya membuat saya terharu. Semua orang yang membacanya akan bergetar hatinya. SMS terakhir yang ditulis ayahandanya menjadi motivasi pamungkas bagi dirinya dalam melakoni laku literasi, khususnya mengenalkan Lombok lewat karya tulisnya. Diam-diam dalam hati saya mengamini SMS almarhum Bapaknya itu dan mendoakan pula semoga amal baik bapaknya diterima oleh Allah SWT dan dalam keadaan husnul khatimah.

Lalu Abdul Fatah. Saya tidak tahu persis kapan saya berteman dengannya. Saya tidak tahu pasti siapa duluan yang meng-add facebook kami, dia atau saya duluan? Ah, itu tidak terlalu penting. Mengenalnya adalah sebuah anugerah bagi saya, karena saya banyak menimba inspirasi darinya, khususnya ilmu kepenulisan. Tulisan-tulisannya begitu hidup dan enak dinikmati. Saya suka cara dia menarasikan sesuatu. Saya perhatikan kebanyakan dia menulis tentang travelling. Travelicious Lombok: Jalan Hemat, Jajan Nikmat (B-First, 2011) adalah buku travellingnya yang sudah saya baca. Saya dikirimi olehnya. Ada bubuhan tanda tangannya. Sungguh spesial.

Di dalam blognya dia berusaha mencatat segala aktivitasnya yang dirasa mengesankan. Beberapa tulisannya saya baca. Salah satunya cerita pas dia jalan-jala ke Jogja dan mampir menemui saya di Bentang Pustaka. Dia menemui saya dengan Desi Puspitasari, cerpenis dan novelis. Dia sertakan juga foto-fotonya di blog tersebut. Saya merasa terhormat mendapat kunjungan dari mereka berdua. Sesuai janji saya, siang itu saya traktir mereka soto ayam dan es teh di warteg dekat kantor Bentang Pustaka.

Fatah juga pernah menginap di kost saya. Waktu itu dia menengok adiknya yang kuliah di Jogjakarta. Saya tawari dia untuk menginap di kos saya. Dia pun menerimanya dengan senang hati. Sepanjang malam kami mengobrol kesana-kemari. Dan pagi selepas subuh, sembari menghirup udara pagi yang sepi, kami jalan-jalan di sepanjang trotoar jalan Timoho. Kami sempatkan pula sarapan bubur ayam.

11075192_10153165528554304_7313013038934931284_n

Saya juga membaca tulisan lainnya yang sungguh inspiratif. Dalam blognya dia bercerita bahwa seorang kawannya menulis status, “Lumut tidak akan berkumpul pada batu yang menggelinding.” Awalnya Fatah me-like status tersebut sebagai tanda setuju dengan metafora tersebut. Namun, dia kemudian meragukannya, karena setelah dia riset di Google, lumut tidaklah senegatif itu. Ada banyak manfaat lumut yang jarang diketahui orang. Misanya, tumbuhan lumut memiliki peran dalam ekosistem sebagai penyedia oksigen, penyimpan air (karena sifat selna yang menyerupai spons), dan sebagai penyerap polutan. Tumbuhan ini juga dikenal sebagai tumbuhan perintis, mampu hidup di lingkungan yang kurang disukai tumbuhan pada umumnya. Beberapa tumbuhan lumut dimanfaatkan sebagai ornamen tata ruang. Beberapa spesies Sphagnum dapat digunakan sebagai obat kulit dan mata. Tumbuhan lumut yang tumbuh di lantai hutan hujan membantu menahan erosi, mengurangi bahaya banjir, dan mampu menyerap air pada musim kemarau.

Fatah mencoba menginterpretasikan metafora yang dibuat kawannya itu. Lumut dianggap sebagai benalu dalam hidup manusia. Ia menjadi penghambat kemajuan dan menyebab seseorang tidak bisa berkembang. Namun, lumut tidaklah senegatif itu. Ada banyak manfaatnya pula bahkan sangat diperlukan dalam kehidupan. “Lumut memang bisa membuat batu perlahan-lahan hancur dan lumat, tapi bukankah setelah itu akan muncul kehidupan berikutnya yang lebih indah,” ujar Fatah.

Saya mengamini pendapat Fatah di atass. “Lumut-lumut” dalam kehidupan manusia juga sangat diperlukan. Baiklah, anggap saja lumut itu diartikan sebagai “diam” dan “ujian”. Maka dalam hidup ini ada kalanya kita harus diam dan ada kalanya harus bergerak. Diam yang dimaksud adalah diam produktif, seperti refleksi, tafakur, merenung, bahkan istirahat. Ujian pun begitu, ia diperlukan dalam kehidupan. Hal itu sudah menjadi hukum alam yang tak bisa dihindari. Ujian ada bukan untuk melemahkan hidup seseorang tetapi justru untuk membikin “naik kelas”. Itulah gunanya “lumut”.

Saya berharap ujian yang menimpa kawan saya ini menjadikan ia “naik kelas”. Kesedihannya justru menjadikannya ia bangkit dan semangat berlipat-lipat. Terlebih, almarhum ayahandanya sendiri begitu mendukung usahanya dalam menekuni bidang literasi. Sungguh itu bisa dijadikan “doping” yang kuat di kala Fatah patah semangat. Fatah patut bersyukur memiliki orangtua seperti itu.

Di akhir tulisan ini, saya persembahkan sebuah puisi dari Omar Khayyam, penyair dari Persia, untuk kawanku, Fatah:

Di atas tanah Harimu akan bersih

Dan angin musim semi berhembus lembut

Bunga-bunga menebarkan air mata

Burung bulbul bersenandung riang

Dan berkata : Mari menari Lepaskan duka nestapamu

 

Iklan

3 thoughts on “Fatah

  1. Tulisan yang sangat bagus! Berhasil menggambarkan sosok Mas Fatah. Dan saya pikir soal naik kelas itu, saya sepakat Mas Fatah sudah melaluinya dan akan beranjak ke kelas-kelas yang lebih tinggi. Semangat! 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s