S-2

“Kamu nggak pengin S-2?”

Sudah sekian banyak orang menanyakan hal tersebut pada saya. Saya bilang, karena baru saja lulus (Maret 2015), saya ingin menikmati dulu masa kerja. Kerja yang tergolong gila. Tujuh hari dalam seminggu. Lima hari di kantor media, sehari di sebuah asrama pondok pesantren di Jombang, dan sehari lagi di sebuah sekolah linguistik.

Saya sendiri sadar melakukan itu. Semacam ‘balas dendam’ karena hari-hari saya sebelum sesibuk setahun belakangan ini, lebih banyak santainya.

Namun, bekerja 7 hari dalam seminggu membuat saya berpikir ulang. Penghasilan memang bertambah. Tapi, saya merasa lama-lama kayak robot. Bangun pagi yang ada di kepala adalah tulisan-tulisan yang hendak saya garap. Juga materi yang akan saya berikan di kelas menulis. Terkadang berangkat tanpa rencana. Semacam ‘go show’. Nanti sajalah berimprovisasi, demikian celetuk batin saya.

Memang saya tampak produktif. Kuantitas terjaga. Target-target terpenuhi. Meski tak menampik, ada masa meleset juga.

Namun, lama-kelamaan saya berpikir, ini sudah tidak sehat lagi. Kuantitas tak selalu berbanding lurus dengan kualitas (standar saya sendiri). Ada hari saya merasa sekadarnya saja. Sekadar memenuhi target. Jiwa saya tidak di sana. Jadinya seperti robot. Manusia tanpa jiwa. Hanya bergerak dan bergerak. Pundi-pundi di rekening bertambah. Tapi, apa? Buat apa?

Padahal saya bukan robot. Saya juga termasuk yang ‘keras’ mengkritisi  orang-orang yang berperangai robot. Menyadari itu, sebelum saya terlampau dalam terperosok menjadi robot, saya menarik diri.

image

Semesta adalah ruang belajar yang tiada habisnya untuk dijelajahi

Per awal Desember saya memutuskan undur diri dari kerja kantoran di media. Itu membabat lebih dari 50 persen penghasilan saya dalam 6 bulan terakhir ini. Hari-hari pertama, saya sempat khawatir mengenai uang. Bagaimana bulan ini, bagaimana bulan depan? Imun saya pun agak melemah karena jam biologis tubuh yang berubah. Biasanya melekan di pagi hari dan ke kantor lalu duduk berjam-jam untuk menulis, saya habiskan waktu dengan tidur, baca, tidur, baca, makan, main.

Saya cerita hal itu pada kakak saya. Juga pada seorang rekan kerja di sekolah linguistik. Sekadar melepaskan kegelisahan. Ingin meraup dukungan bahwa pilihan saya sudah oke.

Dan, di hari ke-16 ini, barulah saya bisa lega menuliskannya di blog. Setelah diselipi beberapa drama, saya mencapai titik untuk melepaskan. Melepaskan bayang-bayang khawatir. Besok seperti apa, ya hadapi dengan jiwa kanak-kanak yang berani, selalu ingin tahu, dan merasa selalu ada yang baru.

Hidup adalah petualangan. Kalau melulu mengikuti jalur aman yang sudah jelas, mana seru hidup ini?

Saya menghibur diri. Justru dengan begini, otak saya lebih terpakai. Saya punya waktu lebih banyak untuk membaca, merenung, berpikir. Saya lebih leluasa untuk pergi ke mana-mana tanpa izin ini itu dan dihantui pekerjaan yang tertinggal. Saya bisa lebih fokus pada kegiatan mengajar, menjadi pembicara, mengisi materi penulisan di workshop. Ketika tidak berbicara, saya bisa fokus pula untuk ancang-ancang buku saya berikutnya.

Bagaimana dengan rezeki? Ah, saya kiranya tak perlu ambil pusing. Asalkan tetap berusaha, pasti akan mendapatkan. Tinggal fokus dan memberikan yang lebih baik dari sebelumnya. Bukankah bumi Allah itu luas? Ia pun Mahakaya. Betapa kerdilnya pikiran saya kalau menganggap bahwa rezeki saya bergantung orang lain. Tidak. Ini bergantung pada Sang Pemberi Rezeki. Sang Pemilik Hidup.

Berserah diri setelah berupaya. Lalu, santai. Memenuhi diri dengan kebahagiaan-kebahagiaan kecil. Melempar jauh-jauh dumelan di hati. Mendekatkan diri dengan lingkaran yang lebih positif.

Dan, mari kembali ke jalan penuh gairah. Menyalakan lentera jiwa yang sempat redup.

Jadi, kapan S-2?

Untuk saat ini, lagi-lagi belum relevan buat saya. Saya belajar saja dulu pada rekan-rekan kerja di sekolah linguistik. Juga belajar pada murid-murid saya yang hebat di kelas menulis. Mereka adalah para profesor yang tidak mendikte saya dengan tugas-tugas secara langsung. Merekalah yang justru mengajak saya untuk terus berpikir. Apa dan mengapa? Lalu, bagaimana?

Hei, bukankah sekolah kehidupan itu jauh lebih nyata? Bukankah alam semesta adalah sekolah dengan ruang kelas yang begitu maha?

Jadi, mari belajar. Itu yang lebih penting. Bukan sekolahnya.

image

Melipir ke UWRF 2015 juga bagian dari sekolah

Iklan

17 thoughts on “S-2

  1. setuju dengan ini: “bukankah sekolah kehidupan itu jauh lebih nyata? Betul, alam semesta adalah sekolah dengan ruang kelas yang begitu maha …”
    Paska sarjana adalah bagian dari alam semesta…
    jika ada kesempatan, mengapa tidak…
    mumpung masih muda, jangan membatasi diri…
    Sukses selalu!!!

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s