Baca Puisi ‘Ayah’ Andrea Hirata

“Siapa yang mau membacakan puisi…” pancing Andrea Hirata pada ribuan hadirin di Auditorium UIN Sunan Ampel, Surabaya, kemarin siang, Kamis (17/12).

Beberapa orang angkat tangan sambil duduk. Saya memilih angkat tangan sembari berdiri. 

Ia menunjuk saya.

Rasanya? Jangan ditanya. Dada ini sudah berdegup kencang. Saya lompat dari kursi dan dengan gesit melewati deretan hadirin lainnya.

Saya lama menantikan pertemuan ini.

Andrea Hirata adalah salah satu penulis favorit saya. Karya-karyanya saya baca. Laskar Pelangi membuat saya penasaran dengan Belitong. Kampung halaman Andrea itu pun bisa saya kunjungi pada 2011 lewat program Aku Cinta Indonesia Detikcom.

Film ‘Sang Pemimpi’ yang diadaptasi dari novelnya sempat membuat saya sesenggukan di bioskop di kawasan Blok M. Saya tak peduli anak-anak SMP yang menengok ke arah saya.

Di film itu, saya diingatkan kali pertama merantau ke Tanah Jawa. Bagaimana pemeran Ikal menggotong koper tuanya ke atas kapal saat ke Jakarta. Dulu pun saya demikian. Menggeret koper dari kos teman untuk mencari kos saat kuliah di Malang.

Sambil menahan adrenalin, saya diminta memperkenalkan diri. Saya masih tak percaya bisa berdiri di samping salah satu penulis idola saya itu.

“Silakan bicara.”

image

Kenalan saya, Ovi, memotret dari atas saat saya baca puisi

Saya pun kisahkan secarik aktivitas saya membimbing anak-anak muda menulis. Termasuk adik-adik saya di kelas menulis Al-Furqon, Darul ‘Ulum Jombang.

Mereka bersorak hore saat saya perkenalkan.

Saya juga ceritakan tentang sekolah linguistik IWEC (Indonesia Writing Edu Center) tempat saya mementori menulis anak-anak dan remaja saban minggu. Saya sebutkan Fairuzahanun Razak (12 tahun), anak IWEC cum siswi homeschool yang sudah menulis tiga buku dalam bahasa Inggris. Ia hadir bersama mamanya, Maylia Erna, yang merupakan pendiri IWEC. Mereka duduk di deretan belakang.

Andrea tampak antusias mendengar saya. Roman mukanya memerhatikan dengan saksama. Sungguh itu respon yang amat berharga buat saya.

Hanun pun diminta ia ke depan. Hanun memberikan dua bukunya untuk Andrea, The Domestic Cats dan Eros.

image

Saya bangga Hanun berdiri sejajar dengan penulis besar ini. Saya memimpikan Hanun kelak jadi penerus Andrea di kancah internasional.

Sambil menyiapkan iringan gitar untuk penggalan kisah di novel ‘Ayah’ yang akan saya puisikan, Andrea tak henti memuji Hanun. Begitu pula nantinya sekelar saya membacakan puisi. Hanun masih ia dampingi dan unjukkan ke para hadirin. Ia tanya ini itu.

Manajernya menyorongkan novel ‘Ayah’. Penampakan halaman-halamannya sedikit kusut. 

Gitar akustik mulai dipetik, Andrea memberi aba-aba agar saya memulai. Sebelumnya, ia memberi prolog lewat untaian kata puitisnya. Itu bukan prolog, sebenarnya. Sebab, sedari awal, berpuluh menit yang lalu, ia berucap laksana berpuisi. Identik sekali antara gaya tuturnya dengan gaya menulisnya.

Saya pegang novel dengan tangan kiri. Mikrofon di tangan kanan. Ambil napas sejenak. Petikan gitar saya ikuti.

Begini penggalan novel ‘Ayah’ halaman 259 yang saya puisikan.

//Awan adalah anak perempuan yang suka bersedih. Oleh karena itu, manusia bisa mengajak Awan bercakap-cakap. Jika awan gelap dan manusia tidak menginginkan hujan, Awan bisa dibujuk. Berhentilah sejenak di mana pun kau berada, tataplah Awan dan berbicaralah dengannya agar dia menunggu sebentar saja sampai engkau sampai di rumah.

Akan tetapi, kau hanya bisa membujuk Awan dengan puisi dan puisi itu harus kau nyanyikan. Seperti ini nyanyiannya…

Wahai Awan
Aku ingin sekolah, janganlah dulu kau turunkan hujan
Ajaklah Angin, untuk menerbangkanmu ke selatan
Wahai Awan
Janganlah dulu kau turunkan hujan
Wahai Awan, kuterbangkan layang-layang untukmu//

“Terima kasih,” pamungkas saya.

Sementara itu di luar awan menggelayut mendung. Pencahayaan di dalam gedung auditorium juga temaram. Saya sedikit edarkan pandang. Salah satu adik saya di kelas menulis Al-Furqon tampak menyusuti air matanya.

Haru menjelaga.

image

Adik-adik saya di kelas menulis Al-Furqon bersama Andrea Hirata

Iklan

3 thoughts on “Baca Puisi ‘Ayah’ Andrea Hirata

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s