Rumah Bernama Orangtua

Seorang gadis berusia 12 tahun menunjukkan sesuatu di layar laptopnya pada saya.

Is it true? Your biggest fear is…

Saya tertegun. Antara hendak mengiyakan juga menidakkan. Apakah benar, itu ketakutan terbesar saya? Gadis berjilbab dengan otak brilian itu menunjukkan laman sebuah situs tentang zodiak. Sebagai orang Cancer, di situ disebutkan kalau ketakutan terbesar saya adalah ‘having no place to call home‘.

Ah, zodiak saja, kok! Demikian tepis saya. Tapi, entah mengapa, justru saya tertarik untuk menanggapinya.

“Bisa jadi, iya. Kak Lalu sudah tidak punya orangtua lagi. Tidak ada mereka, rasa kangen sama ‘rumah’ itu jadi hilang. Kalaupun ada kakak-kakak dan adik-adik Kak Lalu untuk dikunjungi pas pulang kampung, tapi tetap saja rasanya tidak seperti pulang ke rumah.”
Demikian cerocos saya pada Hanun, gadis belia yang juga penulis berbakat itu. Ia menunjukkan raut muka bersimpati.

Beberapa hari yang lalu, percakapan itu terjadi di ruang perpustakaan mini di kantor tempat saya bekerja. Dan, entah mengapa, kata-kata ‘having no place to call home’ itu menghantui saya. Memicu saya untuk berpikir. Mendung di hari matahari gerhana total ini, tambah melengkapi suasana kelabu itu.

Tak ada tempat untuk saya sebut rumah. Tak ada.

Rumah fisik peninggalan orangtua masih ada. Kokoh berdiri. Terakhir saya menjenguknya pertengahan tahun lalu, saat saya mudik. Kemudian karena urusan pekerjaan, saya harus kembali ke tanah rantauan. Surabaya.

Saya merenung. Teringat Bapak saya yang pada Januari 2015 tiada. Beliau adalah perantau. Sejak masih pelajar sudah merantau, meski satu pulau, hanya beda kabupaten. Beliau juga beberapa kali dipindahtugaskan sebagai PNS. Ke luar negeri pun dalam rangka tugas sebagai petugas haji.

Beliau sejak masih kecil sudah tidak melihat wajah orangtuanya. Ditinggal mati. Tiap kali jadi imam salat hari raya, sudah jaminan beliau akan tersengguk menangis. Dulu saya menganggap beliau cengeng. Tapi, pada suatu kesempatan saya mengetahui alasannya, yakni ingat orangtuanya yang telah tiada, saya pun memaklumi.

Ia yang sejak kecil tak tahu wajah orangtuanya, namun semangatnya untuk melanjutkan hidup demikian kuat, mengapa saya harus TAKUT tidak punya tempat yang disebut RUMAH?

image

Jujur saja, sebagai perantau, saya merasakan diri saya yang memiliki identitas yang terikat pada akar, sekaligus sisi yang menjulur ke mana-mana namun menyimpan keterasingan. Saya beridentitas Suku Sasak dari Lombok, beragama Islam, punya nama khas di depan yang menunjukkan identitas itu. Di sisi lain, hampir 10 tahun di Jawa, saya berinteraksi dengan orang-orang beraneka ragam latar belakang, entah secara suku maupun agama.

Ada perasaan bahwa saya kaya dengan ini. Dan, memang inilah rupa-rupa kehidupan yang saya imajinasikan, saya bisa berada. Mengenal orang-orang yang ‘berbeda’, tahu seluk-beluk dan manis getir hidupnya. Itu pengalaman yang tiada tara, bagi saya. Sebab, saya meromantismekan kekayaan pengalaman itulah yang jadi modal saya sebagai penulis. Oh iya, saya bahkan pernah membuat pernyataan di sebuah lingkup kecil bahwa saya sepertinya memang terlahir menjadi penulis. I was born to be a writer. Bukan ungkapan jemawa, tapi dari hasil penelusuran saya ke ‘dalam’ dan ke ‘belakang’ sembari menerawang ke ‘depan’.

Di sisi lain, ada semacam keterasingan yang saya rasakan. Bisa jadi riuh cerita yang saya tangkap, entah dari buku atau percakapan yang sengaja saya gali atau pengamatan yang sengaja saya tajamkan, sebenarnya sebagai cara saya bertahan untuk waras. Untuk mengisi lubang-lubang yang entah saya sengaja ciptakan sendiri atau karena kondisi yang memaksa demikian atau bisa jadi secara tak sadar saya lakukan.

Ada kecamuk perang. Tarik ulur. Setuju tidak setuju. Ajakan tentangan. Itu kerap saya rasakan intens terjadi dalam diri saya. Dengan segala raut tenang yang saya tunjukkan pada dunia luar, sebenarnya ada magma pula di dalam diri ini yang senantiasa aktif bergejolak. Saya berpikir berkali-kali sebelum merespon sesuatu. Ini bisa jadi kelebihan, bisa pula kekurangan saya.

Saya tak bisa membiarkan diri saya ‘kosong’. Kecuali saat sedang tidur, barangkali. Ada ketakutan saya kalau diri ini melompong. Mungkin itu pulalah saya kerap jadi ‘gelas kosong’. Dan saya menyukainya. Itu membikin saya haus pada cerita-cerita dan meraup rupa-rupa pengalaman. Membaca, membaca, dan membaca.

Jadi, benarkah ketakutan terbesar saya adalah tidak memiliki tempat yang disebut rumah?

Saya tidak tahu. Namun, bagi saya, terpenting adalah bukan bangunan fisik. Bukan itu konsepsi saya tentang rumah. Hati yang dipenuhi kehangatan dan warna yang beragam, saya kira itulah rumah. Rumah yang membuat saya betah.

Iklan

8 thoughts on “Rumah Bernama Orangtua

  1. Aku sedih baca tulisan ini
    lebih dari 10 tahun menjadi perantau, selalu saja kangen rumah
    saat ini masih ada bapak dan ibu, entah nanti jika mereka sudah tiada hiks

  2. Hiks, Fatah, jadi ingat kedua orang tua yang telah tiada. Sama, rumah peninggalan mereka pun masih berdiri. Dan aku sempat bertanya ke diri sendiri, apakah ini masih bisa kuanggap rumah? Sementara, saudara kandung pun aku tiada.

    Tapi, kenangan di sana terlalu kuat buatku. Dan warisan orang tua, bukan hanya rumah, kerabat dekat, sahabat2 mereka, semua bisa jadi tali yang mengikatku. Mengingatkanku bahwa aku masih punya tempat untuk pulang… ira

  3. Rumah buat saya adalah tempat di mana kepulangan kita dinantikan, dirindukan oleh para penghuninya.

    Dan itu masih saya rasakan di rumah masa kecil di kampung halaman.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s