Mana Jalan yang Kau Ambil?

Assalamu’alaikum wr.wb.

Saya memulai sesi ini dengan membacakan puisi Robert Frost yang berjudul “The Road Not Taken”. Robert Frost adalah penyair kelahiran San Fransisco, California, tahun 1874.

Dua jalan bercabang dalam remang hutan kehidupan,

Dan sayang aku tidak bisa menempuh keduanya,

Dan sebagai pengembara, aku berdiri lama

dan memandang ke satu jalan sejauh yang aku bisa

Ke mana kelokannya mengarah di balik semak belukar

Kemudian aku memandang yang satunya, sama bagusnya

Dan mungkin malah lebih bagus

Karena jalan itu segar dan telah melewatinya juga telah merudukkan rerumputannya,

Dan pagi itu keduanya sama-sama membentang

Di bawah hamparan dedaunan rontok yang belum terusik

Oh, kusimpan jalan pertama untuk kali lain!

Meski tahu semua jalan berkaitan

Aku ragu akan pernah kembali.

Aku akan menuturkannya sambil berdesah

Suatu saat berabad-abad mendatang

Dua jalan bercabang di hutan, dan aku…

Aku menempuh jalan yang jarang dilalui

Dan itu mengubah segalanya.

Saya menulis puisi ini di blog saya empat tahun yang lalu. Awalnya, saya membaca potongan puisi Robert Frost ini di buku “Seperti Sungai yang Mengalir” karya Paulo Coelho. Saya pun merasa seakan menemukan “pencerahan”. Ternyata apa yang saya pikirkan saat itu, sudah ada yang memikirkannya puluhan tahun yang lalu. Dan, saya benar-benar jatuh cinta pada puisi ini.

Kenapa? Saya yakin, selalu ada motif di balik setiap tindakan. Selalu ada alasan di balik setiap keputusan. Selalu ada jawaban di balik setiap pertanyaan, kendati jawaban tersebut tidak langsung kita dapatkan karena harus melalui proses pencarian.

Apa yang ditulis oleh Robert Frost dalam puisinya “The Road Not Taken” sebenarnya menggambarkan gagasan besar. Bagaimana kita memilih jalan kehidupan, jalur nasib, rute safari.

Ke mana saya menuju?

Mana jalan yang perlu saya ambil?

Belok kiri, belok kanan, lurus, atau kembali ke belakang?

Saya bertemu tebing terjal, haruskah saya memanjatnya?

Saya tiba di ujung tanah dengan jurang menganga, sementara saya hendak ke tanah seberang, apa yang harus saya perbuat?

Saya ingin ke tepi sungai seberang, sementara sungainya lebar dengan arus yang kuat, apa yang harus saya perbuat?

Saya hendak ke pulau sebelah, sementara di depan saya laut membentang, sementara saya tak kuat berenang dan tak ada perahu untuk dinaiki, apa yang harus saya lakukan?

Akhirussanah

Saya menyampaikan pesan dan kesan di acara Akhirussanah asrama Al-Furqon, Darul ‘Ulum, Jombang pada 1 Mei 2016 (Foto: Alvirariza Fakhira)

Mungkin kalia sedang memikirkan jawabannya. Merancang kemungkinan-kemungkinan jawaban. Mungkin ada pula yang abai. Apa pun itu, itu pilihan kalian.

Kata orang “hidup adalah pilihan”. Saya pikir itu bentuk yang pasif. Bagaimana dengan “hidup adalah memilih”? Itu jauh lebih aktif. Terbuka pilihan-pilihan. Tapi, yang akan membedakan antara satu orang dengan lainnya adalah ketika ia memilih.

PILIHAN. Kata benda. Pasif.

MEMILIH. Kata kerja. Aktif.

Adik-adik Al-Furqon yang saya banggakan.

Malam ini di Al-Furqon, kalian berada. Besok, saya tidak tahu, masing-masing kalian akan di mana. Karena kalian, saya yakin, sudah punya rencana-rencana. Entah rencana jangka pendek maupun menengah hingga panjang. Entah rencana yang masih samar hingga yang sudah terang-benderang. Entah rencana itu tersimpan di dada, di kepala, atau mungkin telah kalian tuliskan.

Apa pun itu, milikilah sesuatu yang lebih besar dari sekadar rencana. Apa itu? Aksi. Gerak. Tindakan.

Sebab inilah yang di tahap berikutnya membedakan antara “SI PERENCANA” dan “SI AKTOR”.

Tapi, ada satu hal lagi yang lebih besar dari aksi alias tindakan. Apa itu? Visi.

Visi adalah tujuan jangka panjang. Apa yang kalian cita-citakan. Apa yang ingin kalian wujudkan dalam hidup.

Visi ini semacam rumusan jawaban atas pertanyaan “Apa tujuan saya hidup di dunia?”

Visi yang kuat. Inilah yang harus kalian miliki, adik-adikku. Tanpa visi yang kuat, kalian akan mudah goyah. Kalian akan gampang oleng. Kalian akan rentah patah arang.

Visi ini harus sesuatu yang transendental. Sifatnya rabbaniyah. Sesuatu yang sangat penting dan sukar dipahami oleh pengalaman manusia biasa.

Misalnya, ada di sini yang ingin jadi dokter? Jangan jadi dokter hanya karena melihat jas putih dan gelarnya. Tapi, milikilah visi bahwa dengan jadi dokter, kalian akan bermanfaat untuk orang lain.

Ada yang ingin jadi psikolog? Jangan lihat label psikolog dan sekadar impian untuk bekerja di bagian HRD perusahaan. Milikilah visi yang kuat bahwa dengan jadi psikolog, kalian bisa memahami kejiwaan manusia. Kalian memahami tidak hanya orang lain, tapi diri sendiri. Bukankah dikatakan “barangsiapa mengenal dirinya, kenallah ia akan Tuhannya?”

Itulah visi yang kuat. Sesuatu yang transendental. Yang rabbaniyah. Yang menghubungkan kita dengan Pencipta.

Jadi, adik-adikku…

Menutup tulisan ini, saya mengutip kata-kata Prof. Dr. Buya Hamka. Ia seorang ulama besar yang juga sastrawan juga politisi.

I

Jangan takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh.

Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal hanyalah orang-orang yang tidak pernah melangkah.

Jangan takut salah, karena dengan kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah yang kedua.

II

Jika hidup sekedar hidup

Babi di hutan juga hidup

Kalau bekerja sekedar bekerja

Kera juga bekerja

Sekian dari saya.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

 

***

Catatan:

  1. Tulisan ini saya sampaikan di acara Akhirussanah alias perpisahan santri kelas 3 asrama A-Furqon, Ponpes Darul ‘Ulum, Jombang pada Minggu, 1 Mei 2016. Kebetulan saya mengampu kelas menulis sejak Oktober 2014 di sana.
  2. Kalimat “Visi ini harus sesuatu yang transendental. Sifatnya rabbaniyah.” saya kutip dari tulisan Afifah Afra yang dibagikan di grup FLP.
Iklan

6 thoughts on “Mana Jalan yang Kau Ambil?

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s