Literasi Ala Sekolah yang Bikin Sakit Hati

“Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua.” (Catatan Seorang Demonstran – Soe Hok Gie).

Membaca postingan Pak Satria Dharma juga tambahan ide dari Pak Nurdin Razak via telepon pagi ini, memang bikin siapa saja (yang idealis) jadi sakit hati. Soal ujian untuk kelas 2 SD sungguh tidak bermutu. Pembuat soalnya seakan sudah mati rasa. Hanya sekadar mengetikkan sebaris soal yang kemudian titik-titik kosongnya diisi oleh siswa.

Ini guru. Tidak peka pada kata-kata. Tidak peka pada kekuatan kata yang bisa memengaruhi alam bawah sadar anak. Sang guru pembuat soal ujian, tidak menelaah kembali apa yang ia ketikkan (bukan tuliskan lho ya karena mengetik dan menulis itu berbeda).

Soal Ujian

Bikin sakit hati. Sungguh. Ini hanya satu dari (bisa jadi) puncak gunung es yang menunjukkan bahwa para tenaga pengajar kita minim membaca. Kata-kata dianggap daun kering yang terserak di bawah pohon dan dianggap sampah semata. Padahal kata-kata itu hidup. Ia amat bisa memengaruhi. Ia bisa membikin penguasa takut. Ia bisa membikin oknum-oknum militer (yang takut buku-buku ‘kiri’) merasa dihantui sampai ‘semaput akal’ untuk melakukan pemberangusan.

Oh, para guru. Berapa usia Anda? Apakah Anda senang bisa mencapai usia segini, tapi masih saja seperti mesin, untuk membuat soal-soal semacam ini? Tidakkah sejenak berhenti dari rutinitas nongol di sekolah untuk memaknai ulang mengenai apa yang Anda lakukan? Stop memberi soal ujian. Anda perlu membaca buku lebih banyak. Anda perlu belajar lagi.

Biar Gie-Gie lainnya tidak sampai sakit hati dan lebih mensyukuri untuk mati muda. Karena semakin menua tanpa memberi manfaat apa-apa, itu sungguhlah kesialan yang pahit.

Iklan

7 thoughts on “Literasi Ala Sekolah yang Bikin Sakit Hati

    • Betul, Mbak. Sistem yang membuat ini semua jadi kayak gini. Pemerintah, khususnya Kemendiknas, terus berlanjut hingga ke bawah.
      Termasuk buku ajar atau LKS yang dipakai oleh pihak sekolah, itu kerap lolos karena guru pun tidak mempelajari secara saksama isinya.
      Makanya, penting sekali kemampuan membaca dan berpikir kritis.

      • Nah, itu Mbak. Yang lebih kita miriskan lagi adalah orang2 yang duduk di kementerian. Tugas mereka kan bikin kebijakan. Sekarang sudah ada kebijakan baca buku non-pelajaran selama 15 menit sebelum kelas dimulai. Itu sudah perkembangan yang bagus. Berharap se-Indonesia bisa konsisten melaksanakannya.

    • Nah, kalau itu saya kurang tahu, Mbak. Kalaupun memang demikian kenyataannya, tentunya pihak penerbitan (yang bikin buku LKS itu) tidak bisa tutup mata dari hal ini. Karena mereka punya tanggung jawab juga untuk mendidik siswa. Kalaupun guru memang kompeten, harusnya guru bisa menolak pembelian LKS ini.

  1. Saya juga tersentak ketika membaca postingan tentang hal ini di facebook. Miris rasanya, gelisah, emosi jiwa. Bagaimana mungkin kalimat seperti ini keluar sebagai soal ujian siswa SD? Di mana ibarat komputer kosong, usia SD adalah usia untuk menginstall segala macam software.
    Terus terang melihat dua anak saya yang masih kecil2, saya berpikir untuk melakukan home schooling untuk mereka, jadi saya dan istri yang bertanggung jawab penuh atas perkembangan akhlak, moral, dan intelegensianya.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s