Ah, Anak-Anak Ini…

“Kak Lalu, doakan aku sama Fathan ya? Biar cita-cita kami jadi pembalap bisa tercapai,” kata Abhista saat kami duduk di warung gado-gado dekat sekolah mereka.

“Aamiin… Kak Lalu doakan, kok.”

Mereka adalah dua di antara 28 anak SD Al Falah yang ikut ekskul menulis. Tiga minggu yang lalu, saya resmi berhenti menemani mereka.

“Kalian tetap rajin membaca ya? Terus nulis.”

Begitu gado-gado saya habis, Abhista berbisik di depan Fathan. Saya curi pandang dan dengar.

Abhista merogoh sakunya. Mengeluarkan uang. “Kita bayarin Kak Lalu…”

Seketika saya meleleh. Abhista yang fisiknya paling kecil di antara kelas 5 yang ikut ekskul menulis, kerap diolok sebagai ‘bayi’ juga karena suaranya yang cempreng, dan pernah saya bopong ke ruang UKS karena terpeleset di kelas, bikin saya tersentuh.

Sebelumnya di kelas, saat saya pamitan sama anak-anak, riuh keberatan terdengar.

“Kak Lalu kenapa berhenti?”

“Kak Lalu mau ke mana?”

“Mana Kak Maylia?”

“Nanti siapa yang gantiin?”

Wajah-wajah merajuk mereka tampakkan. Ah, anak-anak ini.

“Ayo, kita foto dulu, ya? Nanti foto kalian dipajang di majalah sekolah lho. Kak Lalu sudah bikin tulisan tentang kelas menulis. Nanti kalian baca di majalah sekolah ya…”

Sesi foto pun dimulai dengan self-timing.

“Aku di dekat Kak Lalu!” Rama mendesakkan diri di antara kawan-kawannya. Ia meraih tangan kiri saya dan meletakkannya di pundak kirinya.

Ah, anak-anak ini…

Di luar kelas, Arqam, Nanda, dan dua anak lainnya bilang ingin mengantarkan saya.

Saya pun diantarkan ke warung gado-gado. Lalu mereka beruluk salam.

Ah, anak-anak ini… Ada awan berat yang menggantung di hati. Tapi, saya teguhkan diri. Anak-anak ini harus belajar arti berpisah. Toh, saya sudah tinggalkan alamat e-mail, media sosial, dan kontak jika sewaktu-waktu mereka kangen.

Beberapa hari berlalu. Di Line saya muncul chat dari Khalil.

“Halo, Kak!!! I miss you T_T”

Ah, anak-anak ini…

 

***

Facebook mengingatkan saya tentang postingan ini. Sudah setahun berlalu. Rasanya nyeeeessss… Apalagi saya suatu ketika ‘main’ lagi ke sekolah mereka. Bertemu dengan guru pengelola perpustakaan. Sebab, saya akan mengisi workshop menulis.

Saya temu mereka di Masjid Al-Falah. Sehabis salam kanan kiri, tetiba suara memanggil nama saya, “Kak Lalu…”

Rupanya barisan salat mereka di belakang saya. Mata saya langsung memindai beberapa anak yang ikut kelas menulis. Mendekatlah saya. Menyalami mereka. Bertanya kabar. Bertukar cerita secara singkat.

Ah, rasanya senang sekali. Berdoa suatu saat nanti mereka jadi manusia-manusia yang bermanfaat.

Semoga.

12654609_10153890189409304_3554066274663609276_n

Siswa-siswa SD Al-Falah yang sedang mengikuti workshop menulis yang saya ampu

12654274_10153890188864304_8812237860150592770_n

Para siswi perempuan sedang asyik menorehkan ide mereka dalam sebuah tulisan. Workshop berlangsung asyik!

Iklan

2 thoughts on “Ah, Anak-Anak Ini…

  1. Saya lupa kapan pertama kali belajar arti perpisahan, Mas. Mungkin juga saat seumuran mereka, entah persisnya sedang dalam momen perpisahan yang seperti apa. Tapi, seingat saya, mengharukan 🙂

    • 🙂
      Perpisahan yang bagi sebagian anak akan segera digantikan oleh memori lain. Tapi, ada juga yang akan masih mengenang perpisahan itu. Ya, hidup terus berlanjut. Saya pikir, anak-anak itu pun bisa belajar banyak dari hal itu 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s