Kelas Dodol

Membaca buku harian siswa-siswi SD Al-Falah yang tergabung dalam Klub Jurnalis – Penulis Cilik, ada beberapa hal yang jadi catatan saya. Rata-rata masih bercerita berdasarkan sekuensi waktu. Maka, penggunaan kata ‘lalu’, ‘setelah itu’, dan ‘kemudian’ acap saya temukan. Hanya segelintir saja yang berupaya menangkap satu momen menarik dari seharian penuh mereka beraktivitas, lalu mengeksplorasinya.

Biar tidak hanya menceritakan sesuatu berdasarkan garis besarnya saja, maka saya beri mereka tantangan. Menulis deskriptif dengan pancaindra. Detail itu akan membuat tulisan mereka lebih hidup dan ‘utuh’.

Apa ya yang mereka deskripsikan?

Di tas saya ada dodol rumput laut. Oleh-oleh khas Lombok, kiriman kakak saya beberapa hari lalu. Awalnya, dodol itu hendak saya berikan buat Adit yang memiliki catatan harian terbaik sejauh ini.

Tapi…

Kenapa tidak membaginya saja pada anak-anak dan mereka belajar menuliskannya dengan deskriptif?

“Anak-anak, coba kalian gambarkan rupa, tekstur, rasa, aroma, dan suara dari dodol ini.”

Dua puluhan dodol rumput laut yang terkemas plastik pun berpindah tangan. Khalil bilang kalau dia sudah pernah mencoba. Siswa-siswi lainnya belum.

Saya perhatikan ekspresi mereka. Begitu beragam. Ada yang heboh, langsung mencoba, dan memberi komentar. Namun, ada juga yang tampak ragu-ragu. Salah satunya, Salsabilla. Ia  tidak berani mencoba meskipun sedikit. Saya dekati mejanya dan beri sedikit bujukan, ia pun mau.

“Kamu harus mencoba. Bagaimana tahu rasanya kalau cuma melihat?” bujuk saya.

Rizky yang berkepala gundul, malah minta lagi. Tubuhnya yang agak subur  menandakan ia doyan makan.

“Kak Lalu, ada lagi enggak?”

Kebetulan memang dodol yang ia dapatkan berukuran lebih kecil. Tentu tak mengenyangkan buat dia yang berpipi gembil itu.

Dan, mulailah mereka menulis. Bagaimana rupanya? Bagaimana aromanya? Teksturnya seperti apa? Kalau diuyel-uyel, ada suaranya tidak? Rasanya manis, pahit, asam, atau apa?

“Anak-anak, kalau dodolnya memang tidak enak, bilang tidak enak ya?

Saya bebaskan mereka menulis. Belajar menulis secara objektif. Menulis berdasarkan objeknya. Meski tentu saja, argumen yang mereka tuangkan melalui tulisan, tak bisa lepas dari pandangan subjektif mereka.

“Kalian juga bisa lho menggambar bentuk dodolnya!” pancing saya.

Di luar duga, seorang anak menempelkan potongan kecil dodol di kertas buku hariannya. Saya sumringah. Ia memilih meng’abadi’kan kenangan atas dodol rumput laut itu dengan cara seperti itu. Suatu hal yang patut diapresiasi.

Ini adalah kreasi Rauf, siswa yang pertanyaan dan komplainnya lebih panjang daripada tulisannya :)

Ini adalah kreasi Rauf, siswa yang pertanyaan dan komplainnya lebih panjang daripada tulisannya 🙂

Lantas, saya teringat pada naturalis tersohor, Alfred Russell Wallace. Dialah yang menjelaskan mengapa fauna Sulawesi begitu khas, berbeda dengan fauna di bagian barat maupun timur Indonesia. Ia bisa menyimpulkan demikian setelah menjelajahi Nusantara selama 8 tahun pada pertengahan abad ke-19. Ia sungguh cermat dan jeli memerhatikan fauna dan flora. Lantas, tekun mencatatnya. Semua pengalaman, petualangan, dan ilmu pengetahuannya itu pun dituangkan dalam The Malay Archipelago.

Apa yang dilakukan Wallace bukanlah proses yang instan. Saya yakin, sejak kecil ia telah belajar mengasah rasa ingin tahunya. Ia pasti menekuri buku-buku yang tidak sedikit. Ia melakukan perjalanan untuk memvalidasi apa yang telah ia baca. Antara kerangka berpikir yang telah terbentuk di otaknya, coba ia temukan dengan pengalaman nyata di lapangan.

Ya, bukan suatu hal yang mustahil, saya kira, jika ilmuwan-ilmuwan hebat macam Wallace bisa lahir dari ‘kelas dodol’ seperti ini.

 

Catatan: Tulisan ini saya buat pada 7 Mei 2015 untuk majalah sekolah SD Al Falah Surabaya. Ini sekaligus tulisan ‘perpisahan’ saya dengan anak-anak ekskul menulis.

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s