Lama Tak Berpikir Kue

Kali pertama keluarga ‘merayakan’ ulang tahun saya adalah saat saya masih kecil. Masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah. Lupa usia berapa.

Beberapa saudara kandung dan sepupu membungkuskan hadiah. Saya ingat, ada kraker keju dan alat-alat tulis. Sesuatu untuk saya tiup hanyalah sebatang lilin putih. Kami ‘merayakan’nya di musala samping rumah. Musala yang dinamai dengan nama saya. Musala Al-Fatah.

Tak ada dekorasi macam-macam. Tak ada balon. Tak ada permainan. Hanya kegembiraan sederhana. Kegembiraan ala anak-anak.

Dan, malam ini, menginjakkan kaki di Lombok, saya dijemput kakak yang ketiga bersama suami dan tiga buah hatinya. Sepanjang jalan berbincang sambil berbuka dengan air putih, biskuit, dan pisang molen. Sampai di rumah mereka, saya tepar. Makan berat ditunda dulu.

Ada suara yang lamat-lamat hinggap di telinga saya. Saya tajamkan. Itu suara adik saya, Ofah dan Oki.

Terbangunlah saya, menyapa mereka. Rupanya dengan satu ponakan saya juga. Tak lama, kue ulang tahun keluar.

13502898_10154267643829304_4985322262072057783_o

Waaah… lama saya tak berpikir hal demikian. Terpikir tentang kue dan lilin. Selama ini ulang tahun dengan makan-makan bareng teman. Bisa jadi lewat begitu saja. Saya di kamar dan menuliskan refleksi.

Tapi, kali ini, entah siapa berinisiatif memberikan kejutan kecil ini. Sungguh, saya lama tak berpikir tentang kue tar dan sejenisnya.

Bukan saya peniup lilin yang paling niat. Tiga kali lilin dinyalakan hanya untuk beri kesempatan pada dua ponakan saya untuk meniupnya. Mereka tampak gembira ada nyala lilin. Melihat raut mereka, itu lebih dari cukup.

Kue cokelat ini bisa saja menawarkan rasa manis dan pahit. Indra pengecap yang merasakannya. Namun, sebenarnya ia mewakili kue hidup yang lebih luas.

Lilin bisa saja menyala, timbul panas, lalu ditiup hingga padam. Bukan lilinnya, namun kehangatan berada di tengah orang-orang terkasih. Itu yang ditawarkan oleh lidi-lidi parafin itu.

***

Sekitar satu jam menjelang keberangkatan saya ke Lombok, di Bandara Juanda Surabaya saya menuliskan berikut ini di status saya.

HARI LAHIR, JENGUK KAMPUNG

Segala pujian untukNya. Saya masih diberi napas hingga kini. Usia 28 tertapaki.

Tentu harapan tertebar. Pun doa yang tersemat dalam diam. Bukan ingin ini itu yang pasti tiada habisnya. Lebih pada kebermanfaatan dan keberkahan. Melalui cara yang Ia bimbingkan.

Pada hari lahir ini saya memilih untuk mudik. Jenguk kampung halaman. Ingin meraup rupa-rupa indrawi. Isi ulang energi. Kangen laut. Rindu pepohanan rimbun. Ingin berbincang hangat dalam bahasa ibu dengan sanak saudara.

Terima kasih, semesta, sudah izinkan saya mengenal setitikmu. Mari kita saling mengenal lebih jauh lagi.

13501762_10154266701309304_6105037504325240975_n

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s