Sawah Samping Rumah

Ada hal-hal yang tak bisa terekam oleh foto dan tulisan. Bahkan, oleh media audio visual sekalipun.

Apa itu?

Desiran angin, aroma sampah daun, bau lumpur sawah, rasa umbi talas, juga hati yang damai.

Sebaik-baiknya kata melukiskan, tetap saja semua menjadi citra. Tertata dan terikat oleh teks.

Belum bisa, embus angin keluar dari teks yang kau baca ini.

Belum bisa, kasarnya kulit pohon mangga kau rasakan saat kau baca ini.

Belum bisa, aroma lumpur sawah kau hirup kala kau baca ini.

Semua hanya berupa kalimat dan imaji yang terbaca di layar gawai.

Satu-satunya cara adalah kau berhenti membaca ini dan keluar merasakannya sendiri dengan segenap indra.

13529009_10154276392054304_8665369822553740992_n

***

Saya memahami ketika seorang penulis perjalanan yang tersohor saat ini, Agustinus Wibowo, pernah mengatakan di blognya, “Traveling has changed my life completely, from a useless bookworm to a hardcore traveler“. Perjalanan telah mengubah hidupku, dari kutu buku tak berguna menjadi pejalan tangguh.

Ini kalimat yang tajam. Kutu buku tak berguna? Siapa pun yang merasa dirinya kutu buku mungkin akan tertampar. Ini semacam siraman es saat seorang kutu buku asyik bermimpi, asyik berimajinasi, asyik berkhayal tentang dunia dalam buku yang ia baca. “Hei, bangun! Dunia tidak seindah khayalanmu.” Kira-kira demikian pesan yang disampaikan oleh Gus Weng, panggilan akrab Agustinus Wibowo.

Kuatnya kalimat itu bercokol di pikiran saya, sekubu dengan inspirasi yang keluar dari benak saya kala menyaksikan sawah di samping rumah. Sebab utamanya, jika Anda ingin tahu, adalah bah melankolia yang tetiba menyergap saya karena ketika saya tiba di rumah siang Jumat ini, pintu pagar rumah (orangtua) saya tergembok. Ibu saya sedang di rumah orangtuanya. Perasaan itu makin menyerbu saya karena kenyataan bahwa Bapak saya sudah tidak ada di rumah itu lagi. Bapak tiada. Meninggal.

Saya kian nelangsa.

Maka, saya alirkan energi melankolia itu ke sebuah foto dan menuliskan berbaris-baris puisi seperti di atas.

Sesungguhnya, ketika melepaskan barisan sajak itu, saya lega. Tak diimpit oleh imajinasi yang ironis tentang kenyataan gerbang rumah yang tergembok. Perasaan yang tetiba menyelimuti bahwa ‘saya terbuang atau saya bukan jadi bagian dari rumah itu lagi’. Ya, dramatisasi keadaan memang bisa membunuh pelan-pelan.

Maka, biar tak terbunuh, yang saya lakukan adalah segera mengunjungi rumah bibi saya. Bersapa. Meneguhkan hati bahwa semua akan baik-baik saja.

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s