Hidup Minimalis dengan Banyak Buku

Terdengar bertolak belakang?

Saya ingin hidup yang simpel. Tidak terlalu terikat oleh barang-barang, kecuali buku.

Saya lebih suka ruangan yang lowong. Tidak banyak perabotan. Tidak banyak barang tak berguna untuk sekadar pajangan. Saya lebih menginginkan sesuatu yang fungsional. Syukur-syukur jika memiliki nilai estetika.

Termasuk pakaian. Saya ingin pakaian yang simpel saja. Tidak begitu mencolok. Tidak juga banyak di lemari. Apalagi kalau sudah bergelantungan di pintu, itu kadang membikin mual. Memusingkan dilihat.

Jika beli apa pun, kecuali buku, saya orang yang berpikir banyak kali. Saya akan berpikir berkali-kali sebelum memutuskan membeli sepeda motor. Sembilan tahun di Tanah Jawa, baru September 2015 saya memiliki motor sendiri. Motor yang saya cicil dengan penghasilan sendiri. Saya rela memilih ngekos dan ngontrak rumah di sekitar kampus bersama teman-teman. Biar bisa jalan kaki.

Tahu diri hidup di rantau, saya memilah-milih barang yang hendak dibeli. Sekiranya sangat butuh, ya saya beli. Keburuhan primer yang utama. Selain perkara finansial, ini juga menyangkut kemudahan untuk berpindah. Saya tak ingin repot dengan barang-barang banyak yang hanya akan ngendon di kardus atau gudang. Barang yang ujungnya hanya akan berdebu dan saya buang ketika ‘waktunya tiba’.

14034877_10154408275224304_4516833210383412688_n

Tiga buku baru yang saya beli di Hari Kemerdekaan RI ke-71. Saya beli toko buku Uranus dan mulai membaca satu di kafe sebelahnya, Libreria Eatery.

Maka, tak banyak ‘pernak-pernik’ yang saya miliki. Kecuali buku. Buku adalah harta karun saya yang selalu bertambah. Jarang sekali saya berpikir lama untuk membeli buku. Tangan saya akan mudah merogoh kocek jika menyangkut benda bertuah yang satu itu.

Bagi saya buku adalah investasi. Tak lekang dimakan waktu. Ia selalu ‘baru’, mau dibaca kapan pun. Nilainya tetap mahal. Nilainya bukan terletak pada fisiknya, tapi pada ilmu yang terkandung di dalamnya.

Satu-satunya yang bisa mengerem saya adalah jika mengingat tumpukan buku yang belum saya baca. Atau duit yang sedang menipis sementara ada hal-hal lainnya yang lebih menjadi prioritas.

Di imajinasi saya, jikalau punya ‘ruangan sendiri’, saya pastikan tidak akan banyak barang. Ruang tersebut punya area hijau, sejuk, terang, juga nyaman untuk melakukan aktivitas yang mengakrabkan para penghuninya. Ruangan yang sekaligus inspiratif untuk melahirkan karya-karya.

Saya kesengsem dengan desain ruangan bergaya zen. Sederhana, lega, mengalir, menenangkan pikiran, seimbang.

Semoga kelak saya bisa mewujudkannya.

Iklan

8 thoughts on “Hidup Minimalis dengan Banyak Buku

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s