Kala Mata Sejenak Tak Akrab Cahaya, Bagaimana Indra Lainnya Bekerja?

“Hal-hal terbaik dan terindah di dunia ini tidak bisa dilihat atau disentuh. Semuanya harus dirasakan dengan hati.” (Helen Keller)

Jumat lalu (9/9) di kelas menulis Asrama Al Furqon, kami belajar deskripsi. Memaksimalkan pancaindra. Berhubung para penulis pemula biasanya menggunakan indra penglihatan secara dominan, saya meminta mereka untuk menguncinya sejenak. Biar indra-indra lainnya optimal ambil peran.

Sebab, dengan dua mata yang kita punya, kerap persepsi dan penilaian kita terhadap sesuatu atau seseorang dibentuk secara membabibuta olehnya. Padahal kita masih memiliki modal indra lainnya untuk mengutuhkan persepsi. Membuatnya lebih holistik, menyeluruh. Tidak parsial alias separuh-separuh.

Sebab, dengan cara itu pulalah kita belajar menemukan kebenaran.

14292520_10154481674494304_3903207410683845593_n

“Saya minta kalian pejamkan mata. Jangan sampai ada yang coba-coba intip.”

“Saya akan bagikan sesuatu. Nanti, tiap saya memberi komando, kalian ingat ya? Catat di kepala kalian.”

Dari dalam ransel, saya keluarkan makanan ringan. Ada tiga bungkus yang saya sediakan. Berhubung yang hadir cuma 15 anak, saya hanya perlu dua bungkus.

“Sekarang, tengadahkan tangan kanan kalian!”

Mereka patuhi.

Saya pun keliling membagikan makanan ringan. Semua anak dapat masing-masing satu.

“Sekarang, coba pegang dan rasakan teksturnya. Awas ya jangan buka mata. Ingat ya bentuk dan teksturnya. Catat di kepala kalian.”

“Sekarang, coba dekatkan ke hidung kalian. Resapi aromanya baik-baik. Catat di kepala kalian.”

14203241_10154481674569304_814840968490178623_n

“Apakah ia punya suara? Seperti apa suaranya? Coba gerakkan di dekat telinga kalian. Perhatikan.”

“Terakhir, silakan kalian makan. Gigit sedikit demi sedikit. Cecap perlahan. Seperti apa rasanya? Awas, tetap tutup mata, ya!”

Saya perhatikan mereka sibuk mengunyah. Mencecap sedikit demi sedikit. Saya berkeliling.

“Tinggal dua orang yang belum kelar ngunyah. Tunggu dulu, ya, yang lain!”

14264012_10154481674649304_1142776803497389283_n

Ketika sudah benar-benar tuntas, “Sekarang, buka mata kalian!”

“Ada yang mau jadi volunteer untuk baca?”

Dua di antara mereka, yakni Rizal dan Alfina, angkat tangan.

Hasilnya menakjubkan!

Deskripsi mereka benar-benar hidup. Saya sebagai pendengar (pembaca) saja, bisa membayangkan betapa enaknya makanan itu.

Berikut tulisan Alfina.

Setelah aku menutup kedua mataku, sesuatu yang terasa ringan diletakkan ke telapak tangan kananku. Saat itu juga, aku langsung dapat menebak kalau benda itu berbentuk lingkaran. Aku juga berani bertaruh benda itu adalah sebuah makanan ringan. Karena di samping terdengar bunyi bungkus plastik yang berisik sebelum benda itu diberikan kepadaku, semerbak bau makanan juga langsung dapat dikenali hidungku.

Ketika diinstruksikan untuk merabanya, kulit telapak tanganku merasakan tekstur benda itu tidak mulus, tepiannya keras dengan sesuatu yang lembek dan bisa ditekan di tengah-tengahnya. Aku juga yakin setelah menjelajahi permukaan benda itu dengan kulitku lebih lama, kalau benda itu terdiri dari dua lapis yang dijadikan satu, dengan isian berupa bahan yang lembut. Lapisan atas berlubang, membuatku dapat merasakan isian itu hanya dengan merabanya.

Instruksi selanjutnya, yaitu untuk mencium bau benda itu. Aku mendekatkan benda itu ke arah hidungku dan detik selanjutnya aku mengenali bau vanili. Tidak ada aroma lain yang dapat kucium.

Ketika disuruh untuk mendengarkan benda itu, tidak ada suara yang terdengar saat aku menggerak-gerakkannya. Tetapi muncul suara “Srek… srek…” pelan saat aku mengelus permukaannya dengan ujung ibu jari.

Perintah terakhir adalah untuk mencicipinya. Gigitan pertama, remahan-remahan benda itu berceceran. Aku merasakannya dan meyakininya, meskipun aku tidak bisa melihat. Ketika mulutku mulai mengunyahnya, kerenyahan lapisan luar benda itu berbaur dengan isian yang lengket. Rasanya seperti tepung yang bercampur dengan sesuatu yang masam. Rasa buah, tapi aku bingung menerka-nerka antara stroberi ataupun blueberry. Untuk merek, setahuku benda berupa makanan semacam itu yang beredar di pasaran adalah Slai O’lai dan Twice.

Tepuk tangan kami berderu di udara.

“Bayangkan jika kalian menulis buku dan mendeskripsikan makanan Indonesia. Sementara pembaca buku kalian adalah orang Afrika. Karena kekuatan kalimat-kalimat deskriptif kalian, mereka bisa tergiur dan menetes air liurnya.”

Begitu pula ketika belajar mendeskripsikan hal lain. Gunakan kekuatan lima indra. Kerangkakan dengan nalar atawa logika. Indahkan dengan rasa atawa emosi. Klop sudah.

 

Iklan

5 thoughts on “Kala Mata Sejenak Tak Akrab Cahaya, Bagaimana Indra Lainnya Bekerja?

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s