Minoritas Kreatif Berdedikasi

“Almost always, the creative dedicated minority has made the world better. ” – Martin Luther King, Jr.

Istilah ‘creative dedicated minority’ saya temukan secara tak sengaja ketika menelusuri laman Google. Itu gegara pertanyaan yang muncul dari seorang mahasiswa DKV ITS yang sedang magang di kantor.

“Mas, dedicated minority itu, apa?”

Dengan intuisi, saya coba menerka artinya. Tapi, karena tidak yakin, plus saya menghadapi mahasiswa yang butuh kevalidan jawaban, saya pun googling. Malah saya diantarkan pada terma ‘creative dedicated minority‘ yang rupanya merupakan kutipan dari seorang pejuang HAM tersohor di Amerika Serikat.

Istilah itu pun pelan-pelan mengendap di kepala saya. Ketika ada satu fenomena, peristiwa, atau kejadian yang menggambarkan pemaknaan dari istilah itu, saya bisa lekas menghubungkannya. Dan, ini kerap kali terjadi.  Seakan-akan semesta riuh bekerja sama dan menarik hal-hal yang memang saya minati. Dan, itu semakin mengkristalkan pemahaman saya.

Termasuk peristiwa berikut ini. Pembuatan mural pertama di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Jombang.

***

Al Furqon yang artinya ‘Pembeda’ menjadi asrama pertama di Ponpes Darul ‘Ulum Jombang yang membikin mural di tembok. Mural ini merupakan kolaborasi antara pimpinan asrama, Gus Dzul Azmi; seniman asal Surabaya, Arsya Deananda; para santri, utamanya Muhammad Hafidz Alfian yang memang bercita-cita masuk DKV ITS; dan saya.

Penggodokan rencana cukup lama. Sejak awal tahun 2016 Gus Azmi menanyakan pada saya, siapa teman yang jago mural. Berhubung saya pernah mewawancarai Mas X-Go, Ketua Serikat Mural Surabaya yang juga pemural dinding-dinding Artotel Surabaya, saya pun langsung menyebut namanya.

Sayang, kendala musim penghujan dan ketidakcocokan pertemuan, proyek mural tertunda.

Namun, kala mengerjakan company profile dan perbarui situs Iwec, saya baca riwayat hidup rekan pengajar menggambar, yakni Arsya Deananda. Ternyata, mahasiswa Seni Rupa Unesa semester akhir itu punya portofolio juga bikin mural. Malah pernah bersama seniman Jawa Timur lainnya memecahkan rekor MURI bikin mural terluas.

Langsung saya todong dia untuk mengeksekusi proyek mural di Asrama Al-Furqon.

Gus Azmi saya kabari via WA. Ia pun tertarik.

Meluncurlah saya dan Arsya pada Idul Adha lalu ke Jombang. Diskusi terjadi, melibatkan Gus Azmi; Cak Tri, guru gambar; dan Hafid yang mewakili para santri. Konsep dimatangkan. Ide digodok. Keperluan teknis dibahas. Kelar.

Kamis (22/9) Arsya, Cak Tri, dan para santri mulai mengeksekusi satu panel dinding ukuran 6 m x 1,75 m itu. Mereka mengerjakannya mulai sore hingga malam keesokan harinya.

Pada Jumat, saya datang untuk isi kelas menulis. Mereka rupanya sedang rancang kata-kata untuk dituliskan.

13245216_10154523755139304_8702178623438317513_n

Hafid sedang membereskan detail-detail kecil di murHaal

14390773_10154523755229304_6391150554979115542_n

Hafidz, calon seniman besar 

Saya membaca tulisan itu. “Don’t say lie in here.”

“Menurut Kak Lalu, benar nggak tulisannya?”

“Salah. Bisa dipersingkat kok jadi ‘Don’t say lie here’.” 

Bermula dari kalimat itulah, saya mendapat penjelasan lebih kongkret mengenai konsep mural tersebut. Larinya ke arah literasi media. Bahwa, sejak dini anak-anak Indonesia perlu dikenalkan dengan literasi media biar kritis. Bahwa tidak semua yang dituliskan di media adalah benar. Apalagi dengan merebaknya situs abal-abal. Kemudahan berbagi di media sosial membuat orang begitu gampangnya membagikan tautan (yang) belum tentu terverifikasi dan valid informasinya.

“Ini biar anak-anak skeptis sekaligus kritis, Gus! Teman saya seorang dosen saja mengeluhkan para lulusan S-3 yang ternyata mudahnya membagikan tautan berita yang nggak jelas. Ini sudah gawat!” terang saya pada Gus Azmi.

Malamnya, mural pun kelar dikerjakan. Selama memberikan sentuhan akhir, kami semua terlibat diskusi mengenai interpretasinya. Bahkan, saya sudah rencanakan ini akan jadi media pembelajaran untuk anak-anak di kelas menulis. Menginterpretasi mural. Belajar penafsiran visual.

14358912_10154523755014304_8774758194880314033_n

14390686_10154523755114304_4454600815131501432_n

14368828_10154523755084304_8080745913142194271_n

Di situlah saya menemukan pemaknaan atas istilah ‘creative dedicated minority‘. Al-Furqon adalah asrama yang maknanya memang ‘Pembeda’. Sementara sosok-sosok kreatif biasanya berjiwa beda. Ingin selalu berinovasi. Melakukan hal-hal ‘baru’. Memberi warna. Biar kejumudan dan ketumpulan tertepis pelan-pelan.

Semangat itu saya rasakan ketika Gus Azmi mengirimkan via WA pagi tadi.

[25/09 10:14] Gus Dzul Azmi: Salam mas fatah.. Wow mas.. Tembok muralnya nge hits mas.. Jadi pembicaraan, banyak yg muji keren n kreatif..

[25/09 10:15] Gus Dzul Azmi: Asrama jelas dapat namanya menjadi asrama yg kece n kratif..

[25/09 10:15] Gus Dzul Azmi: Reaksi orang luar juga 👍🏻

[25/09 10:16] Gus Dzul Azmi: Maklum mas, ni kan mural pertama di dunia pesantren, dan efeknya sprtinya bakal menginspirasi yg lain

[25/09 10:20] Gus Dzul Azmi: Ya mural ini sprti mendobrak kebiasaan santri mas.. Hal yg tak pernah terpikirkan di dunia santri/pesantren selama ini. Memberikan warna dunia pesantren. walaupun mungkin sedikit melawan arus.. Tapi postif, bs jd bukti klo pesantren bisa menjdi wadah kreatifitas karena slama ini pesantren kesanya itu menghambat kreatifitas, terkukung n terpenjara dg aturan2nya.. 😅 dg mural itu sprti mebuktikan kalo santri juga bisa kratif dan berkarya

Mantab lah… Alfurqon jd asrama pertama yg membrikan terobosan2 didunia santri.. 😂

14433023_10154523755409304_4219946644127812161_n

Bersama Gus Azmi, Arsya dan temannya; serta para santri

14469691_10154523755334304_894982053470613927_n

Gus Azmi bersama para santri

***

Menutup tulisan ini, saya hendak menyitir pernyataan Mary Lou Cook, aktris kelahiran Brooklyn, New York.

“Creativity is inventing, experimenting, growing, taking risks, breaking rules, making mistakes, and having fun.”

Kreativitas adalah menemukan, bereksperimen, tumbuh, mengambil risiko, melanggar aturan, membuat kesalahan, dan bersenang-senang.

14470618_10154523755274304_4515905685388724124_n

This is good news from Indonesia!

Iklan

One thought on “Minoritas Kreatif Berdedikasi

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s