Mengapa Mengajar?

Mengapa mengajar? Apa kabar cita-cita semasa SMP, yakni jadi diplomat? Masihkah ingin saya kejar? 

Saya rasa, tidak. Semakin ke sini, saya merasa bahwa belajar, berkarya lewat tulisan, jalan-jalan, dan mengajar adalah tema besar hidup saya. Buku menjadi perekat semuanya. Dengan buku, saya bisa ke sana kemari. Menjelajah dunia intelektual sekaligus mengantarkan saya pada hal-hal baru yang menakjubkan.

Buku menjadi simpul temu saya dengan tempat kerja saya saat ini. Buku yang mempertemukan saya dengan orang-orang yang luar biasa di sekeliling saya. Buku pulalah yang membawa saya jalan-jalan ke berbagai tempat di Indonesia. Menulis buku, menjadi narasumber, berbagi pengalaman dan cerita, dan kini mengajar, itu semua gegara hidup saya tak lepas dari buku.

Saya tidak tahu harus berterima kasih macam apa lagi pada benda bernama buku. Mungkin bukan buat bukunya, tapi bagi Dia yang telah memerintahkan lewat ayat pertama yang ia turunkan pada Muhammad. Iqra’. Bacalah! Baca apa lagi, selain buku dan semesta-Nya?

Buku membuat saya merasa lebih berdaya. Membuat saya lebih berani. Lebih percaya diri. Lebih kaya. Lebih menghargai hidup saya dan hidup orang lain. Dengan bukulah, saya mempunyai daya dorong untuk mencoba hal-hal baru.

Saya juga berbagi keriaan dengan sekitar saya lewat apa yang saya peroleh dari buku. Ditambah pengalaman-pengalaman nyata yang saya pungut dari kehidupan. Saya campur jadi adonan versi saya. Lantas, saya coba bagikan ke orang-orang sekitar. Berbagi bahagia lewat buku.

blog

Mengajar di Indonesia Writing Edu Center adalah salah satu cara saya untuk berbagi passion menulis

Karena kecintaan pada buku itulah, maka saya benar-benar ingin agar kian banyak lagi anak muda Indonesia yang menulis. Agar mereka berkarya. Apa pun profesi mereka nantinya, tak harus menjadi penulis profesional. Setidaknya, dengan menulis, mereka bisa berbagi suka duka mereka dalam menjalani profesi mereka. Itu bisa menjadi referensi bagi orang lain yang mungkin hendak seperti mereka.

Ketika orang sudah mencapai level itu, saya bayangkan betapa serunya dunia ini. Orang-orang sudah pada level aktualisasi diri, melakukan sesuatu bukan sekadar untuk dirinya, tapi juga untuk orang lain. Berlomba-lomba menjadi orang yang bisa memberi manfaat pada sekitarnya. Ya, karena ia berdaya. Ia telah melampaui hal-hal berkadar materiil.

Sebab, apa lagi sih yang mau kita perbuat dalam hidup ini? Apakah sekadar menjalani hidup dari hari ke hari? Bangun, kerja, istirahat, makan, tidur? Apakah sekadar itu saja? Saya yakin, tidak. Sebab, naluriah manusia juga ingin berbuat sesuatu pada orang lain. Tak perlu muluk-muluk untuk dunia. Paling tidak untuk keluarganya sendiri. Dari keluarga kemudian membesar ke pihak-pihak lainnya.

Itu pun jika seseorang tidak membatasi dirinya dalam berbuat baik hanya untuk lingkup ‘internal’ dia semata. Bahwa, kemanusiaan dirinya harusnya melampaui diri. Kemanusiaan tidak mengenal hubungan darah. Manusia dengan manusia. Manusia dengan lingkungannya. Manusia dengan semesta tempat ia berada.

Saya sadar, tulisan ini terlampau melebar ke mana-mana. Padahal saya memulainya dengan judul di atas dan hendak membahas karir yang saya tekuni. Tapi, demikianlah. Saya membiarkan pikiran saya menerawang ke mana-mana. Mumpung juga suasananya mendukung. Hujan di luar. Sejenak henti berderai, kemudian sambung lagi.

Ah, bukankah demikian pula hidup? Sambung-menyambung hingga kelak kematian akan menghentikan segalanya?

Iklan

13 thoughts on “Mengapa Mengajar?

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s