Para Santri yang Menyiapkan ‘Bom Hidrogen’ Karya untuk Masa Depan Mereka

Jpeg

Jpeg

Usai mengisi kelas menulis Al Furqon kemarin sore, saya beranjak ke aula di belakang asrama. Saya salat asar, lanjut baca novel Enid Blyton sembari menunggu magrib tiba.
 
Tak lama, saya didatangi oleh Fikri Hidayatulloh, siswa kelas 3. Saya lihat ia bawa sebuah buku tulis dan pulpen. Ia tampak hendak menyorongkannya pada saya. Sebelum benar-benar ia memberikannya, saya menyambar, “Itu buku apa? Saya boleh baca?”
 
Buku tulis itu pun berpindah tangan ke saya. Saya buka-buka. Ternyata, Fikri menuliskan puisi-puisinya di situ. Ia rupanya meminta saran.
 
“Saya belakangan ini sih mulai menulis, Mas. Saya nulis juga di Tumblr.”
 
Saya tengok Tumblr-nya dan menemukan salah satu tulisan menarik ini.
 
***
 
Disaat ini, diriku terlelap dalam sebuah rasa yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, senang, sedih, susah, bahagia. semuanya bercampur aduk hingga gumpalan yang kuterima menusuk dada
aku merasa bersalah hingga kau terjatuh tak beralas tanpa bantuan sedikitpun dari angin yang akan mengantarmu hingga ke tempat yang berasa.
bertubi-tubi perasaan dari orang lain terus menerpamu hingga kau tak lagi nampak di hadapanku
Semu, tak terlihat, dan kemudian menjadi sepi.
aku harap diriku bisa bertahan lebih dari sekuntum bunga yang tak pernah hilang masa keindahannya
aku harap diriku bisa tuk melihat senyummu berada di dekatku disaat waktu yang telah ditentukan oleh tuhan
waktu yang tepat tuk mengharap sang pujangga melepas rindunya bersama kebersamaan dan senyuman yang hinggap disana
aku harap kamu tuk menjadi yang terbaik dalam hidupku disaat akhir dari tempat yang akan kurindu esok hari
 
***
 
Kelar salat magrib, saya kembali dirubungi oleh beberapa santri. Fikri kembali menanyakan proses saya menulis. Ia tidak ikut kelas saya, tapi rupanya berproses sendiri dengan membaca karya-karya penulis lain.
 
Selain ia, ada pula Ahmad Bocin, salah satu santri asal Lombok, yang datang membawa buku saya. “Buku ini saya temukan di perpustakaan sekolah,” ujarnya.
 
Saya berbinar-binar karena buku bergenre perjalanan yang saya tulis dengan teman-teman itu, masuk di perpustakaan sekolahnya, SMA DU 2 Jombang, sekolah yang diangggap terfavorit di Darul Ulum.
 
Kelar magrib hingga isya datang, kami benar-benar terlibat obrolan. Saya beri mereka dorongan yang kuat untuk berkarya. Mumpung masih muda. Minimal bikin satu buku seumur hidup.
 
***
 
Isya tertunaikan, dua santri putra lain mendekati saya. Mereka bertanya tentang menulis. Bahkan, Rendra, salah satu di antara mereka, yang berasal dari Madura, hendak menunjukkan catatan-catatan hariannya. Catatan yang ia tulis di buku.
 
Kami berjalan beriringan kembali ke asrama. Rendra pun menyerahkan bukunya. Saya cermati sejenak. Lagi-lagi saya merasa di asrama ini, ada potensi-potensi luar biasa. Tinggal diasah, diarahkan, dipertemukan dengan orang-orang yang mampu memompa sumur kreativitas mereka.
 
“Bacalah karya para sastrawan. Para penyair. Belajar dari karya mereka,” tutur saya.
 
Selain Rendra, Tamim Asyrofi juga menunjukkan buku kumpulan puisinya. Santri asal Riau ini kerap menulis di kegelapan, saat lagi sendiri, atau di lantai dua musala. Saya baca dan terpukau. Ia akan menjadi ‘sesuatu’!
 
“Satu yang saya takutkan adalah kalau saya berhenti menulis,” curhatnya.
 
“Tulislah sekarang. Kalaupun kamu nantinya akan sibuk dengan satu hal, katakanlah itu karena urusan pekerjaan, tapi setidaknya kamu punya karya yang kamu bikin di usia begini. Siapa tahu ketika kamu berada dalam kesibukan itu, akan ada orang yang mengingatkan kamu. Kamu pun kembali menulis. Kita nggak pernah tahu.”
 
“Saya mau bikin buku begitu lulus sekolah, Mas,” ujarnya. Ya, Tamim saat ini masih kelas XI dan menjadi Ketua OSIS. “Saya masih punya sekitar dua tahun ini lagi untuk menulis dan mengumpulkan karya saya.”
 
“Bikin! Harus bikin. Kamu lulus sekolah dan punya buku, itu keren! Keren!”
 
***
 
Malam kemarin menjadi salah satu malam yang memukau saya selama berproses menulis bersama para santri belia itu. Saya hanya yakin sekaligus meyakinkan mereka bahwa mereka punya talenta. Mereka punya ‘bom hidrogen’ yang siap diledakkan. Tinggal konsisten, persisten, dan mau bekerja keras untuk mewujudkannya.
 
“Kalian masih muda. Masih muda! Masiiih muda! Berkaryalah!”
Jpeg

Jpeg

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s