Tubuh Pun Punya Haknya

Tubuh punya keterbatasan. Ketika kau mendayagunakannya secara berlebihan, ia akan berontak. Ia akan memberikan alarm. Tanda. Istirahatkan saya. Istirahatkan. Mungkin demikian ia berkata andai bisa.

Tanpa bicara pun, harusnya kita peka. Kitalah yang harus mengasah kepekaan mengenai alarm alamiah tubuh kita. Kita yang bisa rasakan segar, sehat. Kita pula yang rasakan lelah. Meski kadang semangat atau nafsu bisa memanipulasi bahwa kita baik-baik saja. Memanipulasi. Ini yang perlu digarisbawahi.

Kita abai. Demi mengejar sesuatu, yang entah apa itu, kita abai pada kualitas kesehatan. Bahwa tubuh bukanlah robot yang bisa digenjot seenak sendiri. Bahkan, robot pun jika dipaksakan kerja, ia akan mengalami ‘kelelahan’. Terus dipaksa, ia bisa rusak.

Tubuh apalagi. Ia akan memberi tanda berupa rasa kantuk, rasa pegal di pinggang, nyeri di punggung, berat di pundak, detak kencang di jantung, panas dan penat di otak, sakit di kaki, mulas di perut, dan tanda-tanda lainnya di sekujur tubuh. Itu tanda.

Seperti saat ini. Saya rasakan amandel kiri saya agak sakit. Gusi atas sebelah kiri sedikit bengkak. Tebakan saya, mereka satu ‘saluran’. Akibatnya, saya perlu memelankan kunyahan biar tak sakit. Meski dominan saya melumat-lumat makanan dengan gigi geligi sebelah kanan, tapi tetap saja sakitnya terasa. Apalagi kala menelan.

Pinggang, punggung, pun pundak, sama. Saya merasa lelah. Dugaan saya, kebanyakan duduk. Di kantor, duduk. Naik motor, duduk. Mana jarang pula olahraga. Padahal saya idamkan bisa rutin berenang. Biar postur tetap terjaga. Biar semua bagian tubuh bergerak.

Maka, kala mengajar di kelas, saya manfaatkan untuk berdiri dan jalan dari satu titik ke titik lain.

Rencana untuk renang rutin tinggallah rencana. Hanya di angan-angan. Sialan!

img_20160814_105118

Jalan-jalan di alam adalah hal menyenangkan yang tidak hanya membuat saya bergerak, tapi juga membuat batin lebih bahagia

Ini memang buah dari manajemen energi yang tidak saya kelola dengan baik. Saya memilih kerja yang jaraknya kurang lebih 9 km dari kontrakan saya. Mau tak mau naik motor. Bangun, mandi, berangkat naik motor. Saya pasti duduk di motor. Sampai kantor, saya duduk lagi menghadapi laptop. Mengerjakan tugas-tugas. Sesekali berdiri, jalan mondar-mandir. Kalau saya mau jujur menghitung durasinya, sudah bisa ditebak. Durasi saya bergerak amat sedikit.

Kantor usai, pulang naik motor lagi. Duduk. Di kontrakan, energi saya biasanya sudah mendekati titik nol. Tidur adalah pilihan terampuh. Ya, begitu. Tidur itu kan badan berbaring. Tidur itu men’duduk’kan tubuh. Tiada gerakan fisik.

Jadi, durasi gerak fisik saya, lagi-lagi tak banyak. Yang bergerak kebanyakan pikiran saya.

Saya sadari sekali hal itu. Sekarang ujiannya adalah bagaimana saya menyeimbangkan diri, antara gerak pikiran dan gerak fisik. Bukankah hidup itu harus seimbang? Yin yang. Jika saya hanya bisa memaknai tanpa melakukan, itu pun sama saja tak berguna. Ada penghayatan, harusnya ditidanlanjuti dengan pengamalan.

Semoga curhat saya ini ada manfaatnya. Setidaknya untuk mengurangi penat di kepala.

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s