Berkawan dengan Kegelisahan, Belajar Ala Kekinian

Kegelisahan bukan untuk dimusuhi, tapi dikawani. Itu yang coba saya lakukan di kelas ekowisata Surabaya Hotel School.

Tiap kali masuk kelas, ada sekelompok mahasiswa yang saya pindai mendengarkan lagu dengan headset. Mereka pun gegas mematikannya. Itu upaya mereka, mungkin, untuk bunuh waktu.

Saya cukup sering pula lihat mahasiswa yang cek hp mereka saat kelas berlangsung. Bukan apa. Saya hanya merasa mereka beralih perhatian. Apalagi jika ada teman mereka yang sedang berargumen, sementara mereka tak menyimak dengan baik.

Saya merasa agak gelisah. Tapi, apakah saya lantas marah-marah? Tidak juga. Hanya mengingatkan mereka untuk respek kala ada pihak yang sedang memusatkan perhatiannya untuk belajar.

Justru adanya gadget yang kadang mendistraksi perhatian mereka, saya malah kepikiran untuk:

  1. Melatih mereka menulis kisah perjalanan sambil mendengarkan lagu favorit mereka. Tapi, lagu ini harus berkorelasi dan menjadi jembatan penghubung dalam kisah mereka. Lirik lagu dimasukkan di tengah-tengah dialog dan narasi, itu akan membuatnya lebih dinamis dan memikat. Bahkan, ketika membacakan tulisan mereka di depan kelas, bagian lirik lagu harus dinyanyikan. Dan, ini berhasil! Sampai ada salah satu siswa yang bikin mata berkaca-kaca karena kisah perjalanan hidup nan sedih yang ia tuliskan.
  2. Menantang mereka untuk menulis cerita perjalanan di Instagram. Anak muda kekinian, pastilah kenal IG. Ya, Selasa dan Rabu kemarin saya eksekusi itu ke mereka. Kami ke Kebun Binatang Surabaya. Saya minta mereka untuk observasi dan wawancara. Menemukan satu objek cerita yang paling menarik buat mereka. Memotret atau merekamnya dalam video pendek. Lantas, mereka menulis minimal 250 kata di caption. Mereka pun cantumkan beberapa tagar, semisal: #SaveKBS #KebunBinatangSurabaya#ecotourism #outingclass dan lain-lain, lantas menandai saya dan Surabaya Hotel School. Jadi, kami belajar di luar kelas, sambil memanfaatkan teknologi dan media sosial, sembari kampanye lewat foto, video, juga tulisan.
  3. Pertemuan berikutnya, saya akan tantang mereka untuk bikin vlog alias video blog. Bukan untuk menyaingi Anya Geraldine atau Awkarin. Tapi, untuk belajar menjadi pemandu. Mereka presentasi, ngomong di depan kamera hp, menceritakan satu objek dalam wisata, bisa berupa: makanan, minuman, monumen, taman, cinderamata, dan lain-lain. Lantas mereka unggah di Instagram. Mengampanyekan Surabaya lewat Instagram.

Ya, alih-alih risih dengan kemajuan teknologi dan media sosial. Dengan mau ‘mengalah’ dan melihat dari kacatama berbeda, kita bisa memanfaatkan dan berkawan dengannya untuk pembelajaran.

Semoga bermanfaat.

shs

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s