Melawan Miskin Pikiran

Belakangan ini, saya sedang gandrung mengikuti kolom yang ditulis oleh Hasanudin Abdurakhman di laman Kompas.com. Kegandrungan saya bukan sekadar karena gaya tulisannya yang renyah dengan kalimat yang padat dan lugas, tapi lebih pada gagasan-gagasannya yang menggugat.

Banyak hal yang ia gugat. Tentang sistem birokasi, ekonomi, teknologi, dan pendidikan, dan banyak lagi, Namun, semua bermuara pada perlunya kita memperkaya dan meningkatkan kualitas pikiran. Sebab, pikiranlah yang akan menggerakkan kita. Jika mutu pikiran baik, maka itu akan terimplementasi dalam sikap keseharian. Jika keseharian baik, maka akan berpengaruh pada kebiasaan yang baik. Bahkan, nantinya kebiasaan inilah yang akan membentuk kita. Kalau mengutip perkataan Mahatma Gandhi,

“Your beliefs become your thoughts,
Your thoughts become your words,
Your words become your actions,
Your actions become your habits,
Your habits become your values,
Your values become your destiny.”

lalu2

Semua dari pikiran. Kabar baiknya, itu bisa dilatih. Sebab, pikiran bukanlah benda mati. Ia tumbuh  dan berkembang. Tinggal bagaimana kita mengolahnya. Bagaimana kita memasukkan informasi ke dalamnya, bagaimana kita mengolahnya, bagaimana kemudian kita memperkuat syaraf di otak lewat tindakan, kebiasaan. Lama-kelamaan, kebiasaan itulah yang akan menjadi takdir kita.

Topik pendidikan yang ia angkat selalu menggelitik saya. Sedikit banyak, saya sependapat dengannya. Seakan, apa yang saya gelisahkan selama ini, telah beliau tuangkan. Tidak heran memang, karena latar profesi beliau pun sebagai pengajar. Sama seperti saya. Bedanya ia sudah mencapai level doktor, yakni lulusan bidang fisika terapan dari Tohoku University, Jepang. Sementara saya masih S-1. Justru itulah salah satu dari secuil alasan saya menyimak tulisan-tulisannya. 

Semua berawal dari Facebook. Beberapa kali saya menjumpai teman-teman saya membagikan buah pikirannya. Saya simak fan page-nya. Dan, ya, kontroversial. Orang-orang berdebat di kolom komentar FP-nya. Saya nikmati, saya baca. Saya yakin, sebagai pengajar, ia paham sekali dengan psikologi massa. Bagaimana memancing orang untuk berpikir, berargumen, hingga berdebat.

Asyiknya, ia tidak sekadar memancing perdebatan. Tapi, ia terlebih dahulu melontarkan pernyataan. Kang Hasan, panggilan akrabnya, selalu punya stand point. Orang-orang pun merespon dari beragam sudut pandang.

Keberagaman argumen ini tampak betul ia rayakan. Bukan dalam makna negatif – untuk sekadar bermain-main. Tapi, saya yakin karena berangkat dari falsafah bahwa kebenaran itu tercecer. Ada di mana-mana. Bukan monopoli individu atau kelompok tertentu saja. Keping-keping kebenaran inilah yang perlu dirangkai agar menjadi satu kesatuan yang utuh. Gambaran yang holistik.

Tugas manusia adalah untuk terus mencari. Terus mengoreksi jika apa yang ia yakini sebelumnya ternyata tidak pas. Bagian ini mengingatkan saya pada tokoh William yang berkata pada Elizabeth dalam novel Cewek Paling Badung karya Enid Blyton.

“Hanya orang yang sangat kuat saja yang bisa mengubah pendirian bila sadar bahwa mereka salah. Hanya mereka yang lemah yang tidak mau mengubah pendirian.”

Mari. Jangan bosan mencari. Jangan bosan belajar. Jangan bosan untuk mengembangkan balon pikiran.

Iklan

4 thoughts on “Melawan Miskin Pikiran

  1. Aku juga suka sama tulisan kang Hasan iki Tah, selain ngikutin blognya, aku juga suka baca kolomnya dia di Tirto sama sesekali di Qureta.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s