Adab & Akhlak: Kontras Dua Kelas

lalu3Saat mengajar di sebuah kelas, saya cukup terganggu dengan tingkah laku seorang siswa. Dia tak berhenti ngomong dan menyela ketika temannya sedang presentasi. Ada saja hal tak penting yang ia lontarkan. Teman-temannya ikut tertawa, saya tidak. Saya menahan geram. Saya biarkan saja sambil terus menyimak presentasi.

Saya sengaja memilih duduk di tengah-tengah mereka. Si anak tersebut duduk di belakang saya. Tapi, ia seperti mengabaikan keberadaan saya.

Menjelang kelas berakhir, saya memberi komentar.

“Attitude first! Kalian boleh saja pintar setengah mati, tapi kalau kalian tidak punya sikap, tidak punya etika, kepintaran kalian nggak ada gunanya. Bayangkan kalau kalian bicara di depan, tapi tidak ada yang menyimak kalian, apa kalian tidak sakit hati? Please, behave!”

Saya berbicara pada semua. Tapi, saya yakin ia kena tembak. Sebab, pada pertemuan-pertemuan berikutnya, frekuensinya untuk nyerocos tak karuan, mulai berkurang. Meskipun kekurangajarannya dialihkan pada hal lain, yakni dengan selalu jadi anak pertama yang mengumpulkan tugas di tiap pertemuan, tapi dikerjakan sangat tidak maksimal. Seenaknya.

Saya benar-benar dibuat penasaran. Saya akan obrol empat mata dengannya. Saya ingin tahu apa yang melatarbelakangi dia bersikap demikian. Apakah kurang perhatian? Kurang kasih sayang orangtua?

***

Di kelas lain di tempat berbeda, saya benar-benar terperangah oleh perilaku siswa-siswanya. Mereka sopan sungguh. Tiap kali ketemu, senyum terlempar. Tangan saya dicium. Bicara pun dengan nada santun.

Saat guru mereka lainnya lewat, mereka rendahkan bahu. Tundukkan muka.

Usai salat, mereka berlomba-lomba mencium tangan sang guru. Bahkan, ada yang bentangkan sajadah untuk dilewati sang guru. Alasannya, biar dapat berkah.

Awalnya saya risih dengan sopan tingkat tinggi yang mereka tunjukkan. Saya tak terbiasa, tangan saya dicium oleh siswa. Saya tak terbiasa dengan ini.

“Sudahlah, tak usah begini. Santai saja.”

Saya ingin menyetarakan diri dengan mereka. Biar tidak sungkan. Biar lebih berani. Biar lebih kritis.

Tapi, itu sudah membudaya. Adab sopan santun sudah jadi keseharian mereka. Jadi, tak ada alasan saya untuk membantah dan menggugat mereka. Sebab, itu pun ada landasannya dalam agama. Adab mendahului ilmu. Akhlak itu sangat penting. Kesopanan itu sangat penting.

Dan, setelah cukup lama mengenal mereka dan budaya di mana mereka belajar, saya jadi paham bahwa kesopanan mereka tidak menghilangkan kekritisan mereka. Kesopanan tetap mereka tunjukkan, tanpa mengurangi keberanian mereka dalam mengkritisi suatu hal.

Kiranya, integrasi antara pikiran dan perilaku cukup berhasil ditanamkan oleh lingkungan belajar mereka. Saya nyaman mengajar karena sikap mereka yang sopan. Saya juga tetap bisa menggali sisi kritis mereka dalam berpikir.

Saya kira, dengan peristiwa anak muda yang menghina ulama seperti yang berseliweran belakangan ini di media sosial, di sinilah refleksi saya menemukan tautannya.

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s