Oh My Goodness untuk Al-Furqon

15203260_10154721042179304_5753006020533576474_n

“Creativity is a Habit, not Genetic”.

Itu adalah bab pertama buku Oh My Goodness karya Yoris Sebastian. Saya sengaja membawa buku ini pada Jumat kemarin (25/11) sebagai bekal di kereta api Rapih Dhoho. Saya hendak menunjukkan dan menceritakan isi buku ini pada adik-adik saya di Kelas Menulis Al-Furqon, Ponpes Darul Ulum Jombang.

Buku ini saya beli di Gramedia Manyar saat ada Pesta Buku beberapa minggu lalu. Buku yang cukup lama saya pertimbangkan untuk beli. Saya penasaran dengan isi kepala Yoris. Tapi, banyak buku lainnya yang mengalihkan perhatian saya. Begitu menemukan buku ini di rak Pesta Buku dengan harga yang meneteskan air liur, saya pun tak ragu membawanya ke kasir.

Saya pernah mengintip baca buku Yoris yang lain, 101 Creative Notes, di Gramedia. Saya suka. Buku yang ringan dibaca sebab Yoris memang menuliskannya dengan gaya majalah. Saya kira, ini berkat latihan panjang dirinya sebagai jurnalis di Majalah Hai. Selain itu, Yoris mengolaborasikan keterampilannya yang lain, yakni membuat sketsa ilustrasi. Bayangkan, buku ditulis dan diilustrasi sendiri. Itu keren bagi saya. Mengingatkan saya pada Hugo Cabret karya Brian Selznick.

Kembali pada kalimat yang saya kutip di awal tulisan ini. Kreativitas itu kebiasaan, bukan genetis. Kreativitas itu proses latihan yang panjang, bukan turunan dari orangtua. Dengan kreativitas, hidup seseorang lebih tertunjang. Ia akan lebih fleksibel menghadapi tantangan dan bahagia menjalani hidup. Ia akan lebih jeli dan punya sudut pandang sendiri dalam menikmati hidup. Ia takkan mudah mengeluh. Justru dia bisa melihat banyak kemungkinan dan bisa terlatih untuk mengambil keputusan.

Hal-hal yang sifatnya batiniah inilah yang kerap menjadi bahan bakar saya untuk pulang pergi Surabaya – Jombang tiap Jumat. Merasakan banyak manfaat dari berpikir kreatif, maka saya merasa perlu melatihkannya pada anak-anak muda yang lain. Dan, saya melatihkannya lewat menulis. Lewat kata-kata.

Kendati Jumat kemarin murid saya yang hadir cuma lima, yakni: dua santriwati dan tiga santriwan, namun itu tidak mengurangi semangat saya untuk mengajar. Dengan topik sudut pandang dalam penceritaan, saya ajak mereka berpikir lewat gambar-gambar ilusi optik.

Akhirnya, mereka sampai pada kesimpulan, “Bukan salah dan benar. Ini tentang perspektif. Sudut pandang. Cara melihat.”

Saya ceritakan pula kisah profesor dan tiga orang buta yang saya dapatkan di mata kuliah Filsafat. Eh, ketika saya baca beberapa halaman berikutnya dari buku Oh My Goodness, Yoris ternyata menuliskannya pula. Hanya saja, objeknya bukan gajah, tapi harimau.

Ini membuat saya tak tahan untuk memotret buku ini dan mengunggahnya di Instagram. Saya sebut pula @yorissebastian di sana. Ia berkomentar begini.

“iya saya juga berapapun peserta seminar atau workshop saya yang hadir, tetap saya kasih ilmu saya 100% @laluabdulfatah 🙂 bisa satu saja yang berhasil… saya sudah senang… dan so far sih lumayan banyak yang berhasil.”

Sungguh, saya amat setuju dengan dia. Dulu di kelas menulis angkatan pertama, pesertanya mencapai kurang lebih 28 orang. Saya girang punya murid sebegitu banyak. Seiring perjalanan waktu, satu persatu mereka mundur. Cuma beberapa gelintir yang bertahan. Kurang dari sepuluh orang. Tapi, saya tetap memberikan energi yang sama. Semangat yang sama. Tetap membuat saya berpikir sepanjang perjalanan akan menggunakan metode atau teknik pengajaran seperti apa.

Dan, saya patut bersyukur karena ada satu dua yang tetap terpelihara semangatnya menulis hingga kini. Ia tetap menyapa. Ia mulai merajinkan diri mengunggah tulisannya di blog.

Bagi saya, itu sebuah keberhasilan.

Jadi, tiada beban bagi saya untuk membut banyak anak suka menulis. Satu atau dua saja yang ‘jadi’, itu patut saya syukuri. Selebihnya, saya mencoba berpikir positif bahwa saya setidaknya telah menanamkan ‘sesuatu’ pada diri anak-anak. Mungkin saat ini mereka belum merasakan hasilnya, tapi nanti. Nanti.

Ibaratnya petani yang sabar menanti panen, saya pun harus demikian. Meminjam kesabaran dan keuletan petani.

Iklan

4 thoughts on “Oh My Goodness untuk Al-Furqon

  1. Selalu suka buku2 mas Yoris ini.
    Secara personal, mas Yoris ini memang sosok yang menyenangkan dan penuh inspirasi. Semoga melalui Lalu, buku ini bisa membawa manfaat bagi semakin banyak anak muda lagi

    • Aamiin… Makasih, Mbak Dian. Demikian misi saya, Mbak. Setidaknya bisa cerita-cerita dulu sisi menarik sebuah buku. Bahkan, tak jarang kisah personal sang penulis pun saya selipkan biar mereka makin terlecut berkarya 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s