Kembali Menulis Puisi

Mengamati gerak sebuah penerbit yang belakangan ini rajin menerbitkan buku-buku sastra, khususnya kumpulan cerpen dan puisi, saya merasa dibangkitkan. Saya ingin punya buku kumpulan puisi juga.

Oke, ini bukan ikut-ikutan semata. Tapi, saya sungguh kangen bisa menerbitkan buku solo lagi setelah 5 tahun Travelicious Lombok hadir di tengah pembaca. Saya sempat terpikir menulis buku traveling lagi. Saya sudah ancang outline yang terdiri atas judul-judul. Tapi, saya merasa pengalaman traveling saya masih kurang. Tepatnya, penghayatan saya mesti diperdalam lagi biar tulisan saya lebih berkembang. Biar tulisan saya bisa lebih mengendap di benak pembaca.

Sebab, saya bosan menulis buku semi-guiding. Dengan akses informasi yang begitu cepat saat ini, orang lebih cepat mencari apa yang mereka butuhkan via Google. Orang-orang bermain smartphone. Tanya di grup media sosial, di grup WA, di blog orang, dan kanal-kanal lainnya di internet, sudah jadi top list on their minds.

Ya, saya ingin menulis dalam gaya naratif yang lebih kontemplatif. Bertutur dan ada sisi perenungannya. Saya merasa itu gaya yang pas buat saya. Lebih cocok saja, rasanya. Saya lebih tertarik untuk mengulik hal-hal ‘kecil’ dengan gaya seperti itu.

Namun, saya hingga detik ini, masih terus menghimpun renik-renik kisah perjalanan saya. Saya ungkap secara singkat lewat media sosial saya. Lantas, jika waktu lebih lowong, saya perpanjang versinya di blog. Kelak, saya pikir, itu bisa jadi semacam gudang ide yang siap dikembangkan jadi versi buku.

Bagaimanapun, saya masih tetap terobsesi menulis buku solo kedua. Sudah cukup kenyang juga menulis buku antologi, kendati tidak menolak jika proyek antologinya menggiurkan adrenalin.

Sementara untuk saat ini, yang ada di kepala saya adalah menulis buku puisi dan cerpen. Mungkin saya sejauh ini dikenal sebagai penulis buku perjalanan karena memang itulah yang mendominasi jejak kepenulisan saya lima tahun belakangan ini. Tapi, sebelum itu, saya sebenarnya menulis puisi dan cerpen. Itu saya lakukan sejak SMP. Dan, saya kangen itu.

Sebab, punya buku kumpulan cerpen adalah cita-cita pertama yang ingin saya gapai di usia 18 tahun. Meski pada kenyataannya belum kesampaian. Karena ternyata buku traveling-lah yang pertama kali saya golkan. Tapi, saya masih menyimpan cita-cita itu.

Saya hanya terpacu saja kala membaca profil para penulis yang selama hidupnya, menulis aneka genre. Ya, catatan jurnalistik, puisi, kumpulan esai, novel, kumpulan cerpen, dan sebagainya. Bagi saya, itu tidak sekadar gagah-gagahan. Tapi, itu sebuah implementasi dari gagasan yang sebelumnya bercokol di kepala.

Jadi, apa yang telah saya lakukan untuk pelan-pelan mewujudkan itu semua? Saat ini, saya memulainya dengan kembali menulis puisi. Saya panggil kenangan-kenangan lama saya kala bergelut dengan puisi. Mulai dari ikut lomba baca puisi saat SD hingga SMA, keranjingan menyalin puisi para penyair saat SMP untuk tugas bahasa Indonesia, menjuarai lomba menulis puisi tingkat pelajar SMA/MA se-NTB, juga ketika puisi-puisi saya dimuat di Majalah Sabili yang jadi langganan saya kala SMA hingga awal kuliah.

Itulah beberapa memori yang coba saya kais sebagai pembuhul  semangat memulai proyek ini. Jika dulu saya terbiasa mengetiknya di Ms. Word, kini saya mencoba menulisnya langsung di surel. Ya, lagi-lagi saya harus berterima kasih pada koneksi internet. Saya bisa melakukannya di mana saja ketika inspirasi datang. Tinggal buka Gmail, saya bisa langsung menulis puisi. Saya kirim. Tersimpanlah di surel.

Dan, saya ogah menghitung. Tulis dan lupakan. Tulis yang baru, terus demikian. Saya hanya mencoba menambahkan dari naskah puisi saya sebelumnya. Saya akan tulis hingga saatnya nanti layak dibukukan.

Adakah yang akan membaca? Kan buku puisi jarang sekali laku?

Ah, saya tidak peduli. Saya hanya ingin berkarya. Saya hanya ingin karya saya termaktub dalam lembaran-lembaran buku. Tak lebih.

12187662_10153678918939304_1816157060400545321_n

Oke. Saya juga terobsesi bisa hadir di UWRF sebagai panelis. Katakanlah, menulis buku puisi sebagai ikhtiar saya menuju situ. 

   

Iklan

4 thoughts on “Kembali Menulis Puisi

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s