Membacakan Sepeda Merah untuk Puspa

Tadi malam sekitar pukul 7 di Kampung Inggris Pare, Kediri. Gerimis kecil turun. Setelah melewati jalan kampung dan gang, saya tiba juga di tepi jalan raya. Saya menyusuri trotoar dan memilih berhenti di sebuah warung untuk menunggu bus Rukun Jaya tujuan Surabaya.

“Sudah makan, Mas?” tanya ibu warung.

Ragu saya menjawab, “Sudah, Bu,” meskipun hati kecil saya bilang kalau tidak enak nih mampir di warung orang tanpa ngemil atau sekadar minum. Saya celingak-celinguk melihat menu.

“Pesan mi goreng ya, Bu. Minum jeruk hangat.”
Di bangku kayu, saya duduk. Sambil menunggu, mata saya terus awas pada lalu-lintas jalan. Menatap ke barat, arah datangnya bus.

Saat mi goreng hampir terhidang, Rukun Jaya lewat. Wah, semoga ada bus berikutnya. Sebenarnya saya agak ketar-ketir kalau tidak dapat bus. Ingin saya segera balik ke Surabaya. Biar esok (pagi ini) segar ke kantor dan mengerjakan tugas yang bejibun menunggu.

“Masih ada kok, Mas. Sampai sekitar jam 9,” tutur si ibu dan bapak warung mengademkan saya. Baik, saya coba percaya. Mereka orang Pare. “Ini karena hujan, makanya busnya lama.” Oke, ada secuil persen masuk akal.

Saya menyegerakan habiskan mi goreng dan jeruk nipis hangat. Biar kala bus sudah tertangkap dari kejauhan, saya tak terburu-buru untuk bayar dan berterima kasih.

Mi goreng saya tandas. Waktu sudah berjalan hampir setengah jam. Bus tak kunjung tampak. Obrolan pun kami alirkan.

Sudah agak bosan, sementara ibu warung melayani beberapa pembeli yang datang, saya keluarkan Sepeda Merah #1 karya komikus Korea Selatan, Kim Dong Hwa. Komik dengan gambar yang bagus dan cerita yang menawan.

Beberapa halaman baca, saya tak sadar ketika seorang gadis cilik mendekati saya.

“Buku apa itu? Lihat!”

Gadis yang akhirnya saya ketahui bernama Puspa, usia 6 tahun, putri tunggal ibu dan bapak warung, itu dengan cepat memindahtangankan komik itu. Ia duduk di sebelah kanan saya. Wah, anak ini percaya diri sekali.

Ia sibuk membolak-balik halaman komik dan mulai membaca bagian yang ia suka. Ia membaca dengan suara keras.

Jpeg
Lancar juga. Pelan-pelan ia baca. Saya menyimak dan memancingnya dengan pertanyaan-pertanyaan.

Cukup lama ia membaca. Orangtuanya senyum-senyum melihat kami.

“Ini siapa yang meninggal?” tanyanya kala melihat gundukan kuburan dengan nisan di salah satu bagian goresan Kim Dong Hwa.

“Nggak tahu. Coba baca dulu ceritanya dari halaman sini. Dari baliknya,” ujar saya.

“Ayooo, kasih tahuuu!”

” Lho, cari tahu sendiri dong! Baca dulu makanya.”

Ia manut. Membaca pelan-pelan.

16300368_10154961654579304_8184841836689606665_o

Puspa (6 tahun) membaca Sepeda Merah karya Kim Dong Hwa dengan suara keras

Tiba saatnya ia bosan dan berkata pada saya, “Ayo bacain! Aku capek.”

Dengan wajah memohon, ia masih duduk santai di dekat saya.

Saya pun dengan senang hati mulai membacakan. Ia sendiri yang memilih halaman mana yang ia mau.

Kala tempo saya agak cepat, ia lekas memprotes dengan suara tajam. “Bacanya pelan-pelan!”

Oh, baiklah, anak cerdas.

Dari tuturan ibunya, saya tahu kalau si Puspa saat ini masih TK Besar. Tengah tahun ini masuk SD. TK-nya cuma berjarak 3 rumah. Sementara teman-temannya yang lain masih ditunggui orangtunya, Puspa justru lebih senang berangkat dan pulang sendiri. Percaya diri dan berani? Terlihat sekali.

Sementara teman-teman sebayanya masih Iqro 2 dan 3, di tempat ngaji Puspa sudah hampir menamatkan Iqro 5. Tinggal satu halaman lagi.

Ibunya cerita kalau putri semata wayangnya itu suka corat-coret. Beli peralatan tulis dan rajin menggarap tugas-tugas yang diberikan gurunya di sekolah.

Kalau ia diserahi uang untuk belanja, ia akan kembalikan kembaliannya pada sang ibu, dengan memberi penjelasan bahwa uangnya dipakai untuk beli A, B, C, juga beli permen atau makanan kecil.

Mendengar kisah ibunya, sungguh saya seperti bercermin dengan diri masa kecil saya.

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s