Pagah

Sejak kecil, saya mendapat cap sebagai anak yang keras kepala. Kalau dalam bahasa Sasak, bahasa ibu saya, disebut ‘pagah’. Bahkan, ada satu ungkapan khas Sasak terkait ini, yakni ‘Pagah Praya’ alias keras kepala seperti orang-orang Praya. Praya ini ibu kota Lombok Tengah. Ia mewakili karakter khas orang-orang Lombok Tengah yang keras kepala, beradu argumen, dan tidak mau kalah.

Bagaimana tidak, bapak saya adalah orang Lombok Tengah tulen. Tepatnya dari Desa Tanak Awu, amat dekat dari Bandara Internasional Lombok.

Bapak saya menikahi ibu saya yang orang Lombok Timur yang stereotipenya tidak sekeras kepala orang Lombok Tengah. Makanya, dengan darah Lombok Tengah yang mengalir dalam diri saya, tak heran jika karakter ‘pagah’ saya tersebut kerap disangkutpautkan dengan kekeraskepalaan bapak saya. Dan, dalam hal-hal tertentu, umpamanya sikap dan prinsip, saya membenarkan adanya karakter keras kepala bapak saya. Apalagi menilik latar belakang pendidikannya sebagai lulusan sarjana hukum, bapak saya memang kuat beradu argumen. Dia juga kuat baca. Kecintaan saya membaca diturunkan lewat beliau.

Ini tentu saja jalin-menjalin. Suka membaca sejak kecil, saya peka dengan bahasa (alias kecakapan linguistik lumayan), dan lingkungan sekitar membentuk opini di alam bawah sadar saya bahwa saya pintar, itu menjadi sebuah bentukan mental dalam diri saya. Saya akan punya alasan untuk tindakan yang saya lakukan. Dengan pengetahuan yang saya dapatkan, saya tahu beberapa hal, itu menjadi sebuah kekuatan. Maka, belakangan ini saya meyakini ungkapan bahwa knowldege is power. Pengetahuan itu kekuatan. Bahkan, dengan kekuatan, orang bisa mendominasi satu sama lain. Bangsa yang merasa dirinya sudah mencapai taraf kebudayaan yang adiluhung (karena aspek penguasaan ilmu), bisa melakukan hegemoni terhadap pihak lain.

***

Di dalam kata ‘pagah’ ada sebuah usaha, kuat-kuatan berargumen. Itu pastinya perlu didukung oleh penguasaan informasi. Dan, dengan pola didikan seperti itu dalam keluarga, yakni banyak membaca, suka belajar, maka tidak heran jika pelan-pelan karakter ‘pagah’ itu terwarisi ke saya.

Saya kerap mendebat orangtua, terutama ibu saya. Saya memiliki kesombongan ala anak kecil, atau mungkin tepatnya keegoisan, bahwa saya lebih pintar daripada ibu saya. Ini serius. Dulu, dengan segala kecupetan berpikir, saya pernah anggap ibu saya sebagai orang yang kurang berpendidikan. Oke, ibu saya memang tidak kuliah. Beliau hanya lulusan aliyah. Dan, dengan kesombongan karena nilai akademik bagus, saya terkadang bercanda kalau ibu saya kurang berpendidikan. Meski beliau kerap menampik kalau dulunya jago matematika (dan saya akui ini karena beliau pintar berdagang, tidak kayak bapak saya yang seorang PNS). Kalau ibu saya tidak pintar matematika, coba bayangkan, bagaimana mungkin beliau bisa mengatur keuangan rumah tangga? Punya anak sembilan dengan suami PNS? Nah, di situlah saya harus bersyukur dan kalau bisa menyungkurkan diri untuk minta maaf pada beliau kalau saya pernah semena-mena mencandai beliau kurang berpendidikan (dasar anak kurang ajar saya ini!)

***

Belakangan ini, dengan membaca buku-buku tentang kreativitas, saya menemukan istilah ‘persisten’. Gigih. Saya melihat kata ini berkorelasi erat dengan kata ‘pagah’. Seorang yang keras kepala, setidaknya gigih mempertahankan argumennya. Kegigihan ini tentu saja  tidak hanya dalam ranah adu argumen saja, tapi juga berlaku untuk konteks yang lebih luas, semisal: bagaimana menjalankan hidup sehari-hari. Gigih untuk belajar, gigih untuk berusaha, gigih untuk menggapai cita-cita.

Dan, dalam beberapa hal tertentu, saya melihat diri saya seperti itu. Utamanya dalam meraih cita-cita.

Saya terbilang ‘keras’ dalam hal ini. Saya akan mengejar apa yang menjadi impian saya. Kalau istilah Ahmad Fuadi, penulis trilogi Negeri 5 Menara, perlu berjuang di atas rata-rata. Dan, untuk hal yang benar-benar menjadi impian saya, saya melakukan itu.

Konsekuensinya memang banyak. Risikonya pun tidak sedikit. Mungkin yang paling legendaris sejauh usia ini adalah lamanya saya lulus kuliah. 7,5 tahun menyandang status mahasiswa. Itu tak lain karena saya gigih mengejar impian saya.

Memang, apa impian saya? Menjadi penulis. Saya memasuki lika-liku lorong apa pun, selalu saya upayakan kaitkan dan ikatkan dengan menulis. Saya pernah membayangkan kerja jadi jurnalis, jadi editor di sebuah penerbitan, jadi pengajar. Dan, saya alhamdulillah pernah melakoninya. Bahkan, kini di tempat saya mengajar penulisan kreatif, Iwec, saya melakukan hampir semuanya. Ya, mengajar, menulis, menyunting naskah, berpromosi, membawakan acara, bekerja sama dengan ilustrator, desainer, juga percetakan. Satu lagi, mempelajari bagaimana sebuah institusi didirikan dan dikembangkan.

Mengingat ucapan seorang direktur sebuah sekolah profesi di Surabaya yang saya anggap mentor saya, “Anggap setiap tempatmu bekerja adalah sekolahmu. Tidak semata bekerja, tapi belajar.”

Dan, itu sungguh nikmat! Sungguh. Nikmat dengan segala suka dan dukanya.

lalu2

 

Iklan

One thought on “Pagah

  1. Keras kepala, ‘kadang’ diperlukan untuk mewujudkan impian. Saya punya sifat itu, tapi tidak ditunjang dengan ketekunan untuk fokus di satu bidang. jadinya, seperti sekarang. semua ingin dipegang, tapi setengah-setengah.

    Beruntunglah Fatah, dari muda sudah tahu apa yang dimau. Dan menyusuri lika-likunya dengan bahagia. Dan saya, turut bahagia membaca kisahmu.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s