Laki-Laki yang Menangis Itu Lemah?

 

Ini kampanye yang menarik dari AJ+. Di Australia sana, 75% yang meninggal akibat bunuh diri adalah laki-laki. Kenapa laki-laki? Karena ketika jiwa mereka tertekan, lingkungan sosial mereka memaksa mereka untuk tetap menunjukkan sisi maskulin. Jangan sampai menangis. Jangan sampai mengeluarkan emosi alamiah untuk mengeluarkan air mata.

Padahal, bayi laki-laki dan bayi perempuan sama-sama lahir dalam kondisi menangis. Saat balita juga, baik balita laki-laki maupun perempuan, menunjukkan keinginan mereka lewat suara rengekan dan tangisan. Lantas, kenapa ketika semakin dewasa, laki-laki dilarang menangis? Laki-laki yang menangis dianggap cengeng? Tidak maskulin? Dianggap lemah?

Inilah sakit pikiran. Inilah salah kaprah dalam memandang perkara. Coba simak video di bawah ini baik-baik.

Saya membagikan ini karena teringat seminggu yang lalu, saat peluncuran buku anak-anak murid saya, saya tak kuasa untuk tak menangis di depan salah satu orangtua murid. Di hadapan saya, ada juga dua ustazah dari SD si murid. Saya menangis, lebih pada meluapkan emosi saya, karena teringat ayah saya yang sudah tiada. Saya teringat juga pada adik saya yang masih kecil. Ayah saya membuat saya cinta dengan buku dan kini saya menjadi penulis buku. Sementara, saya teringat adik saya karena merasa saya belum maksimal melatih dia menulis cerita. Jadi, yang saya lakukan adalah dengan membelikan dia buku-buku untuk dia baca. Saya berkeinginan kuat melanjutkan tradisi membaca yang diwariskan oleh almarhum bapak saya.

Waktu peluncuran buku di De Oak itu, saya hanya sampaikan ke orangtua murid ini agar semangat si Kiki (murid saya) dalam menulis, tetap dijaga. “Dia jago menulis dongeng. Kalau bisa, dia harus tetap berkarya, membuat dongeng. Jaga semangatnya, ya, Bunda!”

Saya puji pula si Kiki di hadapan ustazahnya. Sekalipun Kiki anak yang introver, tapi dia jago menulis. Ia bercerita dan berceloteh dengan lincah lewat tulisannya. “Tolong, jaga dan terus dukung dia!”

Ini Kiki, murid saya yang introver, tapi jago menulis!

Dan, di situlah, saking bangga sekaligus terharunya saya, 18 bulan menemani si Kiki dan teman-temannya belajar, saya tak bisa menahan diri untuk menangis di hadapan tiga perempuan di depan saya.

Saya sudah tak peduli lagi pada anggapan bahwa menangis menunjukkan kelemahan. Justru dengan menangis, saya merasakan dada saya lebih lapang. Lebih lega. Saya telah meluapkan emosi saya.

Semoga kian banyak yang paham bahwa tak masalah laki-laki itu menangis.

“Crying does not mean a person is weak, but it means a person has a heart.” (Abhishek Tiwari)

 

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s