Mengikuti Perjalanan Ajaib Edward Tulane

 … Hati yang paling rapuh sekalipun dapat belajar menyayangi, kehilangan, dan menyayangi lagi. (Kate DiCamillo)

edward-tulane

Saya baru saja selesai membaca “The Miraculous Journey of Edward Tulane” karya Kate Dicamillo. Buku untuk anak-anak tersebut saya pinjam dari rekan mengajar saya di IWEC. Sudah lama saya tertarik membacanya. Lewat rekomendasi teman juga tulisan yang saya baca di blog. Namun, saya baru kesampaian baca pada Februari 2017.

Selama membaca, saya berkali-kali tertawan oleh sampulnya. Cokelat hangat. Memang, itulah nuansa yang hadir di benak saya selama membaca novel ini. Saya baca beberapa bab, saya kembali menengok sampulnya.

Saya juga tertawan oleh ilustrasi-ilustrasi per bab garapan Bagram Ibatoulline. Sangat klasik. Kalau saya tak salah, itu lukisan cat minyak. Saya menelusuri detail-detailnya. Bagaimana gelap terang ilustrasi digoreskan dengan begitu apik oleh Bagram. Buku yang sungguh memikat.

Kalau menengok Wikipedia, buku ini termasuk genre Young Adult. Saya kira memang pas. Karena dibilang buku anak pun, sebenarnya kurang tepat. Dibaca oleh remaja, oke. Dibaca oleh orang dewasa? Boleh sekali. Cocok untuk segala usia.

Sebab, jika saya perhatikan, beragam tokoh dihadirkan oleh Kate DiCamillo dalam novel ini. Itu menggambarkan kehidupan nyata kita. Orang-orang hadir silih berganti. Entah tua muda, laki-laki perempuan, dengan kelas sosial beragam. Saya seperti dihadapkan pada cermin besar selama mengikuti perjalanan ajaib si Edward.

Ada kesombongan-kesombongan ala anak muda yang keluar dari diri Edward. Ada pekik suasana hati yang pelik. Ada ketakjuban pada diri sendiri. Ada kesedihan. Ada kegembiraan yang meluap-luap. Ada perasaan syahdu. Ada marah. Getir. Kecewa. Dan ragam emosi lainnya. Semuanya komplet dihadirkan oleh Kate melalui tokoh Edward.

Pada bagian akhir, terutama ketika boneka perempuan berusia 100-an tahun berkata pada Edward, “Buka hatimu. Akan ada yang datang, akan ada yang datang menjemputmu. Tapi kau harus membuka hatimu dulu”, saya seperti diingatkan. Ya, Edward Tulane pada akhirnya kembali bertemu dengan gadis kecil yang dulu menjadi ‘tuan’nya, yakni Abilene. Abilene yang sayang pada Edward, begitupun sebaliknya. 

Namun, belajar menyayangi dan belajar disayangi bukanlah hal yang mudah. Sebab, jika hati terlalu kuat ditautkan pada sesuatu atau seseorang, dikarenakan oleh perasaan sayang, maka harus bersiap-siap untuk kecewa. Orang akan berubah atau cara pandang kita yang berubah. Tak ada perasaan yang benar-benar kekal. Sama selalu. Konstan. Tidak ada. 

Maka, akrobatik emosi yang dialami oleh Edward adalah cerminan yang halus sekali. Semua orang pasti pernah mengalami emosi yang dirasakan oleh Edward. Tentu dengan aneka kejadian atau peristiwa yang dialami seseorang. Namun, tidak semua orang berani menjalani naik turun emosi itu. Tidak semua orang sanggup untuk bertahan. Maka, kepasrahan adalah pilihan terakhir setelah ikhtiar-ikhtiar ditempuh.

Pelajaran lainnya yang saya dapatkan adalah bahwa si Edward, boneka kelinci berbahan porselen, sesungguhnya adalah perumpaan dari hati itu sendiri. Bisa tampak mengkilap dan kuat di satu sisi, tapi juga rapuh. Apalagi jika terkena benturan-benturan, maka hati pun akan ikut terkocok.

Betapa halusnya cara seorang Kate DiCamillo bermain metafora dalam karya setebal 188 halaman ini. Penulis yang cerdas dan halus perasaannya. Sebuah karya yang saya rekomendasikan bagi siapa pun untuk dibaca. Karya yang layak dikoleksi dan dibaca berkali-kali.

Iklan

5 thoughts on “Mengikuti Perjalanan Ajaib Edward Tulane

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s