Belajar Berpikir Seperti Orang Autis

Apa yang membuat Anda resah hari ini? Coba urai dengan menuliskannya. Awalnya mungkin seperti mencoba mengurai gulungan benang yang ruwet. Tulisan Anda akan terbaca seperti lompat sana, lompat sini. Susah dinikmati.

Memang, tujuan utamanya bukan untuk dinikmati laiknya membaca buku yang telah disunting baik. Tujuannya adalah untuk melepaskan energi kegelisahan. Energi resah. Kemumetan pikiran.

Ini biar Anda tidak jatuh pada depresi. Sebab, banyak yang tidak mampu mengontrol dan mengelola depresinya, akhirnya berujung pada hal-hal yang tragis atau kurang menyenangkan didengar kemudian hari.

Saat ini saya sedang riset bahan artikel untuk situs tempat saya bekerja. Terkait hari Autisme Sedunia yang jatuh pada 2 April lalu. Saya mencoba mengaitkan, apakah ada para penulis terkenal yang juga mengidap autisme? Itu pertanyaan yang muncul di benak saya sebagai bahan awal melakukan penelusuran di dunia maya. Dan, saya tak menyangka kalau Hans Christian Andersen, James Joyce, Henry David Thoreau, George Orwell, Sir Arthur Conan Doyle, Emily Dickinson, dan Lewis Carroll adalah para penulis tersohor yang mengidap autisme.

George Orwell

George Orwell, penulis yang tersohor dengan karyanya ‘1984’ dan ‘Animal Farm’ adalah seorang autis. Sumber: https://writingasiplease.wordpress.com

Mereka orang-orang yang istimewa. Perkembangan syaraf yang terganggu membuat mereka mengalami kesulitan dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Mereka jadi kaku dalam bersikap,  sulit mengekspresikan isi pikiran mereka secara verbal, sensitif, melakukan satu hal yang mereka sukai secara berulang-ulang, terlalu fokus.

Namun, Tuhan memang Mahaadil. Dalam keterbatasan yang dimiliki oleh orang-orang autis, Ia menitipkan pula keistimewaan. Gen kreatif yang ada dalam diri mereka, menjadikan mereka bisa sukses menjadi penulis, ilmuwan, politikus, model, pelukis, musikus, aktor, sutradara, dan beragam profesi kreatif lainnya. Jangan tercengang kalau para pesohor berikut ini diketahui mengidap autisme: Charles Darwin, Albert Einstein, Wolfgang Amadeus Mozart, Andy Warholl, Tim Burton, Sir Isaac Newton, Courtney Love, Heather Kuzmich,  Thomas Jefferson, dan Michelangelo.

Albert Einstein

Orang mengenalnya sebagai ilmuwan jenius. Tapi, mungkin masih sedikit yang mengetahui kalau Albert Einstein adalah pengidap autisme. Sumber: deviantart.com

 

Keistimewaan dalam hal berpikir kreatif ini, memang menonjol sekali pada sosok-sosok autis. Kalau Anda membaca dongeng-dongeng karya Hans Christian Andersen, tidakkah Anda terpukau dengan keliaran imajinasi sang pengarang? Little Mermaid, The Ugly Duckling, Thumbelina, The Snow Queen, dan deretan dongeng lainnya sungguh banyak memukai dan mewarnai masa kecil orang-orang di berbagai penjuru dunia.

Bagi penggemar cerita detektif, tentu familier dengan serial Sherlock Holmes. Bahkan, serial ini sudah difilmkan dengan bintang Robert Downey Jr. dan Jude Law. Penulisnya, Sir Arthur Conan Doyle, tidak bisa kita sangsikan lagi seorang yang jenius. Ia bisa menebar premis atau petunjuk yang membuat pembaca menerka-nerka ujung atau kesimpulan dari misteri yang tengah dipecahkan. Kalau bukan seorang yang kreatif dan kritis, tentu takkan mampu ia menciptakan kisah-kisah misteri seperti itu. Dan, ya, faktanya, Doyle seorang autis.

sir-arthur-conan-doyle

Sir Arthur Conan Doyle adalah sosok di balik kelahiran karya-karya brilian ‘Sherlock Holmes’. Sama seperti Hans Christian Andersen, ia pengidap autisme. Sumber: thefamouspeople.com

Bagaimana keterkaitan autisme dengan kreativitas? Mengapa orang-orang autis di atas bisa menjadi jenius kreatif tersohor di bidang mereka?

Rupanya ini telah dikaji oleh para pakar psikologi. Dalam  Journal of Autism and Developmental Disorders terungkap bahwa anak-anak autis cenderung memikirkan sesuatu dengan cara berbeda. Mereka memang menghasilkan sedikit ide dibandingkan anak-anak ‘normal’ lainnya dalam penelitian tersebut, tapi ide anak-anak autis jauh lebih orisinal. Ini kemungkinan dikarenakan mereka mengalami kesulitan dalam memahami apa yang dipikirkan orang lain. Mereka tidak takut untuk berbeda dengan orang kebanyakan. Sehingga, hasilnya adalah ide-ide yang tak terduga.

Saya setuju dengan pernyataan Dr. Martin Doherty, psikolog dari England’s University of East Anglia yang menjadi penulis utama studi tersebut. Bahwa orang-orang autis layaknya kita pandang sebagai sosok-sosok yang ‘berbeda’, bukan sosok yang mengalami kekurangan. Dengan begitu kita pun bisa melihat keberadaan mereka dari sudut pandang yang positif. Kita bisa lebih menghargai cara berpikir mereka yang berbeda.

Sebab, dengan menelusuri jejak para pesohor di atas, mereka meninggalkan karya-karya juga limpahan inspirasi bagi generasi berikutnya.

Sanggupkah kita belajar berpikir ala mereka?

Iklan

One thought on “Belajar Berpikir Seperti Orang Autis

  1. kayaknya sulit juga ia, karena terkadang kita juga banyak berfikir terkait anggapan Orang lain jadi semacam ada sedikit batasan/sekat berfikir.
    semoga aja kita semua bisa selalu berfikir kritis dan kreatif ….

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s